in ,

Dongeng KPK

Saya kira Saut Situmorang benar-benar mengundurkan diri dari pimpinan KPK, lha ternyata hanya cuti untuk mendongeng to?

Begitu kira-kira kesan menggelitik saya ketika Pak Saut manggung di Amphi Teater Panggung Sekolah Hutan Pinus Sari Mangunan Yogyakarta dalam rangka Pagelaran Dongeng Jogja ke-5 (PDJ5) pada hari Ahad, 15 September 2019.

Rona Mentari, penggagas Rumah Dongeng Mentari, dalam salah satu caption postingan instagramnya menceritakan pengalaman mendongengnya kepada anak-anak TK. Saat itu Rona bertanya perihal cita cita, dan diantara jawaban cita-cita yang sudah biasa seperti polisi, dokter, pilot, dsb itu ia mendapati jawaban yang mengejutkan. Ya, salah satu anak TK itu memiliki cita-cita menjadi koruptor! Tentu, apa yang dicita-citakan oleh anak tersebut hasil dari apa yang ia lihat. Bisa saja, ia melihat kehidupan koruptor sebagai kehidupan yang terlihat mapan, aman, dan sejahtera.

Semenjak kejadian tersebut, Rona dan tim relawan Rumah Dongeng Mentari semakin giat menyerukan dan menanamkan banyak hal baik lewat mendongeng. Salah satu hal baik tersebut adalah edukasi anti korupsi. Berbeda dengan PDJ tahun-tahun sebelumnya, PDJ5 bekerjasama dengan KPK dan mengusung tag line acara “Menyemai Benih Integritas: Pagelaran Dongeng Jogja’19 Gemah Ripah Loh Critane”.

Pak Saut Situmorang, sebagai Wakil Ketua KPK sekaligus mewakili KPK menjadi penutur, bergabung bersama para penutur nasional seperti Pak Bagong, Kak Awam, dan teman-temannya dalam acara tersebut. Siapa sangka, beliau yang selama ini cenderung serius dan berhadapan dengan para koruptor-koruptor, pada momen tersebut beliau begitu cair dan menyenangkan berhadapan dengan para ratusan anak kecil, remaja, ibu, bapak, simbah dan seluruh jajaran masyarakat. Ia menuturkan dongeng perihal integritas. Lewat dongeng Zimba dan Humbaya, Pak Saut menyisipkan 9 nilai integritas (jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil). Beliau menegaskan, 9 nilai tersebut merupakan satu kesatuan, tidak bisa dipisahkan. Misalnya saja, ada seseorang yang peduli, disiplin, sederhana, tapi tidak berani, ya sama saja. Masing-masing nilai tersebut, Pak Saut jabarkan dengan contoh sederhana kebiasaan sehari-hari seperti berani sikat gigi di malam hari, disiplin merapikan tempat tidur di pagi hari, peduli dengan saling tolong menolong antar sesama, bertanggung jawab menjadi pahlawan bagi orang tua, dsb. Selain lihai mendongeng, di atas panggung PDJ5 Pak Saut juga lihai memainkan saxophone sembari menyalurkan energi kasih sayang kepada anak-anak.

Kemudian saat diwawancarai oleh beberapa pers, Pak Saut menyatakan bahwa edukasi nilai integritas tidak cukup hanya dilakukan satu kali. Tentu harus berkali-kali seperti sikat gigi. Bersamaan dengan momen tersebut, beliau juga memberikan buku panduan dongeng 9 nilai integritas KPK kepada perwakilan masyarakat hutan pinus sari sebagai kenang-kenangan.

Pak Saut mengakhiri sesi mendongengnya dengan kalimat candaan sekaligus harapan.

“Kalau sudah saatnya saya mundur dari KPK, saatnya saya menjadi pendongeng. Semua pasti sudah dipertimbangkan, tapi semoga KPK tidak menjadi Dongeng”

Gelak tawa dan riuh tepuk tangan menggelegar dari seluruh audiens dewasa. Mungkin, audiens cilik yang rata-rata duduk tepat di depan panggung sambil dielus Pak Saut sembari meninggalkan panggung, cuma bisa mbatin “Apa hubungannya sama Zimba dan Humbaya pak?”

Penulis: Fadhlinaa A.

Illustrator: Ni’mal Maula

Kuy bagikan :)

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Menyelami Samudra Milik Hindia

Fikih Toleransi: Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu