in

Berpacaran dengan Buku

Sejarah telah mencatat bahwa sebagian besar para tokoh berjasa di Indonesia lahir dari rahim kaum muda terpelajar. Inspirasi dan ide yang muncul dari kepala mereka datang dari pemikiran dalam buku-buku yang mereka baca kemudian mereka praktekan dalam kehidupan. Tidak lupa pula mereka tuangkan kembali ide-ide mereka ke dalam sebuah catatan dan narasi di dalam buku untuk menyalurkan pemikiran mereka ke publik.

Mestinya kita telah membaca tulisan-tulisan dari mereka di buku dan lainnya atau juga kita telah sampai mengoleksi tulisannya sebagai bentuk mencintai dan memacarinya. Sebut saja barisan tokoh itu ada Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, BJ. Habiebie, Abdurrahman Wahid dan tokoh lainnya.

Yang lebih menarik lagi, berpacaran dengan buku seperti halnya berpacaran ala manusia. Bayangkan apa jadinya bila ada anggapan bahwa “buku bisa membuat seseorang terbunuh” adalah nyata?

Seorang profesor bernama Bluma yang selalu mengabdikan hidupnya pada sastra, tak pernah membayangkan bahwa sastra menjadi penyebab kematiannya. Akibatnya, rekan satu universitas sekaligus kolega yang harus menggantikan peran Bluma, harus memulai perjalanan misterius untuk mencari kebenaran isu kematian Bluma sekaligus mengembalikan sebuah paket berisi sebuah buku misterius dari Uruguay.

Perjalanan penuh tantangan harus dialami si tokoh utama. Ia lantas bertemu dengan banyak orang yang berhubungan dengan Bluma sebelum ia meninggal. Mulai dari kolektor buku yang ulung, hingga orang-orang yang tahu tentang jejak keberadaan Carlos Brauer, pemilik buku misterius tersebut. Lebih lanjut kisah menariknya bisa di baca lebih lengkap lagi di dalam buku berjudul “Rumah Kertas” tulisan Carlos Maria Dominguez dan diterjemahkan Rony Agustinus dengan penerbit Marjin Kiri.

Terus gimana sih caranya kita bisa mencintai dan berpacaran dengan buku layaknya mereka? Ada beberapa cara dan strategi yang harus di kuasai nih, sobat Milenialis! Apa aja sih? Yuk, check this out~

1. Mencari tahu minat atau hobi kita apa, kemudian mencari buku yang berhubungan dengan minat dan hobi kita itu, setelah mendapatkannya bisa kita baca langsung.

2. Meluangkan waktu tertentu (khusus) untuk digunakan membaca. Setengah jam sebelum tidur bisa. Sebelum melakukan aktivitas pagi atau berangkat bekerja bisa. Pas nongkrong atau makan siang pun juga bisa. Dan bisa memanfaatkan semua waktu luang yang kita miliki.

3. Kita bisa membaca lebih dari satu buku dalam kurun waktu tertentu. Pasti pernah kita alami ketika dalam sehari mood selalu berubah-ubah. Sementara adanya perubahan itu akan cepat merubah minat kita termasuk kegiatan membaca kita. Maka, kalau seperti itu kita bisa membeli buku sesuai minat kita itu lebih dari satu. Kenapa? Karena saat suasana hati yang sedang berubah dan membuat minat kita ketika membaca satu buku itu berubah juga, hal ini bisa diatasi dengan membaca buku yang lain dan jangan lupa menandai bagian terakhir buku yang telah kita baca.

4. Kita bisa menandai bagian tulisan menarik di buku yang telah di baca dan kemudian bisa dijadikan bahan kajian diskusi dengan beberapa orang atau secara berkelompok. Setidaknya tulisan itu bisa dijadikan bahan obrolan bersama agar selalu diingat. Kemudian bisa kita tulis kembali hasil tulisan menarik itu, baik sebelum dijadikan bahan diskusi maupun pasca di diskusikan.

Di sisi lain masih banyak cara dan strategi yang dimiliki seseorang untuk “berpacaran” dengan buku. Namun, beberapa cara dan strategi sederhana ini dapat kita coba dan menjadi pemantik langgengnya kita berpacaran dengan satu atau banyak buku seperti layaknya seseorang berpacaran dengan seseorang yang memiliki “tips jitu” seribu cara untuk saling mencintai satu sama lain. Selama kita belum coba mencintai hal sederhana, selama itu kita menyesal dengan sebuah perjuangan. Perjuangan dalam hal ini adalah perjuangan seseorang “mencintai buku” sebagai pacar sejatinya. Semoga menginspirasi, ya!

Penulis : Sawaluddin Eka Saputra

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kuy bagikan :)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Fikih Toleransi: Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu

Undang-Undangmu Lebih Kejam Dari Undangan Mantan