in

Hidup dalam Kebersamaan

Indonesia saat ini merupakan negara dengan masyarakat yang plural. Pluralitas masyarakat Indonesia nggak hanya dalam segi keanekaragaman suku, ras, dan bahasa, tetapi juga dalam agama. Dalam hubungannya dengan agama, hal itu memberikan kesan yang kuat dan sangat mudah menjadi alat provokasi dalam menimbulkan ketegangan di antara umat beragama.

Agar ketegangan antar agama tidak terjadi di bangsa indonesia, diantara formula yang harus dikembangkan untuk membina masyarakat agar kerukunan dan kesejahteraan dapat tercipta, yaitu dengan menanamkan sikap toleransi kepada pemeluk agama, agar agama nggak dijadikan alat untuk saling menyalahkan pemeluk agama lain.

Untuk menghindari keretakan dalam dalam perbedaan, kita perlu belajar untuk hidup secara bersama dan harmonis dalam mewujudkan kehidupan yang damai tanpa harus menyalahkan pihak lain yang berbeda.

Salah satu bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan global yang ditandai kemajemukan etnis, budaya, dan agama tersebut, adalah membangun dan menumbuhkan kembali semangat kebersamaan dalam masyarakat.

Karena pada hakikatnya kita semua adalah ”saudara” dan ”sahabat”. Maka, sudah selayaknya menyadari pentingnya kebersamaan dalam berkehidupan untuk menopang kesejahteraan serta bekerjasama dalam kebersamaan tanpa memandang perbedaan yang ada.

Kita perlu belajar dari KH Ahmad Dahlan, bahwa wacana kerukunan adalah setara dengan keinginan untuk dapat mewujudkan kenyamanan dan kesejahteraan hidup dalam kebersamaan. Kyai Dahlan dengan kekuatan sosial-kemasyarakatan memiliki peranan penting dalam upaya membentuk pemahaman toleransi untuk membangun kebersamaan dan kerukunan masyarakat, Kyai Dahlan bahkan menjadi peletak gagasan pluralisme dan kerukunan beragama.

Kyai Dahlan merupakan seorang yang gemar berdialog dengan siapa saja, asal untuk mencari kebenaran dan kebermanfaatan. Beliau bahkan sangat terkenal sebagai orang yang toleran, menghormati para pemeluk agama non-Islam. Hal ini ditunjukkan dengan pergaulannya yang luas, tidak sebatas sesama umat Islam saja, dia sangat akrab dengan para pastur dan pendeta bahkan sampai mengadakan pertukaran pikiran dengan pastoor Van Lith.

Selain itu, kita bisa belajar dari peranan Ki Bagus Hadikusumo, lho, guys. Ki Bagus Hadikusumo berperan penting dalam perumusan dasar negara Indonesia yang pada awalnya mempertahankan prinsip Islam, tetapi menyadari bawa kepentingan bangsa lebih utama.

Dengan pendekatan Mr. Kasman Singodimedjo pada akhirnya Ki Bagus Hadikusumo menunjukkan sikap toleransi dengan menyatakan kesediaannya untuk berunding lagi tentang perhapusan tujuh kata dalam dasar negara dan diganti dengan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dari kisah ini tercermin sikap toleransi dari Ki Bagus Hadikusumo karena kesediaannya menerima perubahan tersebut untuk kepentingan bersama.

Perbedaan adalah kenikmatan kehidupan, dalam menghadapinya kita perlu mensyukuri perbedaan, bukan malah mendiskriminasi atau sampai melakukan tindakan yang menyakitkan satu dengan yang lainnya. Ayo kita bangun bangsa ini dengan dialog yang sehat, menyelesaikan persoalan pelik dengan hati dan kepala yang dingin.

Dalam bermasyarakat dan bernegara hendaklah kita saling membantu kawan dan menjaga Indonesia ini dengan berjalan bersama, saling berpegangan dalam kebersamaan, dan membangun kesejahteraan. Karena dengan hidup dalam kebersamaan kita akan mewujudkan cita-cita bangsa dan cita-cita kemanusiaan dan menggapai ridho Tuhan.

Penulis : Rezza Perwiranegara Sudirman
Ilustrator : Ni’mal Maula

Kuy bagikan :)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Antara Gender dan Seks

Milenial, Thales dan Al-Qur’an*