in

Hidup Bahagia Dengan Sederhana

Hiduplah dengan sederhana, agar orang lain dapat hidup

Sebuah pesan dari Mahatma Gandhi untuk umat manusia di bumi.

Oke guys, kali ini kita mencoba untuk mengarungi lautan kehidupan yang sederhana tapi mampu bikin semua orang bahagia. Karena kebahagiaan tertinggi bukanlah kehendak untuk bersenang-senang, apalagi kehendak untuk berkuasa, akan tetapi kebahagiaan adalah “pencapaian kehendak untuk menemukan makna dari kehidupan yang sederhana,” kalau kata Viktor Frankl.

Pertama-tama mari intropeksi diri terlebih dahulu, kita harus menyadari bahwa kehidupan di dunia ini saling berkaitan antara alam, manusia, dan Tuhan. Setiap tindakan yang dilakukan didunia ini pasti memiki konsekuensi besar bagi dunia dan para penghunginya. Nah, bagaimana jika sikap kita membuat orang lain terganggu?

Kita perlu sadar, setiap air yang dipakai untuk mandi secara berlebihan itu akan berdampak pada anak-cucu kita nanti, sumber daya alam yang terbatas, tapi pemakaian yang tidak terbatas. Masih tega menggunakan kendaraan dengan boros bensin? Kekurangan minyak bumi akan mengakibatkan kemiskinan dan kekacauan.

Seandainya semua orang menyadari, bahwa gaya hidup yang berelebihan akan berdampak negatif bagi orang banyak, pasti toko buku lebih ramai dibanding toko baju, angkringan lebih diminati daripada starbucks maupun McD. Inilah pergeseran yang sedang terjadi, kemewahan dan kesenangan menjadi dalih utama untuk mewujudkan kebahagiaan. Padahal itu kekeliruan yang nyata. Oleh karena itu, mari kita kembali mencari makna kebahagiaan lewat keserdehanaan, bahwa sikap sederhana mampu menciptakan kebahagiaan individu maupun orang di lingkungan kita.

Dalam ajaran Islam menyebutkan “dan sederhanalah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Q.S. Lukman: 19). Dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (al-A’raf: 3). Tentu saja, dalil di atas sebagai landasan dan pandangan hidup kita sehari-hari, bahwa ajaran agama mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, termasuk mengajarkan kesederhanaan dalam hidup dan tidak berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu.

So, sudah waktunya meninggalkan kebiasaan hedonis, mencari kesenangan semata tanpa peduli kesenangan orang lain, tradisi konsumerisme juga perlahan dikuburkan dalam-dalam, mari menggunakan sesuatu sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan yang menggebu-gebu. Memakan sesuatu secukupnya jangan sepuasnya, jika kelebihan makanan alangkah baiknya diberikan kepada orang-orang yang belum makan, bahkan lebih baiknya diajak untuk makan bersama-sama, dan ingat bahwa kita makan agar tetap hidup, bukan hidup kita hanya untuk makan saja.

Nggak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan, nggak ada kata salah untuk berubah menjadi lebih baik, dan tidak ada kata rugi untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Ayo, guys, kita mulai meninggalkan kemewahan menuju kesederhanaan untuk kebahagiaan bersama. Belajar kasih sayang terhadap alam, dengan tidak boros menggunakan sumber daya alam dan nggak merusaknya hanya untuk kepentingan pribadi, dan belajar melatih kepekaan dan keharuan sesama manusia dan makhluk hidup lainnya karena kita sama-sama ciptaan dari sang maha kuasa agar bisa hidup berdampingan, tolong menolong, dan mewujudkan bumi yang damai nan sejahtera.

Terlebih hidup tanpa keharuan akan mematikan perasaan guys. Perasaan yang tidak dihidupkan tanpa kebersamaan dan kepedulian nggak akan mendatangkan kebahagiaan. Tanpa kesederhaan, kepedulian, dan kebersamaan, kehidupan nggak layak dimenangkan apalagi mencapai kebahagiaan.

Penulis : Rezza Perwiraneagara Sudirman

Ilustrator : Fadhlitaqwal

Kuy bagikan :)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Hukum Menyingkat dalam Mengucapkan dan Menjawab Salam Saat Chatting

Surat untuk Mendikbud Baru: Dunia Pendidikan Beda dengan Bisnis Nadiem Makarim

Surat untuk Mendikbud Baru: Dunia Pendidikan Beda dengan Bisnis