in

Kucing dan Hujan

Apa yang dipikirkan kucing tentang hujan? Kisah ini tentang kucing berusia lima bulan yang lahir pada masa-masa kemarau panjang Jogja. Gersang yang telah diramalkan itu akhirnya tiba, menghukum manusia pada kemelaratan yang mereka minta sendiri.

Ia diberi nama Ciyo, karena begitulah anak-anak merapal namanya. Belum pernah dalam hidupnya melihat sendiri air menetes dari langit. Konon, dalam kisah-kisah yang beredar di antara kucing kompleks senior, hujan adalah sesuatu yang paling ditunggu. Tanah, asbes dan aspal akan basah, para kucing harus sigap mencari di mana air menggenang kemudian minum dari situ. Bukan main penasarannya, ia sampai menunggu saban hari bagaimana bentuk air yang mengucur dari langit.

Rasa penasaran itu makin bertambah seiring waktu dan kisah-kisah nostalgik atau heroik yang didramatisir kucing-kucing tua. Maka, ia tidak punya cara lain kecuali mencari bukti.

Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa sumber-sumber air. Memang agak aneh, tapi Ciyo mulai menganggap bakat dirinya adalah keterampilan penyelidikan. Ia menemukan satu fakta aneh, bahwa lubang kloset di WC punya air tergenang sepanjang masa. Ia tidak begitu yakin apa yang dilakukan manusia dengan air di lubang toilet itu. barangkali ada suatu pemodelan masuk akal dengan memahami karakter air di lubang misterius tersebut. Kadang Ciyo mencicip air itu atau tiduran di samping kloset jongkok dengan resiko ditegur majikan.

Dua minggu observasi yang ia lakukan berujung pada kesimpulan bahwa karakter air senantiasa diam di suatu tempat saja. Ia mengembangkan tesis itu untuk menerka bagaimana wujud hujan dan mengapa hujan bisa terjadi. Ia membayangkan bahwa di atas awan, sebagaimana dikisahkan oleh para dedengkot kucing-kucing yang belaga sok pamer itu pastilah terdapat lubang genang air. Nah, hujan itu adalah akibat sederhana bocornya “kloset” di langit. Ciyo bisa agak tenang. Minimal ia bisa menerka apa dan mengapa hujan terjadi. Ini tentu adalah cara berpikir apriori. Tapi tak masalah. Kucing tak ada urusan dengan metode berpikir.

Masalah muncul ketika Ciyo mempresentasikan temuan itu ke kolega-kolega ia di sekitar kompleks. Sontak, para kucing ngakak minta ampun. Mereka memang tidak bisa membantah teori Ciyo, tapi mereka menganggap itu mustahil. Karena kesal, Ciyo bermaksud untuk membongkar lagi teori hujan yang kadung bikin ia malu. Ia mulai memperhatikan pengalaman-pengalaman nyata yang ia alami sehubungan dengan fakta air.

Pertama, air selalu tersedia begitu saja di mangkok tempat minum. Kedua, mangkok itu kadang kosong dan ketika sudah berada di tangan majikan biasanya air segera muncul kembali. Maka Ciyo memperhatikan dari mana sumber air itu keluar. Mengejutkan, keran yang biasa ia abaikan dalam observasi minggu lalu ternyata “mengucurkan” air. Eureka!!! Ciyo senyum-senyum dengan fakta sederhana yang sudah ia abaikan sepanjang hidupnya. Kuncinya di keran air!

Ciyo mulai memperhatikan bagaimana air menetes dari keran air. Ia menikmati betul bunyi air yang keluar atau menetes akibat perekat sambungan pipa yang bercela. Tetesan air itu, sudah pastilah adalah wujud hujan. Tapi ia tidak buru-buru menyimpulkan bahwa di langit pastilah ada keran air.

Jadi Ciyo mewawancarai kucing-kucing lain sebagai responden. Misalnya ia tanya, bagaimana wujud hujan, apa tetesan butiran air? Kucing lain menjawab, ia butiran air tapi dalam jumlah banyak. Kemudian ia tanya juga tentang frasa “awan meneteskan air” yang ia anggap agak ganjil. Karena, bukankah awan selalu “ada” kenapa hujan ngak “ada”? Kucing lain menjawab, bahwa tidak semua awan menghasilkan hujan.

Ciyo mengejar dengan bertanya, jadi awan seperti apa yang menurunkan hujan? Semua kucing responden melongo. Bagi mereka “awan” itu diskusi yang terlalu “melangit” hingga salah satu menyela Ciyo.

“Itu agak di luar urusan kita sebagai kucing. Kita dilarang bertanya tentang hal-hal yang sukar dijawab” nasihat kucing responden lain.

“Sudahlah, mengapa tak kau tunggu saja hujan itu turun. Toh, nanti akan tiba masanya, tak perlu kesusu” ketus kucing loreng.

Ciyo menatap mereka satu per satu. Ia mengucap terima kasih atas info-info berharga. Penelitian Ciyo akan terus berlanjut dengan atau tanpa hujan sama sekali. Baginya tidak penting “kapan”, tapi “apa” yang ada dalam ingatan para kucing itu sendiri sangat penting. Ciyo melenggang menuju rumah majikan. Ia berdiam di depan teras, di samping aster yang sedang mekar-mekarnya, dan rintik-rintik air turun dari langit malam menyapu kepala Ciyo. Ia menengadah, dan diam.

 

Penulis : Fauzan A. Sandiah

Ilustrator :Ni’mal Maula

Kuy bagikan :)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Netizen dan Nadiem Karim Harus Optimis (Pt. 2)

Seberapa Syar'i Diri Kita?

Sudah Seberapa Syar’i Kita?