in

Saling Senyum, Karena Tujuan Kita Sama

Semakin gede, permintaan kita ke Tuhan kayaknya semakin banyak. Pengen ini, pengen itu, lebih ini, lebih itu. Dan ngga cuma permintaan, tapi juga segudang pertanyaan.

Kenapa, ya, Tuhan ngarahin jalan kesini? Kenapa ya harus ditakdirkan bertemu seseorang yang nggak sefaham sama kita?sebenernya Tuhan punya rencana apa sih buat kita?

Setelah sadar bahwa ada banyak pertanyaan soal hidup kita yang kayaknya cuma bisa dijawab oleh Tuhan, sebagian dari kita pelan-pelan mulai cari tahu tentang-Nya.

Mulai dari memahami cara berkomunikasi yang baik, aturan main dan apa yang penting dan nggak penting tentang-Nya.

Buat nyari tahu, sebagian dari kita belajar kepada orang-orang yang kita anggap lebih faham dan lebih dekat dengan-Nya. Membantu menerjemahkan, menafsirkan, dan mengarahkan.

Seringkali apa yang mereka katakan suka bertabrakan dengan banyak pemikiran mainstream orang-orang. Sampai kita bingung sendiri, “kok bisa sih, mereka mikir gitu?”. Kita lupa kalau emang nggak semua orang punya pola pikir yang sama.

Hal lain yang kita suka lupa adalah Tuhan Maha Pemberi Petunjuk. Petunjuknya berbentuk apa, kapan dan dimana terciptanya, dan kepada siapa tujuannya, ya cuma Tuhan yang punya kuasa.

Penilaian kita terbatas, karena mungkin aja ada sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam dari apa yang terlihat dari indera kita.

Keterbatasan penilaian kita ini, seharusnya bisa jadi bahan latihan agar lebih berempati. Kita tahu banget kok ada banyak cara untuk “akrab” dengan pencipta kita.

Kalau kita hanya ngerasa cuma ada satu cara untuk mengenal Tuhan, bisa jadi kita malah merendahkan Tuhan dari semua sifat-Nya yang Maha.

Belajar sama Tuhan pastinya ngga ada ujungnya. Tiap hari, Tuhan hadir dalam beberapa bentuk kok. Tuhan hadir dalam semangkuk bakso, kopi susu yang kita seruput, abang gojek yang yang nganterin kita pulang, keluarga yang nunggu kita di rumah, dan tentunya di dalam diri kita sendiri.

Tuhan keliatan jauh untuk diraih, tapi sebenanya sedekat itu. Semua tentang Tuhan terlalu besar dan rumit untuk buru-buru selesai dipelajari.

Sama kayak nyetir mobil, untuk bisa sampai tujuan dengan selamat dan waktu yang cepat, kita pasti fokus ke depan, ngga nengok kanan-kiri, cuma fokus ke tujuan akhir kita.

Mungkin ada orang lain dengan tujuan yang sama, tapi lebih milih melewati jalan tikus, bukan jalan tol yang kita lewati. Mungkin disitu Tuhan ngarahin dia ke jalan yang jauh berbeda, yang dirancang khusus buat dia, meskipun bisa jadi tujuan akhirnya sama dengan kita.

Alesannya apa? Sayangnya bukan tugas kita untuk menerka-nerka.

Ekplorasi kita menuju Tuhan, semoga bukan malah menyempitkan pandangan kita terhadap orang lain yang sama-sama sedang belajar, justru malah memperkaya ilmu dan membantu kita menjadi pribadi yang lebih bijak.

Kalau di tengah-tengah kita bertemu orang di persimpangan yang memilih jalan berbeda, semoga kita sama-sama bisa senyum, saling mengangguk, dan mendoakan satu sama lain supaya selamat sampai tujuan.

 

Penulis: Nadhifah Azhar

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kuy bagikan :)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

“Agama” Berbeda dengan “Pemahaman Agama”

Jofisa: Jomblo Fi Sabilillah