Perang yang berkecamuk di Ukraina sejak bulan Februari 2022 antara pihak Rusia melawan Ukraina yang dibantu oleh negara-negara barat atau negara sekutu NATO, tentu merupakan makanan sehari-hari bagi media di Indonesia. Bahkan, setiap hari hampir pasti menemui berita tentang kondisi peperangan di medan laga tersebut. hal ini tentunya membuat beragam respon dari netizen Indonesia, bahkan membuat adanya dua kubu yakni kubu pro barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan kubu yang pro dengan Rusia.

Netizen Indonesia memang dikenal cukup aktif dalam menyuarakan argumennya di media sosial. Saking aktifnya, seringkali terjadi perdebatan diantara sesama netizen dari Indonesia tersebut, mulai dari debat yang berlandaskan fakta ilmiah. Hingga debat kusir yang tentunya bisa menyenggol hal-hal diluar konteks.

Jika dilihat dari beragam aspek, tentunya ada beberapa fakta yang dapat ditelaah dari perseteruan kedua kubu ini, khususnya dalam pembahasan dunia militer yang mungkin bagi sebagian kalangan cukup menarik diikuti. Kali ini beragam fakta menarik tersebut, tentunya sudah dirangkum secara singkat dalam ulasan di bawah ini.

Efek Domino Dari Perang Dingin

Jika dilihat dari rekam jejak sejarahnya, perseteruan antara kubu blok barat yang merepresentasikan organisasi NATO yang dipimpin oleh Amerika Serikat bersama para sekutunya dengan kubu blok timur. Dahulu kala mereka menggambarkan negara-negara berpaham sosialis semacam Uni Soviet dan negara-negara sekitarnya. Hal ini lebih populer dengan nama perang dingin. Perseteruan tersebut disebut perang dingin, karena kedua kubu tersebut yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak pernah melakukan perang terbuka. Namun, hanya sebatas perang pengaruh ideologi dan unjuk kekuatan militer.

Meskipun kini perang dingin telah usai dengan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Namun, sisa-sisa perseteruan di masa lalu itu masih terasa hingga kini. Lebih tepatnya Rusia yang merupakan pewaris Uni Soviet masih dianggap rival dari Amerika Serikat bersama para sekutunya. Efek dari perang dingin inilah yang berimbas ke negara-negara lain seperti Indonesia yang sempat pada masa awal kemerdekaan hingg orde lama pro ke timur, kemudian beralih ke blok barat pada masa orde baru. Perpolitikan tersebut tentunya juga berpengaruh terhadap kekuatan militer Indonesia dari waktu ke waktu.

Dilandasi Oleh Kedekatan Emosional

Tidak dapat dipungkiri orang-orang Indonesia merupakan masyarakat yang sangat memiliki kedekatan emosional terhadap beragam hal. Baik yang terjadi di lingkungan sekitar, maupun sesuatu hal yang terjadi di tempat yang jauh. Alasan inilah yang menjadi salah satu faktor perkubuan antara netizen pro barat dan timur di dunia militer Indonesia. Salah satu contohnya yakni ketika orang-orang yang pro barat akan di cap sebagai “Budak Amerika/Barat” atau bahkan bisa disebut pendukung Israel/zionis.

Mengapa hal ini bisa terjadi ? hal ini karena Amerika Serikat dianggap oleh netizen Indonesia sebagai biang keladi dalam beragam konflik di dunia. Belum lagi kedekatan mereka dengan Israel yang tentu saja merupakan salah satu negara paling dibenci oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Hal ini juga terjadi di kubu yang pro blok timur atau representasi Uni Soviet/Rusia. Mereka akan di cap sebagai “masyarakat pro-komunis” atau mungkin dengan bahasa kasarnya Pro PKI. Hal ini karena negara Uni Soviet identik dengan paham komunis, meski kini negara tersebut telah runtuh dan digantikan dengan Rusia. Seperti yang kita tahu bahwa segala macam hal yang berbau komunis merupakan sesuatu yang terlarang di Indonesia.

Memperlihatkan Kebiasaan Orang Indonesia Suka Berdebat 

Mungkin hal ini yang merupakan kebiasaan yang hampir pasti dimiliki oleh orang Indonesia. kebanyakan masyarakat kita suka berdebat dalam hal apapun. Jika perdebatan tersebut dilandasi hal-hal ilmiah maupun fakta tentunya itu hal yang bagus. Akan tetapi jika debat tersebut hanya sebatas debat kusir tentunya bukan sebuah kegiatan yang berfaedah. 

Dengan adanya perkubuan antara netizen pro-barat dan pro-timur ini tentunya semakin memperlihatkan bahwa masyarakat kita memang gemar sekali berargumen yang berujung ke debat kusir yang tiada akhirnya. Belum lagi kebiasaan mudah tersulut emosi jika sudah tersudut ataupun tidak dapat memberikan counter-argument. Tidak jarang pula sampai menyerempet hal-hal SARA yang tentunya sangat sensitif, dan bukan sesuatu yang baik.

Editor : Faiz

Gambar : Google