Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kepemimpinan kepala sekolah sebagai salah satu pilar transformasi pendidikan nasional menuju Indonesia Emas. Dalam naskah pidato resmi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa guru turut memperoleh pelatihan Kepemimpinan Sekolah, di samping Pembelajaran Mendalam, Bimbingan Konseling, Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta Bahasa Inggris, sebagai bagian dari pemenuhan kualifikasi dan peningkatan kompetensi tenaga pendidik. Kebijakan ini menegaskan bahwa kepemimpinan kepala sekolah kini dipandang sebagai kompetensi strategis yang turut menentukan keberhasilan transformasi pembelajaran di satuan pendidikan.

Sebagai pemimpin satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut menguasai sejumlah kompetensi utama, yakni kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Kepala sekolah berperan sebagai motivator, pengambil keputusan, sekaligus pengawas yang menciptakan lingkungan kerja kondusif bagi guru, sehingga kepemimpinan yang visioner dan partisipatif dipandang sebagai faktor penentu peningkatan kinerja guru dan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Dukungan terhadap arah kebijakan ini juga tampak dari kalangan akademik. Penelitian Basri dan Tambunan (2023) dalam Faktor Pendukung dan Penghambat Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Kinerja Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Madrasah Aliyah Sunggal menemukan bahwa faktor internal seperti kemampuan kepala sekolah mengelola perencanaan sekolah dan kesabaran menghadapi guru dengan berbagai karakter, serta faktor eksternal seperti fasilitas sekolah yang memadai dan dukungan orang tua siswa, menjadi penopang utama keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah.

Namun demikian, sejumlah kajian mengingatkan bahwa efektivitas kepemimpinan kepala sekolah tidak selalu berjalan mulus di lapangan. Fahrezi dan Nasution (2026)dalam artikel Peran Kepala Sekolah dalam Perencanaan Kinerja Guru untuk Meningkatkan Profesionalisme di MTs Zia Salsabila menemukan bahwa meskipun kerja sama dan komunikasi yang baik antara kepala sekolah dan guru menjadi faktor pendukung utama, keterbatasan waktu supervisi, kesiapan administrasi guru, serta perbedaan motivasi dan kedisiplinan guru tetap menjadi faktor penghambat yang nyata. Studi kasus lain oleh Sijabat dan Saputra (2025)dalam Studi Kasus Dampak Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan dan Motivasi Kerja Guru di Sekolah XYZ bahkan menemukan bahwa gaya kepemimpinan yang tertutup, otoriter, dan tidak partisipatif menciptakan lingkungan kerja yang terpolarisasi, ditandai munculnya “lingkaran dalam” berisi pihak-pihak yang mendapat perlakuan istimewa, sementara yang lain merasa tersisih, serta ketidakkonsistenan dalam penegakan aturan terhadap siswa.

Kritik terhadap batas kepemimpinan kepala sekolah dalam menegakkan disiplin juga muncul di ruang publik. Polemik paling ramai diperbincangkan dipicu oleh kasus SMAN 1 Cimarga (2025) di Kabupaten Lebak, Banten, setelah Kepala Sekolah Dini Fitria menampar seorang murid yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah pada Oktober 2025. Tindakan tersebut memicu aksi mogok belajar ratusan siswa selama dua hari, hingga akhirnya Gubernur Banten Andra Soni menonaktifkan kepala sekolah tersebut dari jabatannya. Menanggapi kasus ini, Rocky Gerung (2025), pengamat politik yang kerap menyoroti isu pendidikan, secara terbuka mengecam tindakan tersebut melalui kanal YouTube pribadinya. Ia menegaskan bahwa hukuman fisik bukan solusi penegakan disiplin dan kekerasan terhadap murid tetap tidak dapat dibenarkan, meski murid tersebut terbukti melanggar aturan.

Menariknya, opini publik atas kasus ini justru terbelah. Sebagian warganet ramai-ramai membela sang kepala sekolah dengan alasan penegakan disiplin, sementara sebagian lain menilai tindakan fisik tetap tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun. Ketimpangan relasi antara kepala sekolah dan warga sekolah semacam ini bukan fenomena baru. Hal serupa turut disinggung oleh konten kreator sekaligus pengamat pendidikan Guru Gembul (2024) dalam episode Malaka Podcast, ketika ia menceritakan pengalamannya memimpin demonstrasi siswa melawan kepala sekolah yang dinilainya tidak adil dan tidak disiplin semasa duduk di bangku sekolah menengah. Perdebatan mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah, dengan demikian, terus berulang dalam berbagai bentuk, baik di ruang akademik, media sosial, maupun ruang bincang publik seperti podcast.

Menurut Penulis,kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan keberhasilan transformasi pendidikan di tingkat satuan. Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh diukur semata dari kelengkapan kompetensi administratif seorang kepala sekolah. Selama kepemimpinan yang partisipatif dan komunikatif tidak diiringi konsistensi penegakan aturan yang adil, baik bagi guru maupun siswa, faktor pendukung seperti kelengkapan fasilitas dan pelatihan kepemimpinan berisiko tidak cukup untuk mencegah munculnya kepemimpinan yang otoriter, tertutup, atau bahkan represif di lapangan.

Hal ini sejalan dengan Teori Kepemimpinan Situasional (Situational Leadership Theory) dari Paul Hersey dan Ken Blanchard, yang menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan bergantung pada kesesuaian gaya kepemimpinan dengan tingkat kesiapan (readiness) bawahan, baik guru maupun siswa. Kepala sekolah yang menerapkan satu gaya kepemimpinan secara kaku, tanpa menyesuaikan pendekatan dengan konteks dan karakter warga sekolahnya, berisiko menimbulkan resistensi maupun konflik interpersonal, sebagaimana ditemukan pada kasus-kasus di atas. Selain itu, teori implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn menekankan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan sangat bergantung pada konsistensi antara peraturan pelaksana di lapangan dan tujuan awal kebijakan itu sendiri. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengangkatan, pengawasan, dan pemberhentian kepala sekolah, termasuk kejelasan prosedur disiplin bagi kepala sekolah maupun siswa, menjadi penting agar kepemimpinan sekolah benar-benar berdampak pada mutu dan iklim pendidikan yang sehat di Indonesia

Referensi:
Basri, H., & Tambunan, N. (2023). Faktor pendukung dan penghambat manajemen kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas kinerja pendidik dan tenaga kependidikan di Madrasah Aliyah Sunggal. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(2), 2575–2587.

Fahrezi, M. A. F., & Nasution, I. (2026). Peran Kepala Sekolah dalam Perencanaan Kinerja Guru untuk Meningkatkan Profesionalisme di MTs Zia Salsabila. Jurnal Manajemen Pendidikan: Jurnal Ilmiah Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan.

Sijabat, J. E., & Saputra, B. W. (2025). Studi Kasus Dampak Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan dan Motivasi Kerja Guru di Sekolah XYZ. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 6(5), 6983–7001.

Kemendikdasmen. (2026). Naskah Pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Bisnis Bandung. (2025). Melawan Arus! Rocky Gerung Kritik Kepala Sekolah yang Tampar Murid: Disiplin Tak Butuh Kekerasan.

Suara.com. (2025). Sebut Kasus Kepsek SMAN 1 Cimarga Aniaya Murid Merokok Unik, Rocky Gerung Bilang Begini.

Nusantara Inside. (2024). Guru Gembul: Kritik Pedas Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia.

https://doi.org/10.54373/imeij.v6i5.3827

https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/597

https://jurnal.uny.ac.id/index.php/jmp/article/view/96399

https://www.sonora.id/read/424376222/naskah-pidato-menteri-pendidikan-hardiknas-2026-dan-link-download

https://www.bisnisbandung.com/nasional/39816089914/melawan-arus-rocky-gerung-kritik-kepala-sekolah-yang-tampar-murid-disiplin-tak-butuh-kekerasan

https://www.suara.com/news/2025/10/15/143237/sebut-kasus-kepsek-sman-1-cimarga-aniaya-murid-merokok-unik-rocky-gerung-bilang-beginihttps://www.nusantarainside.com/citizen/124539270/guru-gembul-kritik-pedas-terhadap-sistem-pendidikan-indonesia

Gambar: detik.com