Membaca kegalauan Annisa Syafariah dalam tulisannya bertajuk “Sampah Plastik yang Tidak Kunjung Selesai, Ada Apa?” di Milenialis (13/06), saya pikir cukup beralasan. Harus diakui dari semua jenis sampah yang berserak dan bertumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sampah plastik masih mendominasi jenis sampah di Indonesia dan tentu saja masih menjadi persoalan lingkungan. Ditambah pula, butuh waktu sangat lama supaya sampah ini terurai dan terdegradasi tuntas.

Dilema Sampah Plastik

Dari aspek pemusnahannya pun dilematis. Coba saja bro-sis iseng-iseng bakar sampah plastik, pasti bau nggak enak tercium kuat. Namun, bila sampah plastik ini dibiarkan di alam semesta, maka akan menjadi pecahan-pecahan plastik yang disebut mikroplastik. Bahaya? Ya, sudah pasti akan merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan, bahkan tumbuhan.

Sesungguhnya mikroplastik sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sejak lama. Para peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap mikroplastik telah ada pada benda-benda seukuran mikron untuk kosmetik, lulur mandi, pasta gigi, sabun cuci muka, serat baju kecuali jika 100% katun. Ada pula yang dihasilkan dari degradasi plastik-plastik ukuran lebih besar seperti kantung belanja atau botol air mineral.

Di sisi lain, menjadi sebuah dilema karena kita sendiri masih butuh plastik. Emang gampang nyari daun pisang buat gantinya? Apalagi kalau tinggal di apartement. Di kampung-kampung pinggiran Jakarta juga sudah sulit cari pohon pisang. Harus ke pasar tradisional. Bungkus daunnya pakai apa? Ya, pakai kantong plastik juga kalau di pasar.

Jadi, sebenarnya kita masih butuh plastik, tetapi belum mampu mengelolanya. Kebijakan-kebijakan yang dibuat selama ini untuk mengurangi penggunaan plastik, seperti mendukung penjual dan produk tanpa pembungkus plastik, meminta penjual supermarket hingga mini market untuk mengurangi pembungkus plastik tampaknya masih belum cukup. Masih belum total. Buktinya, di pasar tradisional dan pasar-pasar kaget lainnya masih seperti biasa saja menyediakan kantong plastik, gratis.

Sesungguhnya yang juga harus diubah adalah kebiasaan manusianya dalam mengelola sampah plastik, dan ini sebaiknya paralel. Masalahnya jika dibuat model sirkular di mana sampah plastik dipakai kembali menjadi kantong plastik siap pakai, mau nggak mencucinya lagi, mendaur ulangnya lagi. Sanggup?

Penyampah Plastik Terbesar di Dunia

Dikutip dari lipi.go.id, Indonesia dengan garis pantai sepanjang 99.093 km dan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, negara kita digadang sebagai penyampah plastik di laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Makanya, kebijakan dan komitmen pemerintah untuk mereduksi sampah laut perlu didukung oleh informasi ilmiah yang komperehensif melalui penelitian. Terutama mengidentifikasi sumber masalah.

Hasil riset peneliti LIPI lainnya dalam jurnal ‘Scientific Reports’ berjudul “Major Sources and Monthly Variations in the Release of Land-derived marine debris from the Greater Jakarta Area, Indonesia” yang merupakan studi monitoring bulanan sampah pertama di Indonesia. Peneltian tersebut telah mengidentifikasi enam tipe sampah dan 19 kategori sampah plastik dari sembilan muara sungai di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi selama bulan Juni 2015 sampai 2016. Hasil riset menunjukkan sekitar 59 persen dari sampah yang mengalir di sembilan muara sungai tersebut merupakan sampah plastik yang didominasi Styrofoam. Naah!

Maka untuk konteks Indonesia, kiranya apa yang diangkat film “Seaspiracy” yang pernah tayang di Netflix dalam konteks sampah plastik menjadi cermin yang pas sebagai bahan evaluasi. Apakah kita hanya mendiskusikannya dalam webinar-webinar khas masa pandemi? Atau segera melakukan aksi bersih sungai dan lautan? Misalnya, memasang jaring sampah dan menambah petugas kebersihan khusus wilayah perairan darat dan laut.

Saya pikir benar apa yang Annisa Syafariah kemukakan. Peran Pemda sebagai pemegang kebijakan dan penguasa daerah setempat harus betul-betul dikuatkan dengan Perda dan tentu saja implementasinya harus konsisten ditegakkan. Tentu saja perlu menggandeng berbagai pihak yang concern akan masalah sampah plastik ini.

Dan yang paling penting, membangkitkan kesadaran masyarakat mengurangi plastik dan styrofoam. Apalagi di masa pandemi sekarang ini, di mana belanja online semakin meningkat pesat. Pastilah paket dibungkus dengan plastik yang tebal plus ditambal lagi dengan bubble wrap. Terbayang sudah sampah jenis ini akan jadi jenis baru yang akan melengkapi jenis sampah plastik mainstream lainnya. Mau perahu nelayan mengapung di atas tumpukan sampah plastik? Yok, bisa yok!

Editor: Nirwansyah

Gambar: Trubus.id