Perjalanan menuntut ilmu adalah perjalanan dengan rute panjang dan kadang ruwet. Tetapi, mau tidak mau harus tetap ditempuh. Karena menuntut ilmu itu wajib. Indonesia sendiri mewajibkan 12 tahun menuntut ilmu, sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas atau SLTA. Ilmu itu sangat penting. Karena melakukan sesuatu tanpa ilmu itu berbahaya. Berbicara bisa menimbulkan fitnah karena asal bicara. Berikut secercah catatan bagi pencari ilmu.

Kecerdasan

Kecerdasan yang dimaksud adalah keuletan dalam mencari ilmu, seperti mencatat ketika guru menerangkan. Saya jadi teringat teman masa sekolah. Dia dijuluki juru kunci ketika ujian sekolah. Ketika hasil ujian keluar, pasti dia menduduki peringkat paling bawah. Paling tinggi, dia bisa naik tiga besar dari bawah.

Tiba-tiba, ketika ujian nasional, dia mampu meraih peringkat lima besar. Dia berhasil mematahkan level juru kuncinya. Dia adalah pribadi yang gemar menulis pelajaran. Buku tulisnya selalu penuh lebih dulu dibanding teman-teman yang lain. Selain itu, dia suka bertanya kepada guru setelah penyampaian materi. Meski kadang-kadang pertanyaannya bikin jengkel, tidak sesuai topik, dan sudah habis waktu pelajaran.

Dia mengajarkan saya, bahwa kita boleh terlahir kurang pandai, atau bahkan sangat bodoh sekalipun. Akan tetapi, kita harus tetap memiliki skill orang cerdas. Mau mencatat materi, gemar berdiskusi, senang bertanya, dan seterusnya. Sehingga lambat laun, ilmu itu terserap kuat dan menggunung tanpa disadari. Barangkali, ini merupakan skill yang mampu mengalahkan orang-orang pandai sejak lahir, yang selalu juara kelas.

Semangat dan Sungguh-sungguh

Menuntut ilmu itu wajib semangat, wajib sungguh-sungguh. Sebab, menuntut ilmu itu jalan yang tidak memiliki akhir. Kita sering menjumpai kalimat ini, “Menuntut ilmu itu sejak buaian hingga liang lahat”. Benar. Ilmu itu banyak sekali. Jika kita tidak semangat dan sungguh-sungguh dalam menimba ilmu, sama halnya membuang-buang waktu dalam menuntut ilmu.

Dengan semangat dan sungguh-sungguh, ilmu akan mendarah daging, terserap kuat bukan hanya sampai di otak, tetapi jauh ke dalam hati. Jadi, sewaktu-waktu kita membutuhkannya, ilmu akan keluar dengan sendirinya. Kita tidak perlu repot-repot membuka ulang buku pelajaran ataupun buku catatan yang pernah dipakai.

Kita harus belajar dari kesungguhan orang-orang zaman dahulu. Presiden pertama, Soekarno, misalnya. Meski beliau telah menjabat sebagai presiden, beliau masih hobi membaca buku di rumah. Bahkan beberapa cara berpolitiknya diambil dari buku yang pernah dibacanya. Contoh lain, Si Anak Singkong, Chairul Tanjung. Kisahya sudah masyhur di Indonesia maupun manca negara. Terlahir dari keluarga sederhana, namun penuh perjuangan dan semangat menimba ilmu, hingga sekarang menjadi motivator para pebisnis.

Pencari Ilmu Harus Sabar

Lika-liku ketika mencari ilmu tidak sedikit. Terkadang, kita merasa ingin segera selesai mencari ilmu. Atau, ingin segera menjadi orang sukses. Ingat, sabar! Sebaliknya, tergesa-gesa itu sifat setan, bukan? Menuntut ilmu itu perlu istikamah, rutin. Mungkin kita tidak dianugerahi kepandaian, juga tidak dianugerahi kecerdasan. Akan tetapi, dengan sabar, istikamah, adalah satu hal yang mampu mengalahkan keduanya; kepandaian dan kecerdasan.

Pencari Ilmu dan Biaya

Mencari ilmu tentu membutuhkan dana, yang kadang tidak sedikit. Dewasa ini, banyak sekali beasiswa yang bisa didapatkan. Sehingga, tidak ada alasan tidak punya dana. Banyak instansi, perusahaan, pemerintah ataupun lembaga-lembaga yang membuka jalur beasiswa bagi para penuntut ilmu. Ada Kartu Indonesia Pintar (KIP), misalnya. Beasiswa bagi siswa berprestasi juga selalu ada di sekolah maupun perguruan tinggi, dan masih banyak lagi.

Tidak Instan

Petunjuk guru, adalah poin penting selanjutnya. Memang, belajar secara otodidak bisa-bisa saja. Akan tetapi, ilmu yang bersumber dari guru selalu lebih luas dan jelas. Sama halnya ketika kita sedang bepergian. Lalu, di tengah jalan, kita hilang arah dan bingung memilih jalan berikutnya. Kita mungkin bisa mengandalkan GPS. Tetapi, bertanya kepada orang sekitar lebih baik dan jelas ke mana arah langkah berikutnya. Lagi pula, sistem GPS belum sepenuhnya akurat, bukan?

Nah, yang sering dilupakan adalah mencari ilmu butuh waktu lama. Di zaman serba canggih begini, semua orang menginginkan sesuatu serba cepat, cak cek sat set, langsung ready. Termasuk mencari ilmu. Banyak kelas menulis online yang menawarkan tulisan lolos media. Mengikuti webinar seminggu, lalu puisi diiming-imingi masuk koran. Padahal, penyair raksasa Joko Pinurbo saja butuh waktu 13 tahun untuk menelaah puisi.

Naruto pernah bilang, “Tidak ada jalan pintas untuk menjadi hokage”. Meskipun jalan tol itu mulus, tetapi masih ada kecelakaan. Ingat, kura-kura menang lari dari kancil karena sungguh-sungguh, istikamah, tidak tergoda rayuan kanan kiri, terus berjalan meskipun melelahkan, dan tanpa menyerah. Butuh waktu lama untuk mencapai garis finish, dan itu tidak masalah karena hasil diukur dari seberapa keras ia berusaha.

Editor: Nirwansyah