Kira-kira bagaimana jadinya jika tugas kelompok yang sering mendapat anggapan merepotkan justru bisa menjadi pengalaman belajar paling membekas? Di tengah pembelajaran yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman, pertanyaan ini saya rasa memerlukan renungan lebih lanjut. Sebab, pengalaman belajar yang menyenangkan dapat tumbuh dari cara siswa terlibat, bekerja sama, dan menghasilkan sesuatu bersama. Tugas kelompok memiliki peluang untuk menghadirkan pengalaman tersebut apabila mendapat tujuan, rancangan, serta proses yang jelas.
Selama ini, tugas kelompok kerap memunculkan beragam respons. Ada siswa yang antusias bertukar gagasan, tetapi ada pula yang merasa terbebani karena pembagian kerja kurang seimbang atau kegiatan kelompok berakhir dengan mengerjakan tugas demi mendapatkan nilai. Kegiatan tersebut sangat memengaruhi pengalaman siswa dalam kerja kelompok. Jika siswa mendapat ruang untuk berpendapat, bereksplorasi, dan berkreasi, tugas kelompok dapat menjadi sarana belajar yang lebih hidup.
Hal ini menarik untuk dibicarakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran ini menyediakan banyak kesempatan bagi siswa untuk membaca, menulis, berbicara, menyimak, serta mengapresiasi karya sastra. Berbagai keterampilan tersebut dapat berkembang melalui interaksi dan kerja sama. Di sinilah tugas kelompok dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan pembelajaran ASIK, yaitu Aktif, Seru, Inovatif, dan Kolaboratif.
Pengalaman Kuliah yang Mengundang Refleksi
Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya mendapatkan pengalaman yang membuat saya memikirkan kembali cara pembelajaran sastra dapat dihadirkan di sekolah. Dalam salah satu perkuliahan, dosen memberikan tugas menulis cerpen. Cerita yang ditulis setiap mahasiswa kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah antologi. Melalui proses tersebut, kegiatan menulis terasa memiliki tujuan yang nyata karena setiap karya mendapatkan ruang untuk dibaca dan diapresiasi.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada masa SMP dan SMA. Sepanjang pengalaman sekolah saya, saya belum pernah mendapatkan tugas menulis cerpen yang dilanjutkan dengan proses mengumpulkan karya menjadi buku bersama. Saya juga belum merasakan kegiatan membaca karya teman secara terarah, memberikan tanggapan, dan memperbaiki tulisan berdasarkan masukan dari orang lain dalam proses seperti itu.
Pengalaman tersebut membuat saya bertanya-tanya, bagaimana jika siswa di sekolah memperoleh kesempatan serupa, dengan bentuk kegiatan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka? Barangkali, kegiatan menulis akan terasa lebih bermakna ketika siswa mengetahui bahwa hasil karyanya dapat dibaca teman-teman sekelas. Mereka pun dapat belajar menghargai proses kreatif, menerima masukan, dan melihat bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menyampaikan gagasan.
Tentu saja, pengalaman kuliah tidak bisa langsung diterapkan begitu saja di sekolah. Namun, pengalaman itu dapat menjadi inspirasi bahwa pembelajaran sastra bisa dirancang agar memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk berkarya. Tugas kelompok menjadi salah satu cara untuk mewujudkannya.
Mengubah Tugas Kelompok Menjadi Pembelajaran ASIK
Pembelajaran ASIK menempatkan siswa sebagai peserta yang terlibat secara aktif dalam proses belajar. Yang pertama adalah unsur aktif dapat diwujudkan melalui kegiatan membaca dan mendiskusikan teks. Unsur seru hadir ketika siswa merasa tertarik mengikuti kegiatan. Unsur inovatif muncul melalui penggunaan ide, media, atau cara penyajian yang kreatif. Sementara itu, unsur kolaboratif tumbuh ketika siswa saling bertukar pikiran dan bertanggung jawab terhadap hasil kerja bersama.
Keempat unsur tersebut dapat dipadukan melalui tugas kelompok dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Misalnya, ketika mempelajari cerpen, guru dapat membagi siswa ke dalam kelompok kecil untuk mengidentifikasi tokoh, alur, latar, konflik, dan amanat cerita. Setiap anggota mendapat peran, seperti pencatat hasil diskusi, penelaah teks, penyaji, atau penyunting. Setelah berdiskusi, kelompok dapat menyampaikan hasil analisis melalui presentasi kreatif, poster, atau media digital sederhana.
Pembagian peran membantu setiap anggota memahami kontribusinya. Diskusi memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat sekaligus mendengarkan perspektif teman. Ketika jawaban mereka berbeda, siswa dapat kembali membaca teks dan menemukan bukti untuk mendukung argumen. Dengan demikian, kegiatan kelompok melatih pemahaman bacaan, kemampuan berbicara, penalaran, dan sikap saling menghargai.
Guru juga dapat mengembangkan tugas menulis cerpen secara kolaboratif. Setiap siswa menulis cerita sendiri, kemudian anggota kelompok saling membaca dan memberikan masukan menggunakan panduan sederhana. Setelah melakukan revisi, karya-karya tersebut dapat dihimpun menjadi majalah kelas atau antologi digital. Hasilnya dapat dipamerkan kepada warga sekolah agar siswa merasakan bahwa karya mereka memiliki pembaca dan layak diapresiasi.
Membaca, Berkarya, dan Bertumbuh Bersama
Ruang untuk berkarya menjadi semakin relevan ketika teknologi menghadirkan beragam bentuk hiburan dan sumber informasi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini mengundang refleksi tentang bagaimana sekolah dapat mendekatkan siswa dengan kegiatan membaca dan sastra melalui pengalaman yang terasa dekat dengan dunia mereka. Memang betul kita tidak dapat menyamaratakan minat baca semua anak, tetapi sekolah dapat terus mencari cara agar teks dan karya hadir sebagai sesuatu yang menarik untuk dijelajahi.
Dalam hal ini, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai pendukung. Siswa dapat membuat majalah digital, merekam pembacaan puisi, atau menyajikan ulasan cerpen dalam bentuk video pendek. Namun, penggunaan teknologi tetap perlu diarahkan pada tujuan pembelajaran. Hal yang terpenting ialah siswa membaca, memahami, mengolah gagasan, dan menghasilkan karya, sementara media digital membantu mereka menyampaikan hasilnya secara kreatif.
Penting pula bagi guru untuk memastikan bahwa kolaborasi berlangsung secara adil. Perlu adanya pembagian tanggung jawab, batas waktu, pendampingan, dan penilaian dalam tugas kelompok yang mempertimbangkan kontribusi setiap anggota. Guru dapat meminta siswa menuliskan refleksi singkat tentang peran dan proses kerja mereka. Dengan cara ini, kerja sama menjadi pengalaman belajar yang evaluatif, bukan sekadar kegiatan menyelesaikan produk akhir.
Upaya Memperkuat Literasi adalah Upaya Bersama
Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya terlihat dari nilai yang diperoleh siswa, adakah kesempatan yang mereka miliki untuk mengembangkan keterampilan berbahasa dan menghargai sastra. Data Rapor Pendidikan Indonesia 2025 dari Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan menunjukkan bahwa proporsi siswa SMA/MA dan sederajat yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 60,25% pada 2022 menjadi 64,84% pada 2023, lalu 67,29% pada 2024. Peningkatan ini patut mendapat apresiasi sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya memperkuat literasi harus berlanjut melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Tugas kelompok dapat menjadi salah satu jalan menuju tujuan tersebut. Ketika siswa mendapat kesempatan untuk membaca bersama, menyampaikan pendapat, menciptakan karya, dan menghargai hasil kerja teman, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Tugas kelompok pun berpeluang berubah dari kegiatan yang melelahkan menjadi pengalaman yang membuat para siswa menanti. Sebab, belajar secara ASIK berarti membuka ruang agar siswa aktif berpikir, menikmati proses, berani berinovasi, dan bertumbuh melalui kolaborasi.
Editor: Salman
Gambar: osc.medcom.id

Comments