Ngomongin soal drama China (drachin) dan drama Korea (drakor) rasanya tidak akan pernah ada habisnya. Setiap bulan selalu ada saja judul baru yang dirilis, dengan tema yang beragam, mulai dari kisah kerajaan, romansa, keluarga, fantasi, hingga thriller. Menariknya, tidak sedikit drakor atau dracin ynag mengadopsi kisah di novel. Cerita yang sudah memiliki basis pembaca kemudian dikembangkan ke layar dengan karakter, konflik, dan dunia cerita yang dibuat semakin hidup.
Nah, di Indonesia, platform streaming juga sudah cukup sering membuat series yang diadaptasi dari novel, terutama novel-novel yang sebelumnya populer di platform online seperti Wattpad dan sejenisnya. Namun, saya jadi membayangkan bagaimana jika mereka mulai melirik novel-novel Indonesia yang tidak lahir dari platform tersebut? Novel-novel yang sudah lebih dulu punya cerita kuat, karakter yang menarik, dan pembaca setia, tetapi belum pernah mendapatkan kesempatan untuk diadaptasi menjadi series.
Rasa-rasanya, kalau digarap dengan serius dan menggunakan standar produksi yang tidak kalah dari drakor maupun drachin, hasilnya bisa sangat menarik. Apalagi Indonesia sebenarnya punya banyak novel dengan cerita yang kaya: dari romansa, konflik keluarga, persahabatan, perjalanan hidup, sampai kisah penuh intrik yang bisa dikembangkan menjadi puluhan episode. Bukan tidak mungkin, series Indonesia juga bisa membuat penonton penasaran menunggu episode berikutnya dan ikut larut dalam ceritanya.
Dari sekian banyak novel Indonesia yang ada, saya membayangkan setidaknya ada empat judul yang menurut saya punya potensi besar untuk dibuatkan series ala drama China atau Korea. Bukan sekadar karena ceritanya menarik, tetapi karena dunia dan karakter di dalamnya terasa punya ruang yang luas untuk dikembangkan ke layar.
1. Novel Trilogi Rara Mendut
Trilogi Rara Mendut terdiri dari Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri, ketiganya saling terkait dan berkesinambungan. Novel tersebut merupakan buah karya Y. B. Mangunwijaya.
Novel bergenre sejarah ini bisa menjadi series 3 season. Novel berlatar Mataram Islam ini tentu sangat menarik jika dijadikan series, karena sudah lama sekali tidak muncul film bertema kerajaan. Masih ingat kan dengan sinetron Misteri Gunung Merapi, Angling Dharma, Kaca Benggala, Tutur Tinular, itu sudah lama sekali.
Coba deh kalian baca ketiga novel itu kemudian membayangkan jika dijadikan series. Akan sangat menarik karena jalan ceritanya tidak akan kalah dengan drama China The Prisoner of Beauty, drama Korea Moon River, atau drama Korea To My Beloved Thief.
2. Novel Arok Dedes
Banyak dari drama China dan drama Korea yang menceritakan tentang perebutan tahta. Sebut saja Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo, Under the Queen’s Umbrella, Persulit of Jade. Indonesia juga punya cerita tentang perebutan tahta. Salah satunya apa yang dilakukan oleh Ken Arok. Tentu cerita tentang Ken Arok tidak asing di telinga pembaca.
Platform streaming jika tertarik mengangkat Ken Arok, bisa mengadaptasinya dari novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Novel yang ditulis Pram sewaktu di Pulau Buru ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1999 oleh Lentera Dipantara.
Sebenarnya sudah ada film maupun yang mengangkat tentang Ken Arok, yaitu Ken Arok-Ken Dedes. Lalu sinetron Ken Arok dan Ken Dedes yang rilis tahun 2013 dan dibintangi oleh Adly Fairuz dan Laudya Cynthia Bela. Intinya sih ceritanya lebih fokus ke keris Mpu Gandring. Jadi kalau platform streaming mau mengangkat cerita Ken Arok lebih baik adaptasi dari Karya Pram.
3. Novel Bekisar Merah
Ahmad Tohari menulis novel Bekisar Merah yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. Cerita bersambung itu kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam bentuk buku pada tahun yang sama, yaitu tahun 1993.
Ceritanya berfokus pada Lasi, seorang wanita berayah Jepang dan beribu Jawa. Lasi yang merupakan janda muda, mantan istri penyadap nira yang hidupnya di bawah kemiskinan. Kemudian ia menikah dengan pria tua bernama Pak Handarbeni. Hidupnya pun berubah menjadi bergelimang harta. Namun, Pak Han tidak mampu memberikan nafkah biologis. Alahasil Lasi berada di persimpangan dilema.
Tentu patut dinantikan jika novel tersebut dialihwahanakan menjadi series. Mengingat series di Indonesia temannya itu-itu saja dan kurang nendang.
4. Burung-Burung Manyar
Jika platform streaming ingin mengangkat series berlatar revolusi, maka novel Burung-Burung Manyar bisa dijadikan sebagai pilihan. Burung-Burung Manyar merupakan karya Y.B. Mangunwijaya dan terbit pertama kali pada tahun 1981. Novel yang mendapatkan penghargaan SEA Write tahun 1983 ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan telah berulang kali dicetak ulang.
Novel roman ini mengisahkan tentang Teto yang merupakan anak dari Kapten KNIL bernama Brajabasuki. Perjalanan hidup Teto penuh dengan pergolakan dan lika-liku. Ia yang semula hidup nyaman kemudian berubah ketika Jepang menduduki Indonesia, dan saat Indonesia merdeka ia menjadi Tentara KNIL. Novel ini mengambil latar dari tahun 1934 hingga tahun 1978.
Itulah 4 Novel Indonesia yang layak untuk dibuatkan series oleh platform streaming.

Comments