Slametan, Acara yang Bikin Gen Z Canggung

Bagi sebagian Generasi Z, menghadiri slametan mungkin terasa seperti masuk ke sebuah forum yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Datang terlalu awal bingung harus duduk di mana, datang terlambat menjadi pusat perhatian, sementara duduk di antara bapak-bapak membuat kita bertanya-tanya, harus ikut ngobrol, diam saja, atau pura-pura sibuk melihat HP?

Slametan di desa memang identik dengan bapak-bapak. Hal ini bukan tanpa sebab. Banyak generasi muda, termasuk Generasi Z, memilih merantau ke kota untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Meski begitu, sebagian Gen Z tetap tinggal di kampung dan sesekali dihadapkan pada tradisi slametan. Persoalannya, tidak sedikit dari mereka yang justru merasa bingung harus bersikap seperti apa ketika menghadiri acara tersebut. Alhasil, daripada merasa canggung atau salah tingkah, pilihan paling aman adalah tidak datang.

Saya sendiri pernah berada dalam posisi tersebut. Bapak saya merantau ke Jakarta. Seyogianya, ketika mendapatkan undangan slametan, saya datang mewakili beliau. Namun, hal itu tidak saya lakukan. Bukan karena malas, melainkan karena ada semacam kebingungan, bagaimana saya harus bersikap di tengah slametan yang mayoritas dihadiri bapak-bapak?

Tips Menghadiri Slametan Bagi Gen Z

Ketika kemudian ditegur ibu perihal tersebut, saya berdalih bahwa nama yang tercantum dalam undangan bukan nama saya, melainkan nama bapak. Saya kira alasan itu cukup untuk menghindarkan diri dari kewajiban menghadiri slametan. Ternyata saya salah. Kata-kata saya justru diteruskan ibu kepada orang-orang. Alhasil, undangan slametan berikutnya berganti nama menjadi nama saya. Dengan begitu, tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak datang.

Dari pengalaman tersebut, saya akhirnya mulai terbiasa menghadiri slametan. Entah sudah berapa kali saya duduk di antara bapak-bapak, mengikuti rangkaian acara, hingga akhirnya memahami bahwa menghadiri slametan ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Justru ada beberapa hal sederhana yang perlu diketahui agar Generasi Z tidak lagi merasa canggung ketika harus datang.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang Generasi Z yang sudah beberapa kali menghadiri slametan, berikut 4 panduan agar kita tidak kikuk ketika menghadiri slametan.

1# Jangan Main HP ketika Slametan Berlangsung

Tahlil yang digunakan dalam slametan biasanya pendek, tetapi ada kalanya cukup panjang. Hal ini tergantung siapa yang mbibiti (memimpin) tahlil. Bahkan, terkadang rangkaian tahlil dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin.

Sebenarnya tidak masalah membuka HP untuk melihat bacaan Yasin atau tahlil yang panjang. Tidak ada yang secara langsung menegur. Namun, bersiaplah mendapatkan tatapan penuh selidik. Sebab, dari kejauhan akan sulit dibedakan apakah kita sedang membuka bacaan tahlil atau justru bermain HP.

Oleh sebab itu, bagi Generasi Z yang tinggal di kampung, ada baiknya mulai menghafalkan tahlil, baik yang pendek maupun yang panjang. Selain supaya tidak terlihat sibuk sendiri dengan HP, siapa tahu orang yang biasa mbibiti tahlil berhalangan hadir dan tuan rumah meminta kita untuk menggantikannya.

Repotnya kalau ndilalah tuan rumah adalah ayah dari perempuan yang sedang kamu taksir. Bisa-bisa bukan hanya tahlil yang tidak hafal, restu pun ikut terhalang.

2# Datang Tepat Waktu

Slametan biasanya dilaksanakan ba’da Ashar atau ba’da Isya. Ketika mengundang, tuan rumah biasanya menyebutkan salah satu dari dua waktu tersebut sekaligus jam pelaksanaannya. Namun, ada pula yang hanya menyebutkan ba’da Ashar atau ba’da Isya tanpa mencantumkan jam.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu memahami kebiasaan waktu di kampung masing-masing. Di kampung saya, misalnya, ba’da Ashar berarti sekitar pukul 16.00, sedangkan ba’da Isya sekitar pukul 20.00. Maka dari itu, datanglah sesuai waktu yang tertera dalam undangan. Jangan sengaja datang terlambat hanya karena merasa tidak enak menjadi salah satu tamu yang datang paling awal.

Lalu, bagaimana jika terlanjur datang terlambat? Tentu akan menjadi pusat perhatian. Masih lumayan jika kita datang ketika acara belum selesai dan masih menjumpai waktu doa. Yang bikin serba salah adalah ketika baru datang setelah doa selesai. Memang, tuan rumah biasanya tetap memberikan berkat. Namun, menerima berkat setelah acara selesai bisa menimbulkan rasa tidak enak, terutama jika kita merasa seharusnya bisa datang tepat waktu.

3# Jangan Lupa Salaman

Ketika tiba di rumah tempat slametan, biasanya tuan rumah sudah menyambut tamu di depan. Hal pertama yang dilakukan tentu saja menyalami si punya hajat. Setelah itu, kita dapat menyalami tamu undangan yang sudah terlebih dahulu datang. Jika datang lebih awal, jumlah orang yang harus disalami tentu belum banyak.

Lain cerita kalau datang paling akhir. Siap-siap saja menyalami satu per satu tamu yang sudah duduk di dalam. Bisa jadi perjalanan dari pintu menuju tempat duduk terasa seperti sedang melewati satu barisan panjang untuk bersalaman. Sementara itu, ketika pulang, kita tidak perlu repot menyalami satu per satu tamu maupun tuan rumah. Cukup pamit dengan sopan, kemudian membawa pulang berkat yang diberikan.

4. Jangan Menolak Berkat

Menghadiri slametan sebaiknya dilandasi niat baik, membantu lewat doa sekaligus menjaga silaturahmi dengan tetangga dan masyarakat sekitar. Jangan datang ke slametan hanya karena mengincar berkat. Meskipun tidak ada yang tahu isi hati kita, tetap saja niat baik sebaiknya menjadi alasan utama untuk menghadiri acara tersebut.

Namun, setelah datang dengan niat baik, jangan pula menolak berkat yang diberikan tuan rumah. Menolak berkat tanpa alasan yang jelas justru bisa membuat tuan rumah merasa tidak enak atau bahkan tersinggung.

Cara pembagian berkat sendiri bisa berbeda-beda. Ada yang meletakkannya di tengah ruangan sehingga para tamu mengambil sendiri ketika hendak pulang. Ada pula yang membagikannya langsung di teras rumah.

Biasanya, selain berkat, tamu juga mendapatkan makanan ringan yang ditempatkan dalam wadah kertas. Meskipun sebenarnya tidak ada larangan untuk langsung memakannya di tempat, kebanyakan orang memilih membawanya pulang.

Jadi, jangan merasa aneh ketika pulang dari slametan membawa nasi berkat dan sebungkus makanan ringan. Itu memang bagian dari tradisinya.

Itulah 4 panduan agar kita tidak kikuk ketika menghadiri slametan.

Editor: Salman
Gambar: Facebook