Dalam keyakinan yang saya anut, ada satu kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian. Kepercayaan itu mengakar dan jelas tertanam di dalam sanubari warga desa kami. Seseorang yang sudah meninggal dunia—menurut keyakinan kami—maka akan terputus seluruh amal dan pahalanya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, anak yang mendoakan orang tuanya, dan ilmu yang bermanfaat. 

Nah, yang terakhir yaitu ilmu yang bermanfaat rasanya layak kita sematkan pada seorang pemalu, neurotik, dan seseorang yang depresif ini: Abraham Maslow. 

Kita tahu bahwa Abraham Maslow merupakan seorang tokoh masyhur dalam dunia psikologi. Pasalnya namanya kerap bergema di mana-mana, apalagi bagi yang punya teman mahasiswa psikologi. Betapa besar dan harum namanya.

Saya pun dibuat gusar olehnya. Sebenarnya apa yang ditulisnya? Apakah memang temuan Abraham Maslow—yang acap kali dilontarkan di mana-mana yaitu tentang Hirarki Kebutuhan manusia—akan relevan fi kulli makan wal zaman?

Hidup di Sini: Desa dan Segala Mitosnya

Bagi banyak orang, khususnya bagi orang kota, hidup di desa merupakan suatu kehidupan yang sederhana, bersahaja dan tentu saja tentram. Pertanyaannya, benarkah begitu?

Jelas tidak. Sungguh pandangan yang naif dan simplifikasi yang sangat terbirit-birit.

Kita perlu memahami bahwa manusia itu kompleks. Mau orang desa, mau orang kota, semua itu manusia. Sebagai manusia tentu memiliki kompleksitas masing-masing dan mau tak mau akan berjabat tangan dengan masalah. 

Bagi orang kota yang lekat dengan modernitas, kesepian, keterasingan, dan hidup yang mekanistis adalah makanan sehari-hari. Memangnya orang desa tidak begitu? Tunggu dulu.

Nanti coba kita urai dengan menghadirkan Abraham Maslow agar lebih khusyuk dan khidmat.

Bagaimanapun juga, kehidupan di desa memang memiliki perbedaan dengan kehidupan orang-orang kota. Namun kehidupan di desa tak dapat dikatakan pasti bahagia, pasti enjoy, dan pasti menentramkan. Selagi masih ada manusia, saat itu pula tak ada yang ajeg dan konstan. Panta rei, kata heraklitus. Semua mengalir.

Maslow dan Hierarki Kebutuhannya

Bagi Abraham Maslow, motivasi manusia berasal dari kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang berlaku secara jamak atau universal. Dengan kata lain ada kebutuhan-kebutuhan dasar yang berlaku bagi seluruh umat manusia dan jika kebutuhan tersebut terpenuhi maka akan berpengaruh pada tingkat kebahagiaan seseorang.

Kebutuhan-kebutuhan mendasar itu merupakan hirarki yang tersusun atas lima hal. 

Pertama, kebutuhan Fisiologis.

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar dan bersifat primer. Disebut kebutuhan primer karena kebutuhan ini berhubungan dengan kebutuhan untuk sandang, pangan, dan papan. Contoh lain kebutuhan ini adalah udara, air, rumah pakaian, gaji, uang, makan, hingga seksual. Jika kebutuhan ini sudah tercukupi, maka berlanjut ke kebutuhan selanjutnya.

Kedua, Kebutuhan akan rasa aman.

Seorang manusia yang kebutuhan fisiologisnya telah terpenuhi, maka ia akan membutuhkan hal lain yang berupa keamanan. Apa guna rumah luas, makan enak, tidur nyenyak, tapi di luar pintu dentum meriam dan darah menyeruak di mana-mana? Oleh karena itu kebutuhan akan rasa aman ini menjadi sangat penting guna mencapai kebutuhan selanjutnya.

Ketiga, Kebutuhan cinta dan rasa kepemilikan

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang penting juga bagi seorang manusia. Rasa cinta, merasa dimiliki dan memiliki, serta perasaan diterima merupakan hal yang terus manusia upayakan dalam hidup sebagai makhluk sosial. Sebab banyak manusia yang merasa tak layak hidup karena merasa tak ada yang mencintai dan tak ada yang menerimanya. Hal ini rupa-rupanya menjadi aspek penting dalam kehidupan bersama. Setelah itu manusia masih membutuhkan hal lain.

Keempat, Kebutuhan untuk dihargai

Tingkatan keempat ini juga merupakan tingkatan yang banyak dicari oleh manusia. Manusia mana, sih, yang nggak mau dihargai? Kebutuhan ini berhubungan dengan hasrat untuk memiliki citra positif, mendapat apresiasi, dan mendapat pengakuan dari orang lain.

Kelima, Kebutuhan aktualisasi diri

Kebutuhan yang terakhir ini, bagi Maslow, merupakan kebutuhan yang sangat penting. Jika kebutuhan ini tak terpenuhi, menurut Maslow, seorang manusia rentan mengalami depresi, apatisme, putus asa, dan rasa keterasingan diri. 

Aktualisasi diri ini merupakan kebutuhan untuk pemenuhan segala potensi yang ada dalam diri manusia. Tentu setiap manusia diberi kemampuan yang berbeda dan memiliki keotentikannya masing-masing. Bila kemampuan dan keotentikannya itu tak bisa diaktualisasikan dan tak dapat ditumbuh-kembangkan, maka bencana besar bisa saja datang tiba-tiba pada manusia tersebut. Seperti kecemasan, frustasi, hingga bunuh diri.

Editor: Assalimi

Gambar: Google