Pernikahan adalah institusi sosial yang sah secara hukum dan sosial di mana dua orang (atau dalam beberapa budaya, lebih dari dua orang) membentuk ikatan hukum dan seringkali agama.

Ikatan ini mengatur hubungan mereka secara emosional, sosial, dan ekonomi, biasanya juga religius. Pernikahan mencakup banyak aspek berbeda termasuk komitmen, cinta, tanggung jawab, dan kesatuan dalam hidup bersama.

Tapi kebanyakan orang memilih untuk lebih mencintai terlebih dahulu, karena dengan mencintai merasa ada kedekatan yang lebih erat, lebih romantis, mengenal lebih dalam.

Akan tetapi dengan mencintai terlebih dahulu banyak yang menjadikan cinta itu kepada perbuatan yang salah, seperti perbuatan yang melewati batas.

Mereka yang tidak bijak dalam mencintai, apapun itu demi pasangannya akan dilakukan. Yang pada akhirnya akan membuat dirinya terluka, menyesal, kecewa, sakit hati, bersedih dan bahkan ada yang mengakhiri hidup hanya karna cinta.

Banyak kasus di Indonesia saat ini mengenai pemuda yang terlalu bucin akan cinta sampai rela menodai dan melukai dirinya sendiri, seperti hamil di luar nikah, pembunuhan terhadap pacarnya, kekerasan terhadap pasangannya.

Sebagai seorang Wanita, tidaklah sepatutnya kita mudah untuk percaya dengan seorang laki-laki. Mereka bisa melakukan apapun terhadap pasanganya, maka dari itu berhati–hatilah dan harus bijak dalam memilih pasangan dan mecintai seseorang.

Cinta itu Menjaga

Lantas mencintai yang benar itu seperti apa? Mencintai dengan menjaga. Cinta itu menjaga, bukan hanya selalu disampingnya, melainkan cinta sejati akan melindunginya dari dosa.

Bukan hanya selalu berada di sisinya, melainkan juga medoakan yang dicintainya. Cinta itu menjaga, mejaga hatinya agar tidak terluka. Kalaupun harus terluka, cinta harus menghibur dan berusaha menghilangkan duka.

Cinta itu menjaga, mejaga agar dia selalu dalam keadaan baik, senantiasa berbuat baik dan memastikan bahwa denganmu dia terus membaik. Yang sejati sungguh tidak akan menjerumuskan, tetapi menuntun kepada kebaikan.

Pasangan atau laki–laki yang baik itu yang berani mengajak ke jenjang yang lebih serius seperti melamar dan menikahi.

Dengan begitu, tidak akan menimbulkan fitnah dan hal–hal yang tidak di inginkan. Mencintai setelah menikah akan mendapat cinta yang suci dan sebenarnya.

Bukan strategi dalam mencintai, tetapi agama juga mengajarkan mencintai yang sebenarnya.

Setiap manusia di ciptakan untuk berpasang pasangan yang dalam Al-Quran terdapat sebuah ayat yang mengandung arti bahwa lebih baik menikah terlebih dahulu, setelah itu baru mencintai.

Dalam masyarakat juga menikah memiliki tujuan seperti,

1. Memulai sebuah Keluarga

Pernikahan adalah cara tradisional untuk memulai sebuah keluarga. Pasangan sering kali memiliki anak dan merawat mereka bersama.

2. Komitmen dan Loyalitas

Pernikahan mencerminkan komitmen yang mendalam dan setia antara dua individu untuk hidup bersama dalam suka dan duka.

3. Perlindungan Hukum

Perkawinan memberikan hak, perlindungan, dan kewajiban hukum kepada para pihak yang sah menurut hukum.

4. Stabilitas Ekonomi

Pasangan sering kali berbagi tanggung jawab  dan sumber daya ekonomi, yang dapat memberikan stabilitas ekonomi.

5. Hubungan Sosial

Pernikahan menciptakan ikatan sosial dan hubungan keluarga yang lebih luas antara pasangan, keluarga mereka, dan masyarakat.

6. Tujuan Agama dan Budaya

Di banyak agama dan budaya, pernikahan adalah tindakan sakral yang memiliki makna keagamaan dan tradisional yang mendalam.

Pernikahan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan prosedur, tergantung pada budaya, agama, dan hukum yang berlaku.

Definisi dan pandangan mengenai pernikahan juga dapat berbeda-beda antar wilayah di dunia dan antar komunitas.

Namun, hakikat pernikahan adalah terbentuknya ikatan antara dua individu dengan tujuan untuk saling berbagi kehidupan, cinta, komitmen dan tanggung jawab.

Cinta dalam pernikahan adalah proses yang berkelanjutan, memerlukan usaha bersama, dan harus tumbuh seiring berjalannya waktu.

Dalam Islam, pernikahan dianggap sebagai ikatan sakral, dan cinta antara suami dan istri harus dibina dengan kesadaran akan tanggung jawab agama dan moral dalam menjalani hidup bersama.

Maka dari itu, bukan hanya sekedar strategi dalam mencintai, tetapi memberi pembelajaran dan memotivasi diri agar mencintai dengan benar dan mendapatkan cinta yang sejati seperti,

Tulus

Cinta sejati adalah cinta yang tulus, tanpa motif atau kepentingan pribadi. Itu adalah cinta yang murni, diberikan tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Kasih Sayang dan Kelembutan

Cinta sejati mengandung unsur kasih sayang, perhatian dan kelembutan terhadap orang yang kita cintai. Hal ini melibatkan perhatian terhadap kebutuhan dan perasaan mereka.

Empati

Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami emosi orang yang kita cintai. Ini membantu kami mendukung mereka di saat baik dan buruk.

Terima

Cinta sejati menerima orang apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh memberikan masukan atau dorongan positif sambil tetap menerima orang tersebut.

Siap berkorban

Cinta sejati bisa mencakup pengorbanan diri demi kebahagiaan orang yang dicintai. Ini mungkin memerlukan waktu, tenaga, atau pengorbanan lainnya.

Hadiah penuh

Cinta sejati diungkapkan dengan menghargai dan menghormati orang yang kita cintai. Hal ini mencakup berbicara dengan sopan dan hormat, serta berusaha membuat mereka merasa dihormati.

Intelijen

Cinta sejati juga bijaksana. Ini berarti kita mempertimbangkan konsekuensi tindakan kita dan menjaga keseimbangan antara cinta dan kewajiban agama atau moral. 

Mematuhi Prinsip Agama

Apapun konteks cinta, jika kita menganut agama tertentu, cinta sejati harus selalu sesuai dengan nilai dan prinsip agama tersebut. Termasuk dengan penuh kesadaran menjalankan perintah agama.

Cinta sejati adalah cinta yang membawa kebahagiaan, kedamaian, dan kebaikan bagi semua orang yang terlibat.

Ini adalah cinta yang membantu kita tumbuh sebagai individu dan mendukung pertumbuhan dan kebahagiaan orang yang kita cintai.

Editor: Lail

Gambar: Pexels