Tarian tradisional kerap kali diasosiasikan dengan gerakan anggun, kostum adat khas, atau alunan musik daerah yang sakral. Di sisi lain, terdapat pula perspektif masyarakat memandang kehidupan, termasuk pemaknaan perempuan itu sendiri.

Tari klasik Gorontalo bukan sekadar pertunjukan seni. Masing-masing membawa pesan tentang karakter, peran, hingga nilai-nilai yang diharapkan tumbuh dalam diri seorang perempuan. Tak lekang oleh waktu, sebagian nilai tersebut masih relevan hingga saat ini, bahkan beririsan dengan pembahasan modern tentang perempuan yang berdaya, memiliki suara, dan mampu menentukan pilihannya sendiri.

Simbolisme Keperkasaan di Tangan Perempuan

Di mata awam, keris identik dengan keberanian dan kekuasaan seorang laki-laki. Namun, Tidi Lo Bituo membuka cara pandang lain dengan menghadirkannya di tangan perempuan.

Dengan uniknya, Tidi Lo Bituo seolah menyebutkan bahwa perempuan memiliki hak untuk menuntut keadilan, memperjuangkan kebenaran, dan bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan. Tarian ini tidak hanya menggambarkan perempuan sebagai sosok yang anggun, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki pertimbangan, keberanian moral, dan hak untuk menyuarakan apa yang benar.

Lekat dengan gagasan yang hari ini banyak diperbincangkan, Tidi Lo Bituo menyiratkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk berpikir, mengambil keputusan, dan menentukan sikapnya sendiri.

Lembut sebagai Kekuatan Karakter

Berbeda dengan Tidi Lo Bituo, Tidi Lo Tihuo lebih menekankan pendidikan karakter.

Tihuo diartikan sebagai dedak halus yang mudah diterbangkan angin. Filosofi ini digunakan untuk membentuk budi pekerti para gadis yang mulai memasuki masa remaja. Kelembutan yang dimaksud bukanlah kelembutan yang pasif, melainkan kelembutan yang lahir dari kedewasaan, kesabaran, dan kemampuan menjaga hubungan dengan orang lain.

Dalam tarian ini, para penari memainkan untaian rantai yang dihiasi bunga, mutiara, atau biji-bijian. Rangkaian tersebut melambangkan buhuta wawu walama, yaitu persatuan dan kesatuan. Melalui tarian ini, terdapat pesan agar perempuan tumbuh menjadi pribadi yang santun, menghormati sesama, serta mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai mengenai sopan santun dan keharmonisan bermasyarakat turut disampaikan pula melalui aksesori yang dikenakan penari.

Kucubu, aksesori yang dikenakan di bagian dada, menjadi simbol harapan agar perempuan memiliki hati yang lapang dan penuh kesabaran. Sementara itu, Baya lo Bo’ute melambangkan perempuan yang mampu berpikir positif, jernih, dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil. Hal itu ditunjukkan dari posisi aksesori yang diikatkan di kepala penarinya.

Dengan demikian, setiap bagian kostum bukanlah pelengkap penampilan, melainkan representasi bahwa kecantikan dalam budaya Gorontalo selalu berjalan berdampingan dengan karakter.

Lebih Berarti dari Sebatas Gerakan Tari

Jika diperhatikan, tari-tari klasik Gorontalo tidak hanya berbicara tentang keindahan gerak. Gambaran tentang sosok perempuan yang lekat dengan nilai-nilai budaya Gorontalo turut diceritakan di dalam tari-tari tersebut. Melalui kombinasi gerak tubuh dan ragam busana, perempuan direfleksikan sebagai sosok yang berani membela kebenaran, halus tutur kata dan budi pekertinya, sabar dalam menghadapi dinamika kehidupan, mampu berpikir jernih, hingga menghormati akar budayanya.

Pada hakikatnya, nilai-nilai tersebut lahir jauh sebelum istilah seperti kesetaraan gender atau feminisme dikenal seluas sekarang. Namun, beberapa di antaranya memiliki irisan dengan gagasan yang masih relevan hingga hari ini.

Barangkali, inilah yang membuat tari-tarian Gorontalo tetap hidup melampaui zamannya. Bukan hanya gerakan indah yang diwariskan, tetapi juga cara memandang perempuan sebagai pribadi yang utuh: memiliki kelembutan tanpa kehilangan keberanian, menjunjung kasih sayang tanpa mengabaikan kebijaksanaan, serta tetap berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan budayanya.

Gambar: Kompas