“Bang Toyib, Bang Toyib

Mengapa Tak Pulang-Pulang

Anakmu, Anakmu

Panggil-Panggil Namamu

Tiga Kali Puasa

Tiga Kali Lebaran

Abang Tak Pernah Pulang

Sepucuk Surat Pun Tak Datang

Sadar, Sadarlah Abang

Ingat Anak-Istrimu

Cepat, Cepatlah Pulang

Semua Rindukan Dirimu

Kalau Di Jalan Yang Benar

Selamatkanlah Dia

Kalau Di Jalan Yang Salah

Sadarkanlah Dirinya”

Lagu dangdut ini begitu populer sampai sekarang, menceritakan kisah pilu seorang istri yang cemas setengah mati karena suaminya mendadak hilang tanpa kabar selama tiga kali puasa dan tiga kali lebaran. Sepucuk surat pun tak pernah datang, menyisakan ruang hampa bagi anak dan istri yang terus merindukannya di rumah.

Namun seiring berjalannya waktu, karya legendaris ini pelan-pelan bertransformasi menjadi sebuah istilah bahasa. Gara-gara lagu ini, kita punya julukan baru. Siapa pun bapak-bapak atau suami yang pergi merantau lalu hilang kontak, tidak kirim uang belanja, dan mendadak lupa jalan pulang, bakal langsung dicap sebagai “Bang Toyib”. Tokoh ini resmi jadi simbol nasional buat para lelaki yang mendadak hilang ditelan bumi setelah pamit cari nafkah.

Kasus menghilangnya Bang Toyib sejatinya adalah misteri terbesar dalam jagat permusikan dangdut Indonesia. Selama belasan tahun, kita hanya disuguhi ratapan pilu sang istri tanpa pernah diberi kesempatan untuk mendengarkan klarifikasi dari pihak si abang. Publik telanjur mengecap Bang Toyib sebagai pria yang tidak bertanggung jawab.

Padahal, kalau kita mau membedah motif di balik minggatnya beliau dengan kacamata yang agak objektif, ada tiga kemungkinan logis yang membentang dari kisah mengharu biru sampai yang bikin emosi.

1. Harga diri seorang lelaki, pantang pulang sebelum membawa uang

Ini adalah potret nyata dari beban mental yang sering dipikul oleh banyak lelaki, terutama sebagai kepala keluarga. Bagi seorang lelaki perantau, ada sebuah hukum tidak tertulis bahwa harga diri diukur dari tebalnya dompet saat melangkah kembali ke kampung halaman.

Pulang tanpa membawa uang, bagi Bang Toyib, bukan sekadar masalah tidak bisa membeli baju lebaran untuk anak, melainkan sebuah pernyataan kekalahan telak sebagai seorang laki-laki. Dia merasa gagal memenuhi fungsi utamanya sebagai pelindung dan penyedia kebutuhan keluarga.

Ketakutan dipandang sebelah mata oleh mertua, tetangga, atau bahkan oleh istrinya sendiri, membuat egonya memilih untuk terus bertahan di perantauan. Dia memilih memeras keringat sampai titik darah penghabisan demi sebuah momen pulang yang terhormat, meski harus mengorbankan waktu bertahun-tahun jauh dari anak yang selalu memanggil namanya.

2. Sisi gelap di perantauan, Bang Toyib terjebak TPPO

Kita sering kali terlalu sinis dan buru-buru menuduh Bang Toyib sengaja menelantarkan keluarga. Bagaimana jika skenarionya jauh lebih gelap dari itu? Bagaimana jika Toyib sebenarnya adalah korban dari kejamnya sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)?

Bisa jadi, menjelang musim merantau, Bang Toyib tergiur tawaran kerja dari calo dengan iming-iming gaji dua digit di luar pulau atau bahkan luar negeri. Begitu sampai di lokasi, kenyataannya zonk. Paspor ditahan, telepon genggam disita, dan dia disekap di sebuah mess sempit untuk dipaksa bekerja pada sektor ilegal, seperti operator judi online atau sindikat penipuan siber.

Dalam kondisi terjebak perbudakan modern seperti itu, boro-boro bisa kirim uang belanja atau beli tiket bus mudik, untuk bertahan hidup dan memikirkan cara kabur saja susahnya setengah mati. Jika skenario kelam ini yang terjadi, maka Toyib sebenarnya sedang berjuang mempertahankan nyawanya. Situasi ini persis seperti kelanjutan lirik lagunya yang merupakan untaian doa tulus dari sang istri: “Jika di jalan yang benar, selamatkanlah dia.”

#3 Sukses di perantauan dan punya istri baru

Tentu saja, kita tidak boleh naif. Kemungkinan ketiga ini adalah jenis jalan cerita yang paling sering bikin netizen naik darah. Ada potensi bahwa Bang Toyib sebenarnya sukses besar di perantauan, tetapi dia memilih untuk tidak acuh dan pura-pura lupa jalan pulang karena sudah memiliki kehidupan baru yang lebih mapan.

Ada kalanya kesuksesan seseorang mengubah gaya berpakaiannya dan pemikirannya. Bang Toyib yang dulunya berangkat dengan modal semangat dan doa istri, nasibnya berputar 180 derajat. Dia mendapatkan kehidupan mewah di tanah rantau, entah karena bisnisnya mendadak meroket atau berhasil memikat hati wanita lain di sana.

Begitu mencicipi empuknya kasur mahal dan gemerlapnya kehidupan di kota, memori tentang rumah di kampung halaman langsung terkikis habis. Anak yang butuh susu formula dan istri yang menanti di depan pintu rumah sambil menangis tiap malam dianggap sebagai masa lalu yang buram. Bang Toyib sengaja mengganti nomor HP, memutus kontak, dan memilih “amnesia” demi menikmati jerih payahnya tanpa beban.

Melihat kelakuan Bang Toyib yang sudah melenceng jauh dari komitmen awal pernikahan ini, lirik lagunya pun berubah menjadi ratapan pasrah: “Kalau di jalan yang salah, sadarkanlah dirinya.” Sebuah doa pamungkas dari istri yang berharap agar hati suaminya ketuk oleh hidayah.

Itulah tiga kemungkinan di balik misteri mengapa Bang Toyib tidak kunjung melangkah pulang selama tiga kali puasa dan tiga kali lebaran. Lewat kisah Bang Toyib, kita diingatkan bahwa perjuangan di kota orang selalu membawa risikonya sendiri, entah berupa beban harga diri, ancaman kriminalitas yang mengintai nyawa, atau ujian kesetiaan.

Bagi para pejuang nafkah di kota orang, mengejar kesuksesan dan memperbaiki ekonomi keluarga itu memang sebuah keharusan. Namun ingatlah, pulang dengan selamat untuk berkumpul kembali bersama anak dan istri tetaplah segalanya.

Gambar: ANTARA News