Sebagai penduduk asli Sidoarjo, saya tidak memungkiri, perkembangan zaman yang pesat membawa dinamika pada wilayah pinggiran Surabaya ini. Kabupaten Sidoarjo tidak hanya tumbuh menjadi wilayah pendukung ekonomi Provinsi Jawa Timur, melainkan tumbuh dengan budaya dan lapisan bahasa yang menarik untuk diulik lebih dekat.

Bagi masyarakat luar, logat orang Sidoarjo seringkali digeneralisasi sebagai bahasa yang mengadaptasi “Suroboyoan”. Cirinya adalah tegas, blak-blakan, dan menggunakan partikel kata seru “Cuk” atau “Asu”. Dua kata tersebut yang biasanya identik sebagai kata umpatan menjadi partikel kata yang berubah fungsinya sebagai bumbu keakraban dalam percakapan sehari-hari.

Namun, jika kita bergeser dari wilayah utara (Kecamatan Waru) menuju ke arah selatan (Kecamatan Porong dan Krembung) atau ke wilayah barat (Kecamatan Krian dan Tarik), kita akan menemukan adanya fenomena transisi linguistik di tengah masyarakat: pudarnya dialek urban-pesisir dan menguatnya dialek agraris-pedalaman.

Fonologi yang “Melunak”

Penggunaan bahasa Suroboyoan di area Sidoarjo Kota ke utara, pelafalan bunyi vokal dan konsonan cenderung tegas. Khas masyarakat pesisir yang dipengaruhi kultur pelabuhan. Hal tersebut dikarenakan area Sidoarjo Kota hingga utara yang dekat dengan perbatasan Surabaya. Wilayah Surabaya yang identik dekat dengan kawasan pesisir memengaruhi persebaran bahasa Suroboyoan di wilayah Sidoarjo perbatasan hingga Sidoarjo Kota.

Sebagai contoh kata “Mene” (besok) di Waru terdengar pendek dan tegas. Namun, ketika memasuki pasar tradisional Krembung atau Tarik, kata tersebut mengalami “pelunakan” artikulasi sehingga terdengar memanjang atau terkesan “diseret”. Letak wilayah Krembung dan Tarik yang  berbatasan dengan Mojokerto dan Jombang memengaruhi cengkok Mojopaitan pada bahasa keseharian penduduknya.

Kosakata Agraris yang Khas

Perbedaan lainnya yang paling kontras adalah pilihan kata (leksikon) yang digunakan sehari-hari. Wilayah Sidoarjo selatan dan barat secara historis adalah daerah lumbung padi dan tebu. Hal ini melatarbelakangi kosakata penduduk setempat jauh lebih spesifik dalam menggambarkan alam dan aktivitas tani, ciri bahasa keseharian yang sangat berbeda dengan penutur bahasa Suroboyoan di area Waru dan sekitarnya.

Kosakata Urban (Sidoarjo Utara)Kosakata Agraris (Sidoarjo Selatan/Barat)Arti/Makna
GaringNgemprok/AkasKondisi tanah atau benda yang sangat kering hingga pecah-pecah.
UdhanNgrejehHujan gerimis yang awet dan berlangsung seharian.
MelokKatutIkut (ada kesan keterbawaan secara pasif).
Awakmu/KoenSampeyan/PenoKamu (merujuk pada makna orang kedua yang memiliki hubungan keakraban).
Arek-arekBocah-bocah/Cah-cahPanggilan untuk anak-anak.

Penggunaan Tingkat Bahasa yang Lebih Terjaga

Di wilayah urban Sidoarjo, penggunaan Jawa Ngoko Lugu (kasar/setara) sangat dominan. Bahasa Jawa Ngoko Lugu bahkan sering digunakan oleh penutur tingkatan usia muda kepada usia tua (anak kepada orang tua) karena adanya pengaruh kota metropolitan (Surabaya). Sebaliknya, di wilayah bagian agraris Sidoarjo seperti Wonoayu, Prambon, Krembung, dan Tarik, struktur masyarakat komunal-agraris masih sangat dominan.

Pada percakapan keseharian, anak-anak muda di sana menggunakan tuturan Bahasa Jawa dengan tingkatan Ngoko Alus atau Krama Madya jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Kata ganti “Sampeyan” jauh lebih dominan di wilayah selatan dibandingkan dengan kata “Koen” atau “Kon” yang terdengar lazim di utara.

Secara geografis, Sidoarjo berbentuk delta yang dijepit oleh dua pecahan Sungai Brantas: Kali Mas di utara dan Kali Porong di Selatan. Sisi utara (Kali Mas) menjadi jalur industri dan urbanisasi massal, membuat bahasanya melebur total dengan dinamika Surabaya yang menjadi wilayah pesisir. Sedangkan sisi selatan (Kali Porong), secara historis merupakan wilayah serapan budaya agraris Majapahit dan Jenggala.

Sifat masyarakat agraris seperti merawat tanah dan menetap menjadi ciri khas masyarakat komunal yang mempertahankan nilai, sehingga membuat bahasa masyarakatnya lebih banyaj kosakata dan intonasi yanng tidak seagresif masyarakat pesisir.

Meskipun sering “dianaktirikan” karena letaknya di pinggiran Surabaya, penggunaan bahasa yang bervariasi menunjukkan bahwa Sidoarjo tetap merawat kekayaan budaya dan bahasa di tengah pesatnya perkembangan ekonomi dan teknologi.

Editor: Salman
Gambar: Wikipedia