MALANG – Permasalahan panen raya yang melimpah namun justru dibarengi dengan merosotnya harga jual kerap menjadi momok menyebalkan bagi para petani lokal. Fenomena ketidakstabilan harga ini mendorong sekelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk turun tangan memberikan solusi nyata. Melalui program Projek Kepemimpinan, tim yang diketuai oleh Ivone Yuliantina di bawah bimbingan Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd. menggelar aksi pemberdayaan masyarakat yang kekinian di Desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Kawasan dataran tinggi Pujon selama ini memang sudah sangat terkenal sebagai salah satu sentra penghasil sayuran hortikultura, khususnya wortel segar di wilayah Malang Raya. Namun, saat musim panen melimpah tiba, muncul masalah klasik terkait proses sortasi pascapanen. Wortel yang berukuran terlalu kecil, memiliki tekstur kurang sempurna, atau mengalami cacat fisik biasanya dikategorikan sebagai hasil afkir yang tidak masuk kualifikasi pasar komersial. Jika tidak diolah secara kreatif, hasil panen yang tak terserap ini berujung menjadi limbah dan kehilangan nilai ekonomisnya.

Melihat potensi besar yang terbuang sia-sia tersebut, sepuluh mahasiswa PPG UMM berinisiatif mengadakan serangkaian pelatihan bagi ibu-ibu PKK serta perwakilan kelompok tani di Dusun Bagean. Beda dari pelatihan konvensional, para peserta diajak mengeksplorasi pembuatan dua produk turunan wortel yang bernilai jual tinggi dan relevan dengan tren pasar saat ini, yaitu Veggy Gummy dan Carolive.

(Foto : Mahasiswa UMM Melakukan Pelatihan Pengolahan Wortel Dengan Mayarakat)

Veggy Gummy dikembangkan sebagai produk permen jelly kenyal berbahan dasar sari wortel murni yang kaya akan kandungan betakaroten serta provitamin A. Produk ini dirancang sebagai alternatif camilan sehat bernutrisi yang disukai anak-anak. Sementara itu, produk yang paling menyita perhatian dan bikin penasaran adalah Carolive. Carolive merupakan minyak perawatan kulit (skincare) dan rambut alami yang memadukan ekstrak wortel segar, minyak zaitun (virgin olive oil). Kandungan antioksidan alaminya efektif melembapkan jaringan kulit, mencegah penuaan dini, sekaligus menjaga kesehatan rambut.

Inovasi unik yang memadukan komoditas hasil bumi pedesaan dengan tren skincare herbal ini langsung mendapatkan antusiasme luar biasa dari para peserta pelatihan. Salah seorang penerima manfaat yang mengikuti jalannya kegiatan mengaku sangat terkesan usai mempraktikkan langsung proses pembuatannya.

“Pelatihan ini membuka wawasan baru bahwa wortel bukan hanya diolah menjadi olahan makanan tetapi bisa juga digunakan sebagai produk kecantikan,” ungkapnya dengan gembira.

(Foto : Mayarakat Mencoba Olahan Wortel)

Tidak berhenti pada pengembangan produk yang estetik, tim mahasiswa UMM juga menerapkan prinsip ramah lingkungan berbasis zero waste. Ampas padat sisa penyaringan sari wortel dari proses pembuatan permen maupun minyak kecantikan tidak dibuang begitu saja. Seluruh residu organik tersebut dikumpulkan kembali untuk dialokasikan sebagai pakan budidaya maggot (Black Soldier Fly) milik warga setempat. Konsep ekonomi sirkular ini memastikan seluruh alur produksi berjalan tanpa menyisakan limbah lingkungan baru.

Melalui sentuhan kreasi berbasis social entrepreneurship khas anak muda ini, wortel hasil sortasi yang awalnya dihargai murah berhasil ditingkatkan nilai ekonominya hingga 2 sampai 3 kali lipat. Guna menjaga keberlanjutan program, mahasiswa UMM turut menyerahkan modul panduan resep standar (SOP), mendampingi pembentukan cikal bakal UMKM desa, serta membekali warga dengan strategi digital marketing melalui media sosial. Langkah inovatif ini membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa mampu menyulap potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang berdaya saing.

Editor: Salman
Gambar: Dokumentasi pribadi