Zaman sudah maju, tapi suka mengoleksi barang lawas
Ada satu fenomena unik yang belakangan kerap berseliweran di lini masa media sosial: anak muda zaman sekarang makin hobi mengoleksi barang-barang vintage. Mulai dari kamera digicam era 2000-an, piringan hitam, pakaian bekas impor (thrifting), sampai kaset pita tua. Di tengah serbuan teknologi AI dan ponsel canggih, Gen Z justru rela merogoh kocek mendalam demi sesuatu yang terkesan lambat, pudar, dan usang.
Kalau dipikir secara harfiah, fenomena ini memang terkesan bertolak belakang. Mengapa generasi yang lahir di puncak era digital justru memilih untuk berpaling ke masa lalu yang mungkin belum pernah mereka alami secara langsung?
Tetapi justru di situlah menariknya. Gen Z mengusung nostalgia yang sebenarnya bukanlah sekadar ikut-ikutan tren estetika visual. Lebih dari itu, pelarian ke masa lalu adalah mekanisme pertahanan diri terhadap beban masa depan yang terasa kian tak pasti.
Menjadi Gen Z hari ini bukanlah perkara yang mudah. Mereka tumbuh di era ketika berita krisis iklim, mahalnya harga rumah, sulitnya mencari pekerjaan tetap, hingga ancaman otomatisasi AI membanjiri layar ponsel setiap detik. Ekspektasi untuk sukses di usia muda begitu tinggi, sementara pijakan ekonomi terasa makin licin.
Barang-barang vintage memiliki kesan tersendiri
Dalam kajian psikologi, kecenderungan menyukai objek atau era dari masa lalu dikenal dengan istilah anemoia—nostalgia atas masa yang tidak pernah dialami sendiri. Gen Z mempersepsikan era 80-an hingga awal 2000-an sebagai era yang lebih hangat, lambat, dan memiliki kepastian. Era di mana manusia belum terikat oleh algoritma dan tuntutan untuk selalu online selama 24 jam sehari.
Ketika masa depan menawarkan banyak kecemasan, masa lalu—dengan segala estetika analognya—menawarkan tempat berteduh yang aman.
Mencari keotentikan di dunia yang terlalu cepat merupakan salah satu cara untuk merealisasikan emosional mereka melalui Kamera digicam jadul, Meskipun tidak memberikan hasil foto yang sempurna, melainkan gambar berbutir (grainy) dengan pencahayaan yang kadang meleset. Namun, keterbatasan itulah yang dicari. Di dunia yang makin serba cepat dan terpola oleh cetak biru media sosial, Gen Z merindukan keotentikan dan imperfections (ketidaksempurnaan).
Mengoleksi barang retro bukan berarti Gen Z menolak kemajuan teknologi. Ini adalah bentuk cara mereka menentukan batas. Mereka ingin memegang kendali atas kecepatan hidup mereka sendiri, setidaknya lewat objek fisik yang bisa disentuh dan dirasakan, bukan sekadar file digital di dalam cloud.
Sensasi memegang fisik barang retro ini memberikan rasa memiliki (sense of belonging) yang nyata di tengah dunia digital yang serba semu. Saat memutar pita kaset atau menunggu hasil cetak foto analog, Gen Z diajak untuk melatih kesabaran—sebuah kemewahan yang makin langka di era serba instan. Proses yang lambat ini menjadi ruang rehat sejenak dari riuk-pikuk media sosial yang menuntut ketepatan dan efisiensi setiap saat.
Bukan hanya estetika, tapi juga nostalgia
Fenomena ini pada akhirnya membuktikan bahwa di balik kecanggihan era modern, kebutuhan dasar manusia akan ketenangan dan keterhubungan fisik tidak pernah benar-benar hilang. Gen Z hanya sedang merajut kembali rasa tenang yang sempat tergerus oleh laju zaman.
Nostalgia ini pada akhirnya menjadi kompas kecil. Jika masa depan terasa terlalu kabur untuk direncanakan, menengok sejenak ke masa lalu memberikan rasa memiliki dan ketenangan. Gen Z tidak sedang melarikan diri dari realitas, melainkan sedang mengumpulkan energi untuk terus berjalan di era yang terus berubah cepat ini.
Editor: Salman
Gambar: Pinterest

Comments