Salatiga, 17 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) di Kelurahan Kauman Kidul mendorong warga memanfaatkan bahan sederhana di sekitar rumah untuk mengelola sampah, menghemat pengeluaran, dan menjaga kesehatan.
Salah satu program yang dilakukan adalah mengolah sampah organik menjadi pupuk menggunakan komposter berbahan galon bekas. Di tengah pemberlakuan Retribusi Pelayanan Kebersihan dan Persampahan (RPKP) di Kota Salatiga sejak 1 Januari 2026, komposter tersebut dapat dibuat dengan biaya Rp750 hingga Rp5.750, menggunakan dua galon bekas, EM4, dan molase.

Realita Reliana, mahasiswa Akuntansi UNDIP yang tergabung dalam tim KKN, mengatakan perhitungan biaya dilakukan untuk melihat potensi penghematan bagi warga.
“Sebagai mahasiswa Akuntansi, saya bertanggung jawab menghitung secara detail biaya pembuatan komposter dan membandingkannya dengan potensi pengeluaran retribusi sampah. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan investasi kurang dari Rp10.000, warga bisa menghemat hingga Rp100.000 per bulan,” jelasnya.
Dari proses pengomposan, warga dapat memperoleh pupuk cair dan pupuk padat untuk tanaman pekarangan. Program ini menjadi implementasi SDGs poin ke-12, Responsible Consumption and Production, melalui pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Selain pengelolaan sampah, mahasiswa KKN UNDIP memanfaatkan tanaman serai yang banyak ditemukan di pekarangan warga sebagai bahan spray anti nyamuk.
Program tersebut dilakukan setelah mahasiswa mengikuti kegiatan grebek jentik di beberapa RW Kelurahan Kauman Kidul. Dari 30 rumah yang diperiksa, lima rumah atau 16,7 persen positif memiliki jentik nyamuk.
Serai kemudian diolah dengan tambahan etanol 70% dan air bersih menjadi spray anti nyamuk. Biaya produksinya sekitar Rp23.000 untuk 600 ml yang tahan 2-3 bulan, atau sekitar Rp255 per hari. Berdasarkan perhitungan tim, angka tersebut lebih hemat dibandingkan obat nyamuk bakar Rp900 per hari, aerosol Rp1.200 per hari, dan elektrik Rp500 per hari.
“Yang membuat saya bangga, program ini memanfaatkan potensi lokal. Serai tumbuh subur di pekarangan warga tanpa perawatan khusus. Dengan sedikit edukasi, serai yang selama ini hanya jadi bumbu dapur bisa menjadi produk yang melindungi keluarga dari penyakit,” tambahnya. Program ini mendukung SDGs poin ke-3: Good Health and Well-being.
Kedua program tersebut dirancang saling berkaitan. Sampah organik dari dapur diolah menjadi kompos yang menyuburkan tanaman serai. Tanaman serai kemudian dipanen untuk dibuat spray anti nyamuk, sementara botol bekasnya dapat kembali digunakan untuk membuat spray baru.
“Kami tidak datang dengan program yang berdiri sendiri. Kami merancang semuanya agar saling terhubung. Saya sebagai mahasiswa Akuntansi fokus pada analisis biaya dan proyeksi penghematan, sementara rekan-rekan tim dari disiplin ilmu lain berkontribusi sesuai keahlian masing-masing,” ujar Realita.
Pelaksanaan program juga berbarengan dengan rangkaian perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di RT 01 RW 03. Mahasiswa KKN UNDIP turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, mulai dari persiapan, dekorasi lingkungan, hingga keberjalanan acara jalan santai dan lomba 17-an.
Untuk mendukung keberlanjutan program, mahasiswa KKN UNDIP memasang infografis “Habiskan Sampah, Hasilkan Pupuk” dan “Nilai Ekonomis Spray Anti Nyamuk” di Balai RW. Rata-rata 30 warga hadir dalam setiap sesi sosialisasi dan pelatihan. Tim juga meninggalkan komposter percontohan, spray serai yang sudah jadi, dan infografis agar program dapat dilanjutkan warga setelah kegiatan KKN berakhir.
Program KKN UNDIP di Kauman Kidul menunjukkan bahwa galon bekas, sampah organik, dan serai di pekarangan dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan, penghematan biaya, dan peningkatan kesehatan masyarakat.
Editor: Salman
Gambar: Dokumentasi KKN-R UNDIP Desa Kauman Kidul

Comments