Merapatnya Rocky ke pemerintahan

Terseretnya Rocky Gerung ke pemerintahan masih menjadi bahasan asyik yang belum lagi basi. Semenjak resmi menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), banyak kalangan menyebut Rocky berkhianat. Ia dianggap keluar dari medan perjuangan. Sebagaimana publik tahu, Rocky sebermulanya dikenal orang oleh keberaniannya melantunkan kritik-kritik tajam kepada pemerintah. Kata “dungu” menjadi salah satu jurus yang dahulu kerap ia andalkan untuk menyerang pemerintahan era Joko Widodo (Jokowi). Kini, ia justru masuk ke pemerintahan dengan tangan terbuka sembari menjanjikan diri untuk mengusung perubahan. Meskipun, seperti Zaenal Arifin Mochtar sangsikan, janji itu tampak “agak sulit” atau bahkan sama sekali mustahil terwujudkan.

Namun demikian, catatan ini sebetulnya tak hendak menelanjangi lebih lanjut pilihan “strategis” yang Rocky Gerung ambil. Perkara lain yang sebetulnya perlu pula untuk ditelanjangi ialah bagaimana Prabowo sebagai pemegang kendali kekuasaan menjalankan strategi politiknya. Merekrut akademisi publik atau filsuf serupa Rocky Gerung ke dalam pemerintahannya bisa diduga merupakan bagian dari upaya memperkuat legitimasi. Kebijakan Prabowo yang selama ini banyak dikritik, seperti program makan bergizi gratis (MBG), bisa “disucikan” lewat beragam retorika menyilaukan dari para cerdik pandai. Toh, Rocky Gerung pun telah terang-terangan membela program MBG dengan menyebutnya sebagai bagian dari amanat konstitusi. Prabowo pun ia sanjung sebagai “Bapak Sosialisme”.

Jadi, terang sudah betapa suksesnya strategi politik dari mantan Danjen Kopassus itu, bukan?

Prabowo meniru strategi Miterrand?

Prabowo bukanlah figur presiden pertama yang memanfaatkan kecemerlangan otak para cendekiawan untuk menopang tegaknya kaki-kaki pemerintahan. Presiden Perancis, Francois Mitterrand, dahulu merupakan pemimpin yang getol mengundang para filsuf ke Istana Elysee. Ia mengumpulkan para pemilik otak arif tersebut untuk membincang bersama berbagai masalah sosial dan politik teraktual. Peter Thomas dan Alberto Toscano dalam buku terjemahan Filsafat di Masa Kini menyebut bahwa strategi Mitterrand tersebut berhasil membentuk citra dirinya sebagai seorang presiden intelektual. Meski tak ada yang tahu apakah obrolan dengan para jenius di masanya turut mempengaruhi kebijakan politiknya, Mitterrand sukses membikin rakyatnya merasa bahwa mereka tidak dipimpin seorang yang dungu.

Prabowo persis menjiplak Mitterrand. Sepanjang dua tahun kepemimpinannya, menantu dari Soeharto ini rajin mengundang para cendekiawan ke Istana Negara. Awal tahun 2026 lalu, ia me-mangayubagya 1.200 akademisi kampus ke Istana Negara Jakarta untuk mendiskusikan masalah sosial humaniora. Teranyar, September 2026 kemarin, giliran para akademisi dan ilmuwan lingkungan yang ia sambut dalam bahasan soal lahan gambut dan bencana karhutla. Sementara, khusus untuk Rocky Gerung, sebelum dilantik sebagai Anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026 lalu, ia pernah menyambangi Prabowo di Istana Negara saat peristiwa reshuffle kabinet. Rocky sendiri pernah mengaku bahwa dirinya berulang dipanggil Prabowo ke Hambalang, tapi call itu ia tolak. Kelihatannya, tanpa jabatan resmi, Rocky emoh dipanggil-panggil!

Bagaimana dengan intelektual publik lainnya?

Peter Thomas dan Alberto Toscano agaknya benar, bahwa “Biar bagaimanapun, diundang ke meja kekuasaan tampaknya menyodorkan daya tarik besar bagi mereka.” “Mereka” itu tentunya tak lain ialah Rocky Gerung, segolongan akademisi, dan jangan lupa: bisa pula kita sendiri! Kita hanya lagi memadu-layakkan diri untuk bisa dipanggil sebagai intelektual publik, beroleh eksposur dan engagement tinggi di media sosial, lalu tampil gemilang di meja Indonesia Lawyers Club (ILC). Sambil menjuruskan berbagai serangan, bolehlah mata melirik kiri-kanan mencari utusan penguasa. Lalu pada pamungkasnya, tinggal tandai saja tanggal di kalender agar tak lupa hari apa dipanggil Prabowo ke Istana Negara.

Bukannya demikian?

Editor: Salman
Gambar: Liputan6.com