Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah yang sudah berjalan sejak 2025. Program ini cukup membantu perekonomian masyarakat kecil dengan meminimalisir pengeluaran uang jajan anak-anak. Namun, apakah program ini sudah berjalan semestinya?
Dari yang saya lihat di daerah saya yaitu Sulawesi Tenggara, pelaksanaan MBG berjalan dengan lancar. Anak-anak SD juga tetap membawa pulang makanan kering dari MBG tiap harinya selama Bulan Ramadan.
Permasalahan Cakupan Gizi
Saya meilhat anak-anak tingkat dasar menikmati makanan. Bahkan, membuat mereka bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tapi, makanan bergizi gratis ini kerap tidak sesuai dengan namanya yakni “bergizi”. Mungkin mengenyangkan, tapi apakah nutrisi yang terkandung bisa memenuhi gizi anak?
Porsi yang diberikan tidak seimbang. Terkadang ada buah terkadang pula tidak. Belum lagi kacang yang akhirnya tergelatak begitu saja karena tidak termakan oleh anak-anak. Program yang bermanfaat, tapi perlu banyak evaluasi.
Banyak temuan menu MBG yang menimbulkan berbagai pertanyaan: apakah menu makanan bergizi gratis ini layak? Apakah dapat mendukung perkembangan anak, dan bukan menyumbang gula? Kenapa memberikan makanan cepat saji?
Pergeseran Tujuan Anak-anak Ke Sekolah
Dari sudut pandang anak yang belum memahami gizi dengan baik, MBG menjadi momen yang ditunggu tiap anak. Bahkan, membuat anak semangat bersekolah untuk mendapatkan MBG. Tapi, ada temuan yang mulai mengkhawatirkan.
Keponakan saya yang masih menginjak tingkat dasar kemarin tidak berangkat ke sekolah. Saya pun menanyakan, “Kenapa hari ini tidak ke sekolah?”.
Jawaban yang ia berikan membuat saya tercengang. Katanya, “Karena tidak ada MBG hari ini, jadi tidak pergi sekolah”.
MBG telah menjadi daya tarik utama mereka pergi ke sekolah, bukan lagi belajar. Jadi, tujuan ke sekolah untuk MBG atau menuntut ilmu?
Belajar bukan lagi prioritas, malah mengambil MBG di sekolah yang pada akhirnya ditunggu-tunggu. Bahkan, ada anak yang tidak apa-apa untuk tidak pergi ke sekolah, asal bisa dibawakan MBG ke rumahnya.
Sekolah seharusnya menjadi wadah untuk belajar, dan menimba ilmu pengetahuan bagi anak-anak. Tapi, anak-anak dan sekolah lebih sibuk untuk urusan MBG.
Keselarasan Antara Pembelajaran dan MBG
Seharusnya program ini menjadi bagian tambahan pendukung anak-anak belajar dengan lebih baik di sekolah, bukan menggantikan proses belajarnya.
Karena anak-anak utamanya membutuhkan pembelajaran yang layak, ilmu pengetahuan yang menunjang kehidupan, kemampuan berpikir kritis. Sehingga meningkatkan kualitas hidup mereka.
Jangan sampai makanan bergizi gratis membuat pemerintah lupa memprioritaskan pembelajaran yang layak dan baik. Masih banyak anak-anak yang tidak bisa membaca. Indonesia butuh anak cerdas, bukan hanya anak kenyang.
Editor: Hafidz
Gambar: Pinterest

Comments