Nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah akhirnya menyentuh 18.037 rupiah per 4 Juni 2026. Vhooooooooom!!! Pertama kalinya dalam sejarah dunia!

Emang apa dampaknya buat kita rakyat kecil? Kan, kata Pak Presiden kita gak pakai uang dolar. Nah, buat brodi-brodi yang gak merasakan krisis moneter Tahun 1998, sini kita kilas balik dulu ke momen peresmian Koperasi Desa Merah Putih beberapa waktu yang lalu.

Kilas Balik Peresmian Kopdes

Saat momen peresmian Koperasi Desa Merah Putih yang bertepatan dengan awal mula nilai tukar dolar AS terhadap rupiah menembus 16 ribu rupiah, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa orang desa tidak menggunakan dolar, “Orang, rakyat desa nggak pakai dolar kok. Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.”

Sekilas, pernyataan Prabowo terdengar masuk akal. Kebanyakan dari kita tidak menyimpan dolar di dompet atau rutin belanja ke luar negeri. Jadi, kenapa harus ikut pusing saat rupiah melemah? 

Tapi, di tengah ekonomi yang saling terhubung, apakah persoalannya memang sesederhana itu? 

Orang Desa Emang Gak Pakai Dolar, Tapi…

Kita emang paham bahwa ga ada orang di desa yang transaksi pakai mata uang dolar AS. Tapi, ternyata masalahnya nggak sesederhana itu.

Singkatnya nih, rupiah melemah berarti nilai tukar rupiah menurun terhadap mata uang asing (termasuk dolar AS). Beberapa tahun yang lalu, 1 USD (dolar AS) masih dapat dibeli dengan uang 15 ribu rupiah, sedangkan sekarang saat tulisan ini dibuat (Mei 2026), perlu uang 18 ribu rupiah untuk dapat ditukar menjadi 1 USD (dolar AS).

Ini bukan berarti uang di dompet kita menjadi lebih sedikit. Jumlahnya tetap sama. Tetapi, daya beli rupiah terhadap barang, jasa, atau komoditas yang terkait dengan perdagangan global menjadi lebih lemah. Hal ini bisa terjadi karena banyak transaksi internasional menggunakan dolar AS sebagai acuan.

Karena banyak perdagangan internasional menggunakan dolar AS sebagai acuan, maka pelemahan rupiah membuat biaya membeli barang, jasa, atau bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal. Dalam banyak kasus, kenaikan biaya ini kemudian diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen. 

Apa Dampaknya Kalau Rupiah Melemah?

Karena Indonesia terhubung dengan perdagangan global, maka melemahnya rupiah pasti akan berdampak pada hidup kita. Salah satu dampaknya dirasakan oleh mahasiswa dan pekerja. Hal ini karena harga laptop dan gadget yang naik gila-gilaan. Harga laptop dan gadget melesat naik karena banyak komponen yang harus dibeli dari pasar luar negeri. Dan komponen tersebut harganya mengacu terhadap dolar AS. 

Hal serupa juga terjadi pada layanan digital yang sering dinikmati anak muda. Platform berlangganan seperti Netflix dan Spotify ikut merangkak naik. Platform-platform seperti itu berpotensi menyesuaikan harga karena biaya operasional dan model bisnisnya terhubung dengan pasar global. 

Tak hanya mengancam anak muda dan pekerja, kenaikan harga juga terasa dampaknya di dapur rumah tangga. Bahan-bahan pokok seperti kedelai dan gandum yang masih bergantung dari luar negeri juga terkena imbas dari lemahnya kurs rupiah. Walaupun tidak bertransaksi menggunakan dolar, harga makanan yang tersaji di meja makan turut mengalami kenaikan.

Lantas apakah hanya komoditas impor yang terkena dampaknya? Sayangnya, jawabannya tidak

Komoditas industri dalam negeri lainnya juga ikut mengalami kenaikan harga. Ini terjadi karena mesin dan suku cadang produksi masih harus impor dari pasar luar negeri. Sehingga, biaya produksi menjadi melonjak dan kenaikannya terpaksa dibebankan kepada konsumen agar produksi tetap berjalan. Jika demikian, walaupun komoditasnya bukan hasil impor, tetapi biaya pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi yang terjadi di dalam negeri juga ikut membengkak dan membuat harga di tingkat konsumen semakin meningkat.

Hey, hey, no, no abai yah, no, no!

Sekarang kita jadi mengerti kalau memang orang desa tidak pakai dolar. Walaupun sebenarnya sistem ekonomi modern bekerja jauh lebih rumit dari logika sederhana seperti itu.

Indonesia bukanlah negara yang sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Bahkan, struktur impor indonesia masih didominasi bahan baku yang mencapai angka 70%. Jadi, wajar saja jika hampir segala sektor merasakan dampak dari melemahnya kurs rupiah.

Dampak melemahnya rupiah tidak selalu datang secara kasat mata, tetapi yang pasti dampaknya tidak boleh diabaikan. Kita mungkin tidak menggunakan dolar AS dalam transaksi sehari-hari, tetapi dampak nilai tukarnya tetap bisa hadir dalam harga laptop, biaya langganan digital, sampai makanan yang tersaji di meja makan.