Beberapa hari terakhir di halaman For Your Page atau FYP–sebutan beranda atau home di TikTok—saya terdapat gelombang tren Furab. Furab sendiri merupakan akronim dari dua influencer ternama yakni Fuji alias Fujianti Utami Putri dan Arap alias Reza ‘Arap’ Oktovian. Tren Furab sejatinya adalah ‘perjodohan’ yang dilakukan oleh netizen terhadap mereka berdua setelah Erika Carlina, Rachel Vennya, dan Fuji menjadi bintang tamu di program Marapthon “The Last Tale” –program live streaming 24 jam milik Reza Arap di kanal Youtubenya.
Tren seperti Furab ini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Tren ‘shipping’ antar dua selebritis marak terjadi sebelumnya. Tapi, yang membuat tren Furab ini menjadi unik dan menarik adalah kreativitas netizen dalam memviralkan tren ini. Mulai dari konten-konten tim Furab tiap daerah, simbol emot hati berwarna ungu, sampai lagu Furab fan-made yang dipopulerkan creator @gitasmaraa di TikTok.
Dari Hate Speech ke Trolling
Usut punya usut, ternyata pada awalnya tren ini dibuat bukan oleh penggemar Fuji maupun Arap, melainkan oleh para haters mereka. Sebagai dooms scroller akut, saya melihat ada yang menarik ketika ada dua komunitas haters yang malah ‘ngeship’ orang yang nggak disukai.
Seperti yang kita tau, menurut survei Digital Civility Index yang dilakuakan oleh Microsoft pada tahun 2020 menempatkan netizen Indonesia sebagai netizen yang paling nggak ramah nomor 29 dari 32 negara. Survei tersebut menyoroti tingkat hoax, hate speech, dan bullying.
Haters yang notabene lekat dan tak terpisahkan dengan perilaku hate speech dan bullying, justru pada tren Furab ini terkesan kontradiktif. Daripada membully, haters justru shipping dua personal tersebut. Bahkan aktif membuat konten yang kreatif, full effort dan tanpa pakai akun bodong yang sifatnya trolling dan harmless.
Netizen Lelah Marah-Marah
Dalam dunia digital, kegiatan hate speech dan bullying adalah pekerjaan emosional yang sangat melelahkan. Netizen harus terus mencari celah kesalahan, memvalidasi kemarahan, dan berdebat dengan pendukung sosok tersebut. Namun, ada titik jenuh dimana netizen merasa ‘investasi’ emosi yang diberikan nggak mendapat respon–sebagai imbalan atau award—dari yang dibenci.
Trolling muncul sebagai pilihan yang lebih efisien tanpa perlu marah-marah. Dengan melakukan shipping antara Fuji dan Arap, netizen dapat mengeluarkan low-effort dan mendapatkan high impact dalam menyolek kedua sosok tersebut. Saking high impactnya, tren Furab ini udah meracuni media sosial sama seperti gosip-gosip artis lama kawakan yang diliput program-program televisi.
Aksi dan Reaksi di Dunia Maya adalah Permainan Netizen
Melakukan hate speech dan bullying terhadap artis atau influencer mungkin sangat impactful untuk mendapatkan perhatian dan reaksi yang dibully satu dekade lalu. Namun, saat ini artis atau influencer cenderung lebih santai dan bodo amat dalam menanggapi para haters di media sosial. Berubahnya reaksi ini tentu membuat para haters putar otak, cari cara bagaimana agar aksi mereka dapat direspon oleh sosok yang diserang.
Hate speech dan bullying bersifat memecah belah dan harmful, sementara trolling bersifat menyatukan dan harmless. Pada kasus Furab, trolling ‘Furab’ berhasil menyatukan followers –bisa penggemar maupun haters—Fuji dan Arap. Untuk mengumpulkan followers mereka dibutuhkan 378 Stadion Old Trafford milik Manchester United atau 1366 Stadion Internasional Maguwoharjo kandang PSS Sleman. Jumlah yang fantastis bukan?
Selain itu, netizen juga mendapatkan reaksi dari Fuji dan Arap secara cuma-cuma. Bisa diliat dari repost-an media sosial mereka, maupun reaksi Reza Arap saat dikerjai teman-temannya di Marapthon The Last Tale. Bagi Fuji dan Arap, reaksi yang mereka berikan mungkin biasa aja. Tapi bagi netizen, ini adalah poin kemenangan telak nan mahal. Netizen tau bahwa kemungkinan pasangan ini benar menjadi pasangan hampir mustahil, namun itulah yang membuat ‘permainan’ ini jadi seru bagi mereka.
Penutup: Anabel
Menurut anabel alias analisis gembel saya, trolling yang dilakukan netizen ini jauh lebih baik ketimbang hate speech yang dilakukan beberepa tahun lalu. Selain harmless bagi mereka yang ‘diserang’, trolling juga lebih menyenangkan dengan cara-cara yang lakukan netizen. Seakan-akan topik Furab ini sekadar ceng-cengan di tongkrongan. Kalo ada yang baper, tinggal katain aja, “yee ga asik lu”.
Jadi kamu tim Furab atau Rabun?
Editor: Hafidz
Foto: Pinterest

Comments