Pernahkan kalian merasa bosan, sepi atau saat ramai terkadang terasa pusing? Setelah kalian merasa seperti itu secara tidak sadar atau sadar mengalihkannya dengan kegiatan scroll media sosial, salah satunya yakni aplikasi TikTok. Siapa sangka perilaku tersebut masuk dalam pembahasan Psikologi Lingkungan.
Manusia dan Tanggung Jawabnya Terhadap Lingkungan
Menurut Iskandar (2012) Psikologi Lingkungan adalah ilmu yang mempelajari hubungan interelasi antara tingkah laku manusia dengan lingkungan fisik (alam dan buatan) dan lingkungan sosial (manusia) sebagai suatu lingkungan yang utuh dan tidak dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu lingkungan fisik dan sosial.
Berdasarkan konsep ini, manusia memikul tanggung jawab terbesar terhadap kondisi lingkungan saat ini. Era saat ini, lingkungan fisik tidak hanya alam melainkan lingkungan buatan termasuk smartphone, desain, notifikasi, aplikasi TikTok dan lain sebagainya.
Lingkungan digital didesain untuk menarik perhatian, berkomunikasi menjadi lebih mudah, dan memberikan stimulus yang cepat. Artinya, perilaku scroll TikTok berlebihan bukan hanya faktor individu, tapi juga dipengaruhi oleh desain lingkungan digital.
Arousal Theory dan Perilaku Scroll TikTok
Beberapa teori yang dapat dipelajari di psikologi lingkungan, salah satu yang sangat relevan dengan topik pembahasan kali ini ialah Arousal Theory. Weinberg (2007:78) mengatakan, bahwa gairah (arousal) adalah perpaduan antara aktivitas fisiologis dan psikologis pada seseorang, dan mengacu dimensi intensitas motivasi pada momen tertentu.
Mengapa teori ini dapat diterapkan pada scroll TikTok yang berlebihan? Karena dapat memicu adanya perpaduan aktivitas fisiologis yang berupa reaksi tubuh terhadap vidio atau konten yang dilihat secara berlebihan dan psikologis yang berupa emosi dan motivasi untuk terus melihat konten.
Scroll TikTok yang berlebihan dapat meningkatkan arousal disebabkan adanya emosi kepuasan tersendiri mendapatkan informasi, inspirasi hidup, dan lain sebagainya. Sehingga, otak terus aktif memproses visual, suara, dan teks.
Perihal konten menarik atau unik menciptakan rasa penasaran akibatnya kegiatan scroll TikTok melampaui batas. Semua hal tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis dan psikologis secara bersamaan.
Intensitas motivasi yang tinggi, Michel J. Jucius menyebutkan motivasi sebagai dorongan kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.
Arousal meningkatkan motivasi berkaitan dengan dorongan untuk terus menerus scroll, rasa ingin tahu, dan reward instan atau hiburan cepat. Jika arousal terlalu tinggi maka terjadi overstimulasi, sulit tidur, pikiran yang terus bekerja, dan meningkatkan kecemasan.
Overstimulasi adalah kondisi ketika tubuh dan pikiran kelelahan terlalu banyak menerima rangsangan, seperti sensorik, emosional, dan mental, yang melebihi kapasitas untuk memprosesnya.
Pada paragraf sebelumnya menyinggung kecemasan, dalam konteks ini ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan (konten orang lain) dan kemampuan individu untuk merespon. Lingkungan digital memberi tuntutan sosial seperti standar fisik seseorang, pencapaian, gaya hidup.
Tekanan yang Timbul dari TikTok
Selain itu adanya tekanan untuk selalu update dan fear of missing out (FOMO). Secara tidak langsung membuat individu merasa tidak sebaik orang lain, merasa tertinggal, dan tidak mampu memenuhi standar TikTok.
Ketidakseimbangan tren TikTok menciptakan kesenjangan sosial, tren ini mendorong individu untuk mengonsumsi berlebih (fast fashion). Dampak psikologis memicu rasa iri sehingga mengganggu kehidupan sosial yang nyata. Contoh yang paling nampak disekitar kita menurunnya fokus belajar pada pelajar atau mahasiswa disebabkan kesehatan mental mereka terguncang.
Dengan demikian, scroll TikTok berlebihan bukan semata-mata kelemahan individu, tetapi hasil interelasi antara faktor pribadi dan karakteristik lingkungan digital yang sangat stimulatif.
Bagi individu mulai berlatih membatasi penggunaan media sosial yang berlebih dengan cara mengaktifkan pengingat waktu. Selanjutnya, orang tua tak kalah penting dalam mengendalikan perilaku penggunaan media sosial yang berlebih dengan memberikan edukasi tentang literasi digital.
Editor: Yud
Gambar: Pexel

Comments