Ketika mendengar kata “pendidikan”, kebanyakan dari kita langsung membayangkan sekolah, ujian, dan selembar ijazah di akhir perjalanan. Dari kecil, kita dibentuk dalam sistem yang menekankan pentingnya nilai, ranking, dan gelar akademik. Tidak salah memang, tapi apakah itu cukup untuk menggambarkan makna pendidikan yang sesungguhnya? Sering kali, kita lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal pencapaian akademik, tapi juga soal nilai dan proses membentuk manusia seutuhnya.
Pendidikan Masih Dimaknai Secara Sempit di Indonesia
Di Indonesia, pendidikan masih sering dimaknai secara sempit—hanya sebatas ijazah. Kita menilai kualitas seseorang dari gelar yang dimilikinya, seolah-olah selembar kertas itu bisa merangkum seluruh kemampuan dan karakter. Padahal, esensi pendidikan jauh lebih luas: bagaimana seseorang berpikir, bersikap, dan memberi kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan tak jarang, mereka yang menyandang gelar tinggi pun belum tentu mencerminkan kedalaman ilmu maupun keteladanan sikap.
Sayangnya, cara pandang sempit ini masih mengakar kuat dalam cara kita menilai pendidikan dan keberhasilan seseorang. Salah satu contohnya adalah soal isu ijazah palsu milik Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo. Meski isu itu sudah berkali-kali dibantah dan akhirnya terbukti bahwa ijazah beliau asli dan sah, tapi tetap saja lebih banyak yang sibuk memperdebatkan keabsahan ijazahnya ketimbang menilai hasil nyata dari kepemimpinannya.
Hal ini menunjukkan bahwa kita masih sering terjebak pada simbol, bukan substansi. Kita terlalu cepat menilai orang dari formalitas, tanpa benar-benar melihat isi dan dampaknya. Dan hal ini tentu sangat disayangkan.
Bagaimana dengan Negara Lain?
Coba kita bandingkan dengan pandangan di beberapa negara lain. Di Amerika atau Jerman, misalnya, banyak perusahaan lebih tertarik melihat kemampuan nyata atau portofolio, bukan hanya gelar. Bahkan banyak tokoh sukses dunia yang tidak lulus kuliah, tapi kontribusinya jauh melampaui mereka yang bertumpuk ijazah.
Di Indonesia pun ada contoh serupa, seperti Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang berhasil membangun bisnis dan karier tanpa latar pendidikan formal tinggi di bidang tersebut. Kesuksesannya justru lebih banyak berasal dari pengalaman, keberanian, dan kerja nyata. Hal ini memperkuat pandangan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh gelar akademik, tapi juga oleh kemampuan dan kontribusi nyata seseorang.
Faktanya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi justru mencapai 6,34%, lebih tinggi dibanding lulusan SMA yang berada di angka 5,57%. Ini menunjukkan bahwa punya ijazah tinggi tidak otomatis menjamin masa depan cerah, apalagi kalau tidak diiringi kemampuan nyata.
Pendidikan itu Tentang Membentuk Manusia Menjadi Manusia
Miris rasanya melihat banyak dari kita berjuang mati-matian mengejar pendidikan tinggi dengan harapan masa depan cerah, tapi tetap harus bergulat dengan realita pengangguran. Bukan berarti kuliah tidak penting—tentu saja penting. Namun, jangan sampai kita salah kaprah dan menganggap bahwa gelar akademik adalah satu-satunya kunci keberhasilan hidup.
Ijazah memang penting—ia jadi bukti legalitas dan kompetensi seseorang. Tapi saat kita menjadikannya satu-satunya tolok ukur nilai manusia, di situlah masalah bermula. Kita kehilangan rasa. Kita lupa bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal ranking atau sertifikat. Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia—membentuk pribadi yang membawa perubahan, bukan sekadar mencetak gelar.
Sudah saatnya kita membuka mata. Mari belajar menghargai manusia bukan dari atribut di atas kertas, tapi dari dampak dan kebaikan yang mereka berikan. Jangan sampai kita terus terjebak dalam budaya yang hanya menilai seseorang dari gelar atau simbol akademik semata. Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang lulus dari mana, tapi siapa yang benar-benar memberi arti dan manfaat bagi kehidupan banyak orang.
Editor: Yud
Gambar: Pexels

Comments