Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 02 April, diperingati sebagai Hari Peduli Autis Dunia (World Autism Awareness Day) dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dunia terhadap anak-anak autis yang jumlahnya selalu meningkat setiap tahunnya.

Konon, di tengah pandemi corona begini, jumlah orang autis juga meningkat. Loh kok bisa?

Pernah nggak kalian berada pada suatu perkumpulan di suatu ruangan dengan sebuah aktivitas yang sama, yaitu main gadget? Tiba-tiba, ada orang dari luar masuk ruangan tersebut dan berusaha menyapa tapi no one, nggak ada yang meduliin. Terus orang tersebut mulai mengumpat “Udah pada autis! Oke autis time. Woywoywoy!!!” Kemudian berakhir pada pembulian “apaan sih??” Loh loh loh main gadget barengan kok bisa dibilang autis? Kalau begitu, yang sedang menjalankan instruksi pemerintah buat #dirumahaja bareng keluarga tapi kerjaannya main gadget terooooos bisa dibilang autis dong? Emang autis itu gimana sih?

Autis merupakan salah satu kelainan pada perkembangan sistem saraf otak. Biasanya disebabkan oleh faktor hereditas dan lingkungan. Ciri-ciri umum dari anak autis yang mudah dikenali adalah suka melakukan tindakan secara berulang, over fokus pada objek tertentu, kesulitan dalam bersosialisasi, komunikasi, olah emosi, kognisi maupun atensi. Akan tetapi sebenarnya masih banyak ciri khusus lainnya dengan spesifikasi tertentu untuk dapat mendiagnosa seseorang memiliki kelainan autis.

Beberapa kelainan lain seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), skizofrenia, bipolar, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sosiopati, sindrom tourette, Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan (bisa jadi) kecanduan gadget juga memiliki ciri-ciri umum yang hampir sama. Sedihnya, hampir setiap anak yang memiliki kebiasaan lain (luarbiasa) dicap memiliki kelainan autisme. Padahal, belum tentu. Selain itu, berbagai macam diskriminasi dan jokes seringkali terlontar pada mereka yang luarbiasa, yang sebenarnya membutuhkan kepedulian tinggi dari orang-orang di sekitarnya.

Sedihnya lagi, ditengah keluh dan peluh anak-anak normal yang mulai bosan #dirumahaja, ada anak-anak luarbiasa yang lebih pantas untuk mengeluh dan berteriak aduh, tapi apa daya. Begitu juga dengan para orang tua anak luarbiasa yang jauh lebih pantas mengeluh karena harus mengasuh anak sendiri karena sekolahnya libur disamping harus mengerjakan work from home (WFH) akibat corona.

Tentu, suasana pandemi corona juga mengakibatkan minimnya seremonial Hari Peduli Autis Dunia tahun ini. Akan tetapi, semoga tetap bisa menjadi bahan refleksi kita untuk meningkatkan kepedulian terhadap teman-teman autis yang semakin banyak terlahir di dunia. Sebagai bentuk rasa syukur, masihkah kita pantas untuk mengutuk diri dan terus mengeluh ditengah kenormalan pada situasi yang tidak normal ini?

Oh ya menjawab pertanyaan diatas, kenapa sih orang yang main gadget secara bersamaan bisa dibilang autis? Karena mereka menjadi terlihat anti sosial padahal saling kenal. Terlihat kesulitan berkomunikasi karena kalau diajakin ngomong suka nggak nyambung. Terlihat mudah emosi kalau diganggu. Apalagi kalau udah main game. Selain itu, main gadget juga dapat menyebabkan kecanduan dan over fokus. Tapi sekali lagi, kita tidak bisa sembarangan mendiagnosa seseorang mengalami kelainan autis dengan melihat ciri-ciri umum saja.

Meskipun telat, at least Selamat Hari Peduli Autis Dunia!

Mari tingkatkan kepedulian terhadap teman-teman autis. Stop diskriminasi dan stop meng-autis-kan diri sendiri!

 

Penulis: Fadhlinaa A.

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kredit