Manusia memiliki riwayat kemenangan melawan musuh-musuh yang tak nampak. Sejarah mencatat kita berhasil menang melawan pes, flu spanyol di awal abad 20, hingga cacar di pertengahan abad 20 (Harari, 2014).

Kemenangan demi kemenangan tersebut bukan untuk membuat kita jumawa. Tapi justru membuat kita belajar dari masa lalu dalam menghadapi musuh-musuh yang tak nampak selanjutnya: virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)

 

Kunci Kemenangan

Kita bisa membayangkan, dahulu manusia tidak tahu apa-apa tentang bakteri dan virus. Hal ini terjadi setidaknya sampai 1676 ketika Antonie Van Leeuwenhoek berhasil mengamati mikro-organisme menggunakan mikroskop (Logan, 2016).

Sebelum keberhasilan tersebut, manusia tak tahu penyebab penyakit menular, seakan melawan musuh-musuh yang tak nampak (Harari, 2014). Manusia saat itu hanya bisa melakukan upaya-upaya yang jauh dari efektif. Berdoa, merapal mantra, sampai menjaga orang sehat agar tidak ikut sakit. Atau, dalam kasus wabah pes di London, hanya kebakaran besar pada tahun 1966 yang dapat menghentikan wabah (Hanson, 2001).

Pada saat teknologi kesehatan masih sangat terbelakang, metode karantina adalah metode yang lazim digunakan. Hal ini dilakukan sejak awal masa-masa Islam, seperti pemisahan orang yang sakit tuberkulosis dengan yang sehat pada zaman Nabi Muhammad dan karantina wajib oleh Kekhalifahan Bani Umayyah hingga Turki Utsmani (Sayili, 1980). Hal ini dilanjutkan dengan karantina di Eropa sekitar tahun 1348-1359 (Sehdev, 2002).

Setelahnya juga ditemuka metode preventif melalui protokol kebersihan tempat perawatan seperti yang dicontohkan oleh Earl Nightingale pada 1854 (Arifin, 2020).

Ketika ilmu kedokteran telah berkembang, kunci kemenangan selanjutnya ditemukan: vaksin. “Senjata” ini adalah kunci manusia mencegah kematian sebanyak masa lalu. Vaksin membuat kematian manusia karena penyakit menular makin rendah meskipun populasi manusia terus meningkat.

 

Sabar adalah Kunci Selanjutnya

Saat ini, pandemi Covid-19 terjadi ketika ilmu kesehatan sudah jauh lebih maju. Setidaknya bisa dilihat dari angka kematian yang hingga 25 April mencapai 200.430 jiwa, sangat jauh di bawah pes sebanyak 75-250 juta (Gould & Pyle, 1966), flu spanyol sebanyak 17-50 juta (Rosenwald, 2020), ataupun cacar yang menyebabkan sekitar 16 juta kematian per tahun hingga 1950 (WHO, 2007). Namun, kini pergerakan manusia juga meningkat pesat, mempersulit upaya penanganan.

Berbeda dengan dahulu saat manusia sangat kesulitan berpindah dari satu negara ke negara lain. Ketika manusia harus menghabiskan waktu pagi hingga petang untuk berpindah dari satu kota ke kota lain menggunakan kereta kuda. Kini, manusia bisa melakukan perjalanan setengah keliling bumi hanya dalam 18 jam.

Padahal pergerakan dan interaksi manusialah sumber penularan penyakit-penyakit tersebut. Maka, apa yang harus kita lakukan adalah bersabar dan mengubah pola aktivitas kita. Sebisa mungkin mengurangi pergerakan, juga meminimalisasi interaksi.

Kita juga perlu sabar dalam mematuhi protokol, menuruti imbauan pemerintah dan pihak berwajib. Sembari menunggu upaya-upaya menciptakan vaksin menemui hasil.

Jika kesabaran-kesabaran tersebut kita lakukan, maka kemenangan tinggal menunggu waktu. Saat vaksin yang efektif dapat membantu tubuh mengalahkan virus, saat tenaga medis dan fasilitas kesehatan mampu mengobati setiap pasien yang mengidap Covid-19.

 

Bersabarlah, manusia memiliki riwayat kemenangan melawan penyakit menular. Begitupun kita, akan mengulang kemenangan tersebut. Hanya jika kita bersedia bersabar hingga pelayanan kesehatan mampu menangani dan vaksin yang efektif ditemukan.

 

Editor: Halimah

Ilustrator: Ni’mal Maula

 

Referensi

Arifin, A. (2020, Maret 30). Wabah Covid-19, Bukti Ramalan Florence Nightingale. Retrieved from IBTimes.id: https://ibtimes.id/wabah-covid-19-bukti-ramalan-florence-nightingale/

Gould, G. M., & Pyle, W. L. (1966). Anomalies and Curiosities of Medicine. Philadelphia: Blacksleet River.

Logan, L. (2016, April 27). Early Microscopes Revealed a New World of Tiny Living Things. Retrieved from Smithsonian Magazine: https://www.smithsonianmag.com/science-nature/early-microscopes-revealed-new-world-tiny-living-things-180958912/

Rosenwald, M. S. (2020, April 7). History’s deadliest pandemics, from ancient Rome to modern America. Retrieved from Washington Post: https://www.washingtonpost.com/graphics/2020/local/retropolis/coronavirus-deadliest-pandemics/

Sayili, A. (1980). The emergence of the prototype of the modern hospital in medieval Islam. Belleten, 279–286.

Sehdev, P. S. (2002). The Origin of Quarantine. Clinical Infectious Diseases, 1071-1072.

WHO. (2007, September 21). Smallpox. Retrieved from WHO: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/smallpox/en/