Situasi politik di Indonesia kembali memanas. Lagi-lagi permasalahannya adalah ijazah. Kini gantian sang anak, Gibran, yang harus berhadapan dengan polemik yang sama dengan sang ayah. Mahkamah sudah mengeluarkan keputusan tidak bisa mendiskualifikasi Gibran. Tetapi, Mahkamah memberikan sebuah pertimbangan yang menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa Gibran memiliki ijazah setara SMA. Bola panas ini kini bergulir, dengan hilir yang belum berakhir.

Ijazah adalah segalanya, tapi bingung juga gunanya apa

Di Indonesia, memang ijazah adalah dokumen yang sangat sakti. Selembar kertas yang bisa menjadi dasar tuntutan terhadap mantan presiden dan wakil presiden aktif, lebih lucunya lagi karena keduanya adalah bapak-anak. Persoalan ijazah ini menjadi sebuah hal yang terus berlarut-larut, menjadi topping perpolitikan nasional kita. Tapi tenang, tulisan ini tidak akan membahas apakah Gibran punya ijazah, atau apakah Gibran lulus SMA. Mari kita saksikan saja drama yang terjadi, toh kondisi politik juga sudah carut-marut.

Saya melihat banyak orang mati-matian mengejar sebuah gelar, termasuk saya sendiri. Kata orang-orang sih harus punya ijazah biar lebih gampang daftar kerja. Semakin tinggi gelar, akan mendapat pekerjaan yang semakin bagus pula Setidaknya begitu teorinya.

Nyatanya, pasti teman-teman pernah mendengar kisah tentang anak tetangga yang kalah saing dengan kerabat “anggota” saat sedang melamar 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan. Atau saudara yang harus mengalah dengan titipan pejabat. Cerita klasik yang terus menerus kita dengar. Walaupun punya ijazah, toh tetap gagal juga. Lantas apakah ijazah beneran sakti?


Lantas kalau tidak begitu berguna, kenapa kita masih memuja gelar?

Saya akan menarik tulisan ini sedikit lebih serius. Apakah ijazah ini benar-benar penting? Kalau ga penting, kenapa ia bisa menggoyahkan legitimasi seorang wapres negara “besar”? Kalau penting, banyak bukti menyimpulkan ijazah kalah dengan koneksi, orang dalam, bahkan uang?

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat ijazah dari sudut pandang yang lebih luas. Randall Collins dalam bukunya The Credential Society (1979) menyinggung beberapa hal terkait topik ini. 

Collins mempertanyakan anggapan bahwa pendidikan terus berkembang semata-mata karena pekerjaan modern membutuhkan keterampilan teknis yang semakin tinggi. Tetapi ia tidak puas dengan argumen tersebut. Ia mengatakan bahwa pendidikan juga menentukan siapa yang memperoleh akses ke posisi tertentu dalam organisasi dan dunia kerja.

Artinya, nilai ijazah tidak hanya terletak pada apa yang seseorang pelajari, tetapi juga pada apa yang dapat ia akses setelah memiliki ijazah tersebut. Mungkin ini yang membuat masyarakat tetap mengagungkan ijazah, karena ia memiliki konsekuensi nyata untuk memberikan kesempatan kepada seseorang. Jadi bukan sekedar kalah dengan koneksi dan orang dalam, tapi memberikan akses terhadap seseorang untuk “setidaknya” berkompetisi melawan mereka yang menggunakan koneksi dan orang dalam. Tanpa ijazah sarjana, seseorang bisa saja tidak lolos seleksi kerja, bahkan sebelum pewawancara sempat mengetahui apakah ia mampu melakukan pekerjaan tersebut.

Ijazah tetap penting, tapi…

Tulisan sebelumnya tidak mengarahkan kita untuk membenarkan pemalsuan ijazah. Verifikasi pendidikan tetap penting, apalagi bagi seseorang yang menduduki jabatan publik begitu tinggi. Apalagi kalau memang peraturan mengharuskan ijazah sebagai syarat untuk menduduki suatu posisi. 

Masyarakat kita menaruh kuasa yang begitu besar pada ijazah. Bukan berarti ijazah tidak berguna, tetapi kompetensi dan keterampilan tetap diberikan oleh pendidikan, sedangkan ijazah merupakan sebuah bukti formal bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu.

Masalahnya muncul ketika masyarakat menyamakan ijazah dengan kompetensi, kecerdasan, dan keterampilan. Gelar sarjana tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana, sebagaimana ketiadaan gelar tidak otomatis membuat seseorang tidak mampu.

Pada akhirnya, kecerdasan dan keterampilan harusnya bisa tercermin dari kemampuan. Jika ijazah saja masih dipertanyakan, lantas apa yang sebenarnya didapat dari pendidikan?

Gambar: Kumparan.com