Sebuah survei terbaru dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan terhadap 758 responden anak muda dari berbagai daerah dan latar belakang di Indonesia menunjukkan satu angka yang fantastis: 91% anak muda bangga terhadap Muhammadiyah.

Sebuah berita gembira karena di tengah tren menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap banyak organisasi dan institusi, Muhammadiyah justru mendapat kepercayaan yang begitu besar dari anak muda. Apalagi, kebanggan ini bukan hanya datang dari internal Muhammadiyah semata karena 46.5% responden justru bukan merupakan kader Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya kuat di internal, tetapi memiliki legitimasi publik yang luas di kalangan anak muda.

Anak Muda Suka Organisasi yang Berdampak Nyata

Survei tersebut membuktikan bahwa anak muda membanggakan Muhammadiyah karena dampak nyata yang terasa. Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi Islam modern memiliki amal usaha yang meliputi berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dll sudah sejak lama memberikan sumbangsih pada negara.

Bahkan 86% responden anak muda mengakui kualitas layanan kesehatan muhammadiyah jempolan. Hal ini menjadi buah dari perjalanan panjang layanan kesehatan Muhammadiyah–yang dahulu hanya memiliki satu PKO (Penoeloeng Kesengsaraan Oemoem)–sekarang menjelma menjadi ratusan rumah sakit dan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam hal pendidikan, 81% responden anak muda juga mengakui bahwa Muhammadiyah memiliki sekolah dan kampus yang berkualitas. Sudah sejak lama pendidikan menjadi salah satu jalan dakwah Muhammadiyah yang paling terkenal. Hingga kini, Muhammadiyah memiliki 5 ribu lebih sekolah dan ratusan kampus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Banyak masyarakat yang mengagumi Muhammadiyah karena kemandirian ekonominya. Ribuan amal usaha Muhammadiyah berperan penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, lewat berbagai pembinaan usaha dan penciptaan lapangan kerja.

Amal Usaha Muhammadiyah juga menghidupi roda dakwah organisasi, sehingga hasil ekonominya bisa untuk kepentingan umat dan bangsa. Hal ini menjadi sinyal bahwa kini legitimasi organisasi tidak lagi ditentukan oleh simbol atau identitas, tetapi seberapa besar dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebanggan yang Menjadi Kekuatan, Sekaligus Ujian

91% kebanggan responden terhadap Muhammadiyah merupakan angka yang begitu besar. Akan tetapi jika melihat konteks yang lebih luas, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan formal anak muda dalam organisasi keagamaan cenderung rendah. Hal ini menjadi sebuah paradoks karena hari ini anak muda bangga terhadap Muhammadiyah, tanpa perlu untuk terlibat di dalamnya. Kebanggan menjadi sesuatu yang cukup dirasakan dari jauh, bukan harus diwujudkan bersama. 

Kepercayaan yang begitu besar ini berarti Muhammadiyah mendapatkan legitimasi yang sangat tinggi. Tetapi sebaliknya, Muhammadiyah memiliki banyak pekerjaan untuk merubah legitimasi itu menjadi keterlibatan nyata.

Berusia 114 tahun pada November nanti, Muhammadiyah ternyata tidak uzur termakan waktu. Titik ini membuat kita melihat Muhammadiyah yang berkembang menjawab kebutuhan zaman.

Tujuan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tidak hanya lewat dakwah-dakwah konvensional. Tetapi Muhammadiyah hadir lewat pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi yang dampaknya tidak hanya terasa oleh umat, tetapi juga bangsa dan kemanusiaan.

Islam yang hadir di tengah-tengah masyarakat lewat cara-cara ini ternyata disukai oleh anak-anak muda, bahkan mendapatkan legitimasi yang begitu tinggi. Tetapi, ini adalah awal dari perjalanan panjang Muhammadiyah selanjutnya, yakni mengubah legitimasi tersebut menjadi keterlibatan nyata.