Muhammadiyah dan Anggapan Lebaran Duluan

Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang sudah berdiri lebih dari 1 abad, Muhammadiyah sering tereduksi identitasnya sekadar menjadi organisasi yang lebaran duluan. Hal ini menjadi perbincangan setiap akhir bulan puasa. Banyak yang menganggapnya hanya jokes semata tetapi tidak jarang juga kita lihat perdebatan di sosial media. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga masyarakat mengingat bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang lebarannya duluan, sebuah stereotip yang melekat pada Muhammadiyah.

Akan tetapi, kini perlahan anggapan itu mulai pudar. Sebuah survei terhadap 758 anak muda dengan berbagai latar belakang dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan sebuah pergeseran pandangan.

Survei dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan ini menunjukkan bahwa persepsi anak muda terhadap Muhammadiyah kini bukan lagi soal lebaran duluan. Hanya 17,1% responden yang langsung mengasosiakan Muhammadiyah dengan lebaran yang lebih cepat.

Menariknya, sebanyak 44.1% responden mengasosiakan Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki sekolah dan kampus yang berkualitas. Responden lainnya dengan persentase yang juga cukup besar sebanyak 42.3% mengasosiasikan Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi islam yang modern dan rasional. Sisanya, Muhammadiyah dipandang sebagai organisasi dengan layanan kesehatan yang berkualitas, organisasi otonom, organisasi kaya, dll. 

Perdebatan lama soal lebaran atau jumlah rakaat tarawih memang masih ada, tetapi jumlahnya jauh tidak signifikan dibandingkan pendidikan, kesehatan, organisasi modern dan rasional, serta kemandirian ekonomi. 

Anak Muda Suka Organisasi yang Berdampak Nyata

Kesehatan

Persoalan lama tentang penentuan awal lebaran atau jumlah rakaat tarawih kini tidak lagi banyak jadi perbincangan anak muda. Mereka justru mengingat Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi Islam modern yang memiliki sekolah dan kampus top, rumah sakit yang berkualitas, dan berdikari secara ekonomi. Bahkan 86% responden anak muda mengakui kualitas layanan kesehatan muhammadiyah jempolan. Hal ini menjadi buah dari perjalanan panjang layanan kesehatan Muhammadiyah–yang dahulu hanya memiliki satu PKO (Penoeloeng Kesengsaraan Oemoem)–sekarang menjelma menjadi ratusan rumah sakit dan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pendidikan

Dalam hal pendidikan, 81% responden anak muda juga mengakui bahwa Muhammadiyah memiliki sekolah dan kampus yang berkualitas. Sudah sejak lama pendidikan menjadi salah satu jalan dakwah Muhammadiyah yang paling dikenal masyarakat. Hingga kini, Muhammadiyah memiliki 5 ribu lebih sekolah dan ratusan kampus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Ekonomi

Muhammadiyah ternyata juga dikagumi karena kemandirian ekonominya. Ribuan amal usaha Muhammadiyah berperan penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, lewat berbagai pembinaan usaha dan penciptaan lapangan kerja. Amal Usaha Muhammadiyah juga menghidupi roda dakwah organisasi, sehingga hasil ekonominya bermanfaat untuk kepentingan umat dan bangsa.

Berusia 114 tahun pada November nanti, Muhammadiyah ternyata tidak uzur termakan waktu. Di titik ini, kita melihat Muhammadiyah yang berkembang menjawab kebutuhan zaman.

Tujuan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tidak hanya lewat dakwah-dakwah konvensional. Tetapi Muhammadiyah hadir lewat pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi yang dampaknya tidak hanya terasa bagi umat, tetapi juga bangsa dan kemanusiaan. Islam yang hadir di tengah-tengah masyarakat lewat cara-cara ini ternyata disukai oleh anak-anak muda.

Pandangan-pandangan lama terhadap Muhammadiyah kini perlahan ditinggalkan. Karena bagi anak muda hari ini, Muhammadiyah bukan lagi tentang organisasi yang lebaran duluan, tetapi organisasi yang berdampak nyata di masyarakat.