Banyak orang menganggap ekonomi adalah soal grafik, diagram, statistik, uang, dan ramalan cuaca keuangan yang sering meleset. Padahal ekonomi adalah tentang cara kamu memandang dunia yang penuh akan keinginan tak terbatas. Sayangnya planet kita memiliki batas. Maka, ekonomi lahir pada celah apa yang kita inginkan dan apa yang kita miliki. Melalui tulisan ini, kita akan mengenal konsep dasar ekonomi yang akan mengubah cara kamu melihat dunia.
Peradaban manusia dibangun di atas fondasi keterbatasan, dimana setiap keputusan yang kita ambil adalah upaya untuk memenangkan nilai dari apa yang alam sediakan secara terbatas. Kebutuhan makin hari terus bertambah, hal ini berbanding lurus dengan bertambahnya populasi manusia di dunia. Selain itu, kita harus menerima kenyataan jika sumber daya hari ini sangatlah terbatas. Artinya kuantitas sumber daya tidak seimbang dengan populasi manusia. Maka, dapat dikatakan ekonomi lahir dari keterbatasan.
Berhadapan dengan Keterbatasan
Keterbatasan merujuk pada scarcity. Dalam sudut pandang ekonomi, scarcity adalah situasi mendasar saat sumber daya (uang, tenaga, waktu, kesempatan) terbatas, sementara kebutuhan & keinginan manusia tidak terbatas. Akan terlintas dalam pikiran kita, “Apakah kita harus menghilangkan keterbatasan?”.
Menurut Ferry Irwandi dalam kuliah publiknya menjelaskan, keterbatasan adalah keadaan yang harus kita hadapi, karena keterbatasan yang membuat manusia bertumbuh dan berkembang hingga hari ini. Oleh karena itu keterbatasan bukan dihilangkan, namun dihadapi. Pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana menghadapi keterbatasan?” ringkasnya ada beberapa hal yang perlu kita miliki untuk mengadapi keterbatasan, yaitu:
- Efisiensi. Seni mendapatkan hasil terbaik dengan usaha yang paling masuk akal, sehingga kita bisa hidup lebih tenang dan berkelanjutan.
- Inovasi. Hal ini adalah mesin penggerak yang memastikan kualitas hidup kita terus meningkat dari waktu ke waktu.
- Prioritas. Ringkasnya begini, menentukan priotitas bukan berarti kita hidup dalam kekurangan, melainkan hidup dengan kendali penuh atas arah uang dan waktu kita sendiri.
Menurut Dr. Joel Hoomans dari Roberts Wesleyan University, ia menjelaskan bahwa anak-anak membuat sekitar 3.000 keputusan sehari, dan orang dewasa melonjak hingga 35.000 karena kompleksitas hidup. Hal ini adalah perilaku ekonomi. Salah satu contoh keputusan yang baru terjadi adalah ketika anda memilih menghabiskan waktu dengan membaca tulisan ini dibanding scroll Tiktok, ini adalah bentuk keputusan ekonomi. Kesempatan scroll tiktok anda yang terbuang itu disebut opportunity cost.
Menyadari Opportunity Cost dalam Keseharian
Opportunity cost atau biaya peluang adalah nilai dari alternatif terbaik yang harus kamu korbankan ketika memilih satu pilihan dari pilihan lainnya. Mudahnya begini, setiap kali kamu memutuskan untuk menggunakan sumber daya (waktu, uang, tenaga) untuk satu hal, secara otomatis anda kehilangan kesempatan untuk menggunakannya pada hal lain. Ini bukan sekadar tentang nominal uang yang keluar dari dompet, melainkan tentang apa yang hilang karena kamu tidak mengambil kesempatan itu. Berikut hal-hal yang diperhitungkan dalam opportunity cost :
- Uang. Mempermudah kita untuk melakukan perbandingan yang rasional di tengah ribuan pilihan hidup yang kompleks
- Kebahagiaan. Hal yang menyakitkan bukanlah saat kita kehilangan uang, tetapi saat kita telah mengorbankan kebahagiaan yang tidak bisa terulang
- Kesempatan. Dengan menyadari nilai dari kesempatan yang hilang, kita menajdi lebih bijaksana dalam menjalani jalan yang sedang kita tapaki
- Waktu. Ini dalah mata uang dasar kehidupan karena kita tidak benar-benar membayar sesuatu dengan uang, kita membayarnya dengan waktu yang kita habiskan untuk mendapatkan uang
- Tenaga. Ia dalah bahan bakar bagi semua sumber daya lainnya. Uang & waktu tak akan berguna secara maksimal apabila kita tidak memiliki tenaga untuk mengelolanya
Jangan lupakan bahwa kita tidak bisa menilai baik & buruknya pilihan karena prioritas setiap orang berbeda.
Belajar Ekonomi = Belajar Hidup
Sebelum berakhir kita ambil slice of life sebagai analogi sederhana dalam memahami ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu pernah suka dengan pria/wanita? Setelah itu, apa yang kamu lakukan? Mayoritas akan menjawab mengejar untuk mendapatkannya. Keputusan kamu untuk mengejarnya adalah keputusan ekonomi. Mengapa demikian? karena kamu mengorbankan waktu, tenaga, kesempatan, uang, dan mempertaruhkan kebahagiaan kepada pria/wanita tersebut. Demikianlah ekonomi bekerja dalam hidup kita.
Pada akhirnya, ekonomi bukan sekadar angka di atas kertas atau grafik yang membosankan, melainkan bahasa yang menjelaskan bagaimana dunia bekerja. Dengan memahami konsep-konsep dasar ini, kamu mulai menyadari bahwa setiap peristiwa adalah hasil pertukaran nilai dan intensif yang saling terkait. Kamu tidak lagi melihat dunia sebagai untaian kebetulan, melainkan sebagai sistem besar yang penuh pilihan dan konsekuensi. Dengan lensa baru ini, setiap langkah yang kamu ambil menjadi lebih strategis, dan setiap fenomena global yang ada menjadi lebih masuk akal.
Editor: Hafidz

Comments