Pernikahan dalam Islam bukanlah relasi yang menempatkan suami di atas istri secara mutlak, melainkan hubungan setara yang dilandasi cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama di bawah ridha Allah.
Hal tersebut disampaikan oleh Alimatul Qibtiyah dalam khutbah nikah pada pernikahan putranya di Kembaran, Banyumas, Minggu (11/4/2026).

Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa relasi suami-istri dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai pakaian satu sama lain. “Dalam Al-Qur’an disebutkan hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, istri adalah pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian bagi istri. Artinya, harus saling menghormati, melindungi, menyayangi, setia, dan saling meridhai,” ujarnya.
Ia juga mengkritisi cara pandang masyarakat yang masih menempatkan relasi tuhan, suami, dan istri secara vertikal. Menurutnya, penafsiran terhadap ayat arrijalu qawwamuna ‘alan nisa dalam Surah An-Nisa ayat 34 kerap dijadikan dasar untuk menempatkan laki-laki di atas perempuan.
Padahal, ia menegaskan bahwa terdapat banyak ayat lain yang menunjukkan relasi Tuhan, suami, dan istri bersifat setara. “Paling tidak ada 22 ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan hubungan Tuhan, suami, dan istri itu bukan vertikal, tetapi segitiga. Allah di atas, sementara suami dan istri berada dalam posisi setara dibawahnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa konsep penciptaan manusia dalam konteks pernikahan menggunakan istilah dzakar dan unsa, bukan rijal dan nisa. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan berpasangan untuk saling mencintai dan mengasihi.
“Jangan sampai ada istilah yang dituntut harus setia hanya istri. Dalam prinsip pernikahan, kita menjunjung monogami dan kesetiaan bersama,” tegasnya.
Bahan Bakar Cinta
Dalam perspektif psikologi keluarga, ia memperkenalkan konsep bahan bakar cinta yang penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, baik bagi pasangan baru maupun yang telah lama menikah.
“Bahan bakar cinta itu bisa bermacam-macam. Untuk pengantin baru mungkin momen akad menjadi sumber kebahagiaan. Tapi, bagi yang sudah puluhan tahun menikah, hal sederhana seperti memberi bunga saat ulang tahun bisa menjadi penguat cinta,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya saling melayani dalam rumah tangga. Menurutnya, pekerjaan rumah bukanlah tanggung jawab sepihak.
“Membuat teh misalnya, itu tidak membutuhkan alat reproduksi. Jadi tidak harus istri. Suami juga bisa melakukannya sebagai bentuk kasih sayang,” ujarnya.
Segitiga Cinta
Selain itu, ia menjelaskan konsep segitiga cinta dalam pernikahan yang terdiri dari tiga unsur utama, yakni komitmen, kedekatan emosional, dan gairah.
Komitmen dalam pernikahan, kata dia, merupakan mitsaqan ghalizhan atau perjanjian yang kuat dan sakral. Oleh karena itu, akad nikah harus dihayati secara mendalam oleh kedua mempelai.
Sementara itu, kedekatan emosional ditandai dengan keterbukaan dan rasa aman dalam berbagi cerita tanpa takut dihakimi. “Semakin kuat ikatan emosional, semakin bahagia pasangan. Keterbukaan itu memang bertahap, tetapi harus terus diupayakan. Kalau masih ada yang tidak memperlihatkan password HP-nya masing-masing kepada pasangan, berarti ikatan emosinya belum kuat,” jelasnya.
Adapun aspek gairah tidak selalu dimaknai secara sempit. Ia mencontohkan bahwa pada pasangan lanjut usia, ekspresi kasih sayang bisa dalam bentuk kebersamaan sederhana, seperti berjalan bersama setelah salat subuh.
Pilar Pernikahan Sakinah
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pilar pernikahan sakinah sebagai fondasi kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh keberkahan. Adapun pilar-pilar pernikahan Sakinah itu ia sampaikan terdapat dalam Tepuk Sakinah, yel-yel yang ia ciptakan dan sempat viral. Dalam mengakhiri khutbah pernikahannya, ia pun mengajak seluruh tamu yang hadir untuk bersama-sama melakukan Tepuk Sakinah.

Comments