3 Hal Janggal dan Nggak Ada dalam Berita Kecelakaan

3 Hal Janggal dan Nggak Ada dalam Berita Kecelakaan
Ilustrasi: Viva

Kecelakaan terjadi di Jalan Tol Batang-Semarang. Kecelakaan yang melibatkan truk trailer dengan Mobil Pajero Sport tersebut mengakibatkan lima orang luka-luka dan satu orang meninggal dunia. Begitulah susunan lead atau pembuka berita kecelakaan yang pernah saya baca di sebuah media online. Dalam setiap berita kecelakaan, hampir semuanya dimulai dengan pertanyaan apa?, di mana?, dan kapan?

Setelah itu wartawan akan menyajikan kronologinya. Lewat hasil wawancara dengan narasumber, wartawan menyajikan kronologi yang bisa saja secara detail atau bisa pula menggantung. Dalam kronologi, akan ada keterangan mengapa kecelakaan itu terjadi. Kemudian di bagian akhir ada informasi kelanjutan nasib si korban.

Berita kecelakaan memiliki pola yang sama persis, yang justru ada informasi yang sebenarnya janggal dan kurang, namun tertutup dan tidak diketahui pembaca.

Berita Kecelakaan: Penyebabnya Selalu Sopir Mengantuk

Pernah nggak kamu mencermati setiap berita kecelakaan, lagi-lagi yang jadi penyebab sopir yang mengantuk? Atau sopir yang kelelahan dan kehilangan fokus sehingga meleng dan nabrak atau nyusruk?

Sepertinya ada yang kurang dalam informasi tersebut. Masa sih tiap ada kecelakaan penyebabnya pasti sopir mengantuk? Memangnya nggak ada penyebab lain?

Kebakaran pun penyebabnya variatif. Bisa korsleting listrik, kompor meledak, atau apa pun. Sedangkan, kecelakaan selalu disebabkan karena sopir mengantuk, lelah, atau sopirnya nggak fokus.

Mungkin itu benar. Barangkali narasumber yang ditanyai oleh wartawan hanya sanggup menjawab kecelakaan itu terjadi lantaran sopir lelah dan mengantuk, kemudian hilang fokus. Sekalipun itu narasumbernya polisi.

Okelah, bisa jadi polisi yang di Tempat Kejadian Perkara (TKP) memperoleh informasi itu dari pengakuan langsung si sopirnya. Namun,i kalau si sopir langsung diangkut ambulans apakah polisi tetap bertanya pada si sopir? Atau saat kebetulan sopirnya meninggal seketika, apakah polisi mendapat informasinya dari arwah yang dia kunjungi di dimensi lain?

Ah! Saya yakin hal itu mustahil terjadi. Nggak mungkin polisi akan bertanya “Mas/Pak, saat anda berkendara apakah merasakan ngantuk dan capek?” kepada si sopir.

Bukannya nggak percaya sama polisi ya, melainkan cuma sedikit janggal saja, kok banyak berita kecelakaan penyebabnya yang selalu dimunculkan adalah sopir mengantuk?

Seolah-olah, tragedi kecelakaan itu dibebankan sepenuhnya terhadap si sopir. Mengapa si wartawan nggak mencari penyebab kecelakaan yang lain? Wartawan memang nggak bisa mengatur atau memprediksi penyebab kecelakaan. Namun, bukankah wartawan punya sikap skeptis?

Misalnya nih, si narasumber yang berwenang menjawab pertanyaan wartawan soal penyebab kecelakaan bilang kecelakaan terjadi akibat sopir mengantuk. Si wartawan boleh kok nggak puas dengan jawaban itu. Jadi, nggak lantas segera ditulis dan setor ke redaktur.

Info Lalu Lintas

Kok malah info lalu lintas? Iya dong, justru itu informasi yang sangat penting, tapi wartawan sering lupa mencantumkannya dalam berita kecelakaan. Saya jelaskan.

Kecelakaan terjadi di jalan raya yang notabene ruang di mana publik berlalu lalang. Sewaktu terjadi kecelakaan di persimpangan misalnya. Orang-orang sekitar pasti akan langsung berkerumun. Bahkan orang-orang yang terlambat ke kantor rela mampir sejenak untuk melihat siapa yang mengalami kecelakaan.

Polisi atau petugas, apa pun itu pasti akan datang ke lokasi. Alhasil, jalan pun macet. Antrean kendaraan bisa saja mengular setelah terjadinya kecelakaan. Dari sini, si wartawan bisa mengambil informasi lalu lintasnya, alih-alih fokus pada berita kecelakaan.

Informasi lalu lintas juga dibutuhkan ketika ada kecelakaan. Orang yang kebetulan hendak berpergian dan melewati jalan tempat terjadinya kecelakaan jadi tahu, bahwa jalan tersebut sedang macet karena ada kecelakaan. Maka, informasi mengenai jalan alternatif yang bisa ditempuh guna menghindari kemacetan juga sama pentingnya dengan berita kecelakaan.

Imbauan

Saking semangatnya menulis lead yang isinya inti kejadian dan juga menulis kronologi dan memberikan ruang untuk kutipan-kutipan dari narasumber. Terkadang, dalam berita kecelakaan nggak ada imbauan untuk masyarakat.

Padahal, imbauan itu penting sekali. Dulu, ketika saya magang jadi wartawan, dan wawancara ke Kapolres, dia nggak pernah lupa memberikan imbauan untuk masyarakat. Tentunya, Kapolres berharap wartawan yang baru saja wawancara dengannya bisa menuliskan imbauan itu dalam konten beritanya.

Ironisnya, semua berita kecelakaan nyaris tanpa imbauan. Mungkin saja, imbauan tersebut nggak penting buat pembaca. Kalaupun ada, letaknya di paragraf paling akhir. Nggak apa-apa sih kalau beritanya bisa dibaca dalam sekali klik.

Oleh Muhammad Arsyad

Menulis, main game, dan berkelana. Mahasiswa IAIN Pekalongan. Berdomisili di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.