Sobat milenialis pasti tidak asing dengan yang namanya pacaran. Secara umum, umat Islam meyakini bahwa hukum pacaran itu adalah haram. Tapi bagi sebagian kecil umat Islam, hukum pacaran masih debatable, alias dapat diperdebatkan. Bisa saja halal, bisa saja mubah. Quraish Shihab, dalam sebuah ceramah, mengatakan bahwa pacaran dalam arti komitmen adalah boleh. Dengan catatan, harus menghilangkan unsur perzinaan.

Terlepas dari hukum pacaran, saya ingin menyampaikan beberapa hal agar bisa menjadi pertimbangan anda untuk memutuskan hubungan seperti apa yang ingin teman-teman milenialis jalani dengan orang yang dicintai. Saya akan berbicara secara umum. Apapun untuk kasus-kasus tertentu, itu diluar pengetahuan saya.

Pertama,

pacaran yang dilakukan jauh dari usia matang banyak yang gagal daripada yang langgeng sampai pernikahan. Jadi, kalau kamu mencintai seseorang pada pandangan pertama, dan ingin hidup selamanya bersamanya, pikirkan ulang ketika akan menjalani hubungan pacaran. Tidak pernah ada perpisahan yang baik-baik saja. Semua perpisahan selalu meninggalkan bekas. Kebanyakan berupa luka, sebagian kecil berupa kenangan yang membahagiakan.

Kedua,

ada beberapa orang yang melakukan hubungan pacaran dengan alasan agar menjadi motivasi bagi masing-masing individu agar menjadi lebih baik. Agar lebih rajin belajar misalnya. Faktanya, itu sering menjadi gimmick saja.

Banyak sekali yang bisa dijadikan motivasi agar kita bisa menjadi lebih baik selain pacar. Misalnya orang-orang yang sukses, kakak kelas, guru, dosen, orang tua, teman dekat, dan lain-lain. Cara menumbuhkan motivasi pun beragam. Bisa dengan membaca buku-buku motivasi, buku biografi, menonton film biografi, dekat dengan orang-orang sukses, dan masih banyak lagi.

Ketiga,

sangat mungkin pacaran hanya menjadi pelampiasan nafsu semata. Kita tidak bisa menutup mata dari fakta tingginya angka pornografi dan pornoaksi di Indonesia. Betapa banyak kasus pemerkosaan yang pelakunya adalah pelajar?

Jamak terjadi ketika seseorang, lebih-lebih laki-laki yang menyukai lawan jenis, ia akan berperilaku menjadi orang baik sehingga orang yang ia suka tadi mau berpacaran dengannya. Setelah perempuan ini mau berpacaran, saatnya laki-laki tersebut mengeluarkan tabiat aslinya. Ia meminta hal-hal yang tidak layak diminta. Teman-teman milenialis sudah paham maksud saya kan?

Keempat,

pacaran sering mengganggu produktivitas. Jika kamu seorang pembaca ulung, biasanya bisa menghabiskan 10-100 halaman buku setiap hari. Namun, ketika berpacaran, kita harus melayani chat atau telfon pacar yang sekedar bertanya ¬†“sudah makan belum?”, “seharian ngapain aja?”, “lagi ngapain?”, “semalem ngimpiin aku enggak?”, dan pertanyaan remeh lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa mengurangi porsi membaca buku sehingga yang awalnya 10-100, menjadi sama sekali tidak membaca, atau membaca namun kurang dari 10 halaman. Hal itu juga dapat mengurangi produktivitas untuk belajar, berolahraga, dan berorganisasi.

Kelima,

pacaran akan menguras dompet. Saya yakin, haqqul yaqin, bahwa orang yang baru-baru berpacaran, atau sedang PDKT dengan seseorang, ia ingin agar terlihat kaya, telepas dari apakah dia benar-benar kaya atau sekedar pencitraan seperti pemerintah saja. Sehingga, ketika jalan-jalan atau memilih tempat makan berdua, ia akan memilih tempat yang mahal dan berkelas. Jika kamu adalah orang yang tidak berpunya, atau orang yang masih bergantung kepada orang tua, ini akan menjadi hal yang sangat menyiksa.

Benda-benda seperti baju, sepatu, HP, tas, dan parfum harus selalu yang bagus dan mahal. Jika sedang tidak memiliki uang, apa yang bisa kita lakukan? Bisa jadi memotivasi agar bekerja keras. Namun, banyak juga yang memilih untuk menjadi parasit. Baik parasit untuk orang tua atau teman-temannya.

Jadi, pacaran itu nggak mudah lho. Yakin masih mau pacaran?

Editor: Halimah