Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, hadir memberikan Pidato Kebangsaan pada Haflah Takharruj (Wisuda) Siswa Kelas VI Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta Tahun Ajaran 2025/2026 di UNISA Convention Hall, Yogyakarta, pada Minggu (10/5).
Dalam pidatonya, Fajar menghadirkan refleksi penting tentang tantangan generasi muda di era digital yang berubah cepat.
Anak Muda dalam Pusaran Kecerdasan Buatan
Fajar membuka pidatonya dengan menghadirkan sebuah fenomena seorang robot humanoid telah menjadi biksu di Korea Selatan.
“Baru-baru ini adik-adik, di Seoul Korea Selatan, ada penisbatan seorang bernama Gobi menjadi seorang biksu. Yang menarik bukan penisbatannya, tapi yang dinisbatkan ini adalah robot humanoid bernama Gabi”, terangnya.
Menurut Fajar, fenomena ini akan berdampak bagi kehidupan kita pada hari ini dan kedepannya karena dalam aspek spiritual pun sudah bisa tergantikan oleh robot.
“Bagaimana umat buddha di Korea Selatan mengangkat robot humanoid yang akan memberikan panduan moral bagi umat di sana, tidak hanya pada pekerjaan bahkan sekarang sudah masuk level spiritual keagamaan”, tambahnya.
Dalam situasi seperti ini, tuntutan bagi anak muda untuk memiliki kemampuan belajar dan adaptasi dalam menghadapi tantangan zaman semakin cepat. Tetapi menurut Fajar, ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin; hati, emosi, dan nilai kemanusiaan.
“Yang akan dipertaruhkan bukan seberapa banyak kalian menguasai berbagai ilmu, tetapi seberapa cepat kalian bisa mempelajari hal-hal baru, karena ilmu pengetahuan akan cepat berubah dan berkembang”, terangnya.
Enam Pesan Buya Syafii Maarif
Berangkat dari fenomena dan tantangan ini, Fajar menghidupkan kembali pesan moral yang pernah disampaikan oleh Buya Syafii Maarif. Harapannya, pesan-pesan ini bisa menjadi bekal kader Mu’allimin untuk terjun ke dalam dunia yang luas.
1. Siapkan Dirimu
Pesan pertama ini relevan dengan kondisi anak muda sekarang yang berada di tengah ketidakpastian. Kader Mu’allimin dituntut untuk bisa memiliki kapasitas intelektual, kemampuan sosial keagamaan, dan juga kesiapan menghadapi tantangan global.
Karena menurut Buya Syafii, Muhammadiyah adalah gerakan ilmu dan peradaban. Sehingga kader Mu’allimin harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, tidak hanya dalam intelektualitas tapi juga keislaman.
“Kader Mu’allimin harus punya etos manusia yang berilmu dan bertaqwa”, ujar Fajar.
2. Lapangkan Dada
Kader Mu’allimin akan menghadapi dunia yang lebih heterogen yang tidak pernah ada di Mu’allimin. Fajar menekankan pentingnya menghindari sikap eksklusif dan fanatisme buta. Keterbukaan juga menjadi modal penting agar bisa terhindar dari polarisasi dan kebencian yang cepat berkembang di era digital.
3. Jangan Mudah Marah
Marah adalah pangkal dari masalah. Ketika marah menguasai maka akal akan terkalahkan. Dalam masyarakat yang lebih luas, akan ada banyak pikiran yang berbeda dan sering tidak sesuai dengan keinginan. Maka, kemampuan mengelola emosi menjadi penting untuk bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
4. Jangan Mudah Putus Asa
Kader Mu’allimin hidup dalam era disrupsi yang penuh dengan ketidakpastian. Ketika anak muda banyak mengalami krisis mental, Fajar berharap kader Mu’allimin harus tampil sebagai sosok yang percaya diri dan resilien.
5. Hadapilah Masyarakat dengan Kepala Tegak
Kader Mu’allimin akan menghadapi keberagaman saat lulus nanti. Fajar berpesan agar lulusan Mu’allimin untuk bisa memiliki relasi yang luas tanpa perlu kehilangan jati diri.
“Wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a‘launa ing kuntum mu’minîn, hendaknya adik-adik tidak merasa rendah diri apalagi takut karena sejatinya kalian tinggi martabatnya jika betul-betul beriman”, jelas Fajar.
6. Sampaikan Pesan Islam dengan Bahasa Hati
Fajar juga menyampaikan, bahwa Buya Syafii juga menekankan pentingnya kekuatan hati selain kecerdasan intelektual. Enam pesan Buya sebelumnya lebih terkait dengan mentalitas, sedangkan pesan yang keenam mementingkan hati dalam proses dakwah.
Fajar juga menegaskan bahwa dalam tradisi Islam, hati dipahami sebagai pusat moral manusia; ketika hati baik, maka seluruh perilaku manusia juga akan baik.
“Ilmu bisa berkembang, teknologi bisa canggih, tetapi nilai kemanusiaan tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan. Maka kader Mu’allimin dituntut untuk bisa mengintegrasikan iman, ilmu, teknologi, dan kemanusiaan”, tegasnya.
Harapan
Fajar menyampaikan bahwa dalam 20 tahun kedepan lulusan angkatan ke-100 Mu’allimin akan berada dalam usia paling produktif untuk mengambil peran di tengah masyarakat pada masa Indonesia Emas pada tahun 2045. Maka, ia berharap agar seluruh lulusan ke-100 Mu’allimin dapat mempersiapkan perannya sejak sekarang.
“20 Tahun kedepan, Indonesia akan memasuki tahun 2045 yang menjadi periode Indonesia Emas. Itulah tahun ketika adik-adik semuanya berada pada usia paling produktif. Jadi, menfaatkan prosesnya sebaik-baiknya dari sekarang”, jelasnya.
Karena itu, Fajar juga berharap kader Mu’allimin mampu membawa spirit Ahmad Dahlan ke tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian.
“Saya yakin adik-adik, pada fase usia puncak, yang orang bilang fase kenabian dalam hidup kita. Saya mendoakan adik-adik yang hari ini wisuda bisa tumbuh menjadi kader-kader Muhammadiyah yang tangguh. Bisa mentransformasikan semangat Ahmad Dahlan di era kekinian”, ucapnya.
Tak lupa Fajar berpesan agar kader Mu’allimin berani berdiaspora ke berbagai ruang kehidupan dan menjadi apa saja selama mampu menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.
“Berdiasporalah di banyak tempat. Menjadi guru, ustad, ulama. Jadi pengusaha, birokrat, politisi. Apapun profesinya sama mulianya sepanjang adik-adik bisa menebarkan kebaikan kepada sesama”
Terakhir, Fajar mengingatkan bahwa kader Mu’allimin tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai kader Muhammadiyah. Bangun relasi seluas mungkin, tetapi nilai, prinsip, dan keberpihakan terhadap kemanusiaan harus tetap terjaga.
“Jadilah kader-kader Muhammadiyah yang menunjukkan jati diri dan jiwa kemuhammadiyahan, tetapi pergaulannya merentang jauh dari timur ke barat. wa far‘uhā fis-samā‘ i. Karena saya kira itulah yang ingin kita bentuk sekolah-sekolah Muhammadiyah termasuk Madrasah Mu’allimin”, pungkasnya. (Salman)
Foto: Tino/Humas Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

Comments