YOGYAKARTA — Ghazwu Fikril Haq, 25 tahun, guru muda sekaligus pelatih klub robotika SD Muhammadiyah 4 Surabaya, menyadari ada berbagai peluang ketika ia melihat rooftop sekolah yang setengah areanya sudah digunakan sebagai tandon air: bagaimana kalau air hujan itu bisa diolah menjadi air wudhu dan air kamar mandi?
Ide ini ia dapatkan setelah mengikuti program lokakarya dan penghargaan Indonesia Green Principal Award (IGPA) Batch 8, yang berlangsung pada 7–9 Mei 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Diselenggarakan oleh Janitra Bhumi Indonesia Education Consulting dan Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) Universitas Gadjah Mada (UGM), IGPA Batch 8 mempertemukan 15 pendidik dari delapan sekolah dan satu yayasan pendidikan, berasal dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Lampung, dan Riau.
Di antara mereka, terdapat tiga sekolah Muhammadiyah yang hadir sebagai peserta: SD Muhammadiyah 21 Surabaya, SD Muhammadiyah 4 Surabaya, dan SMP Muhammadiyah Al Ghifari Lampung Timur.

Mengisi Celah yang ditinggalkan Kebijakan Nasional
Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular Indonesia yang dirilis Bappenas pada 2024 mencantumkan integrasi prinsip ekonomi sirkular ke dalam kurikulum sekolah. Namun hanya jenjang sekolah menengah atas dan perguruan tinggi yang disebutkan dan tidak ada satu pun rujukan eksplisit untuk SD, SMP, apalagi PAUD.
IGPA hadir untuk memberikan pendidikan ekonomi sirkular dengan cakupan yang jauh lebih luas. Peserta Batch 8 mencakup kepala sekolah dan pendidik dari jenjang TK hingga SMA, termasuk perwakilan yayasan yang membawahi lebih dari 20 sekolah. “Sayang sekali kalau Bappenas hanya memasukkan pendidikan ekonomi sirkular ke dalam kurikulum untuk SMA dan perguruan tinggi. PAUD dan jenjang pendidikan dasar justru yang paling utama, karena itu adalah golden age (periode emas) untuk mengubah paradigma,” tutur Dr. Junita Widiati Arfani, salah satu pendiri IGPA dan Direktur JBI Education Consulting.
Gen-Z Mengajar Gen-Alpha
M. Romadona, kepala sekolah Gen-Z sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah Al Ghifari, menekankan pentingnya membuat anak-anak tertarik terlebih dahulu.
“Generasi Alpha itu memiliki gaya belajar kinestetik. Mereka perlu belajar di luar, mengunjungi bank sampah, melihat langsung barang limbah yang bisa jadi kerajinan. Kita tidak bisa hanya ceramah di kelas. Mereka harus paham: kalau kalian bisa menjaga lingkungan sekitar, kalian bisa memberikan dampak besar di masa depan,” ungkapnya.
Visi Romadona terhadap pelestarian lingkungan ditunjukkan dengan inovasi yang ia bawa dari sekolahnya: pensil ramah lingkungan yang mengandung benih sayuran di ujungnya dan bisa ditanam ketika pensil sudah tidak bisa digunakan lagi, serta kartu ucapan dan pembatas buku berbahan dasar kertas daur ulang yang jika ditanam bisa tumbuh menjadi bunga marigold dan sayuran. Seluruh produk tersebut tidak hanya berakhir di tempat sampah, namun bisa menghijaukan bumi kembali. Lewat inovasi tersebut, ia meraih penghargaan Best Circular School Creator and Innovator sekaligus Outstanding Dedicated Principal on Circular School Initiatives.
Spirit KH Ahmad Dahlan dalam Isu Lingkungan
Bagi Aril, keterlibatan sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam IGPA merupakan bentuk pelestarian semangat dakwah dan kontribusi sosial dari KH. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah.
“KH Ahmad Dahlan dulu pernah dituduh sebagai ‘kiai kafir’ karena menggunakan meja, kursi, papan tulis, bahkan biola sebagai media belajar dan dianggap ikut-ikutan Belanda. Tapi sebenarnya tujuan beliau adalah dakwah dan sosial,” katanya. “Semangat itulah yang harus terus mengalir. Muhammadiyah sudah kuat di pendidikan dan kesehatan. Sekarang saatnya fokus dan masif di isu lingkungan.”
Senada dengan Aril, Dian Fajarwati, guru SD Muhammadiyah 21 Surabaya, mengakui bahwa tantangan terbesar di sekolahnya bukan kurangnya semangat, melainkan kesadaran kolektif dan tantangan finansial. “Ini jadi motivasi saya untuk ke depannya lebih baik lagi,” ujarnya. Program yang ia prioritaskan usai IGPA: pemilahan sampah organik dan anorganik. Mulai dari hal paling konkret yang bisa langsung diterapkan di lorong-lorong sempit sekolah.
Dalam IGPA Batch 8, turut hadir pula Kurniawati Laela Octiani, pendidik Gen-Z dari SD Muhammadiyah 4 Surabaya, memperkuat representasi generasi muda Muhammadiyah dalam program ini.
Dari Ruang Kelas ke Indonesia Emas 2045
Para siswa generasi Alpha yang hari ini duduk di bangku SD dan SMP Muhammadiyah adalah generasi yang pada 2045 akan menjadi angkatan kerja produktif Indonesia Emas. IGPA meyakini bahwa transformasi perilaku lingkungan paling efektif dimulai bukan dari regulasi, melainkan dari kebiasaan yang dibentuk sejak dini oleh guru-guru yang berkomitmen tinggi.
“Jangka pendeknya, kalau belum bisa dimasukkan ke kurikulum, setidaknya guru harus bisa menginspirasi,” kata Aril. “Generasi Alpha butuh melihat contoh nyata dari orang-orang di sekitarnya.”
IGPA kini memasuki tahun keempat sejak pertama kali diselenggarakan pada Januari 2022 dan terus berkembang sebagai platform nasional untuk kepala sekolah yang berkomitmen pada transformasi sekolah berbasis ekonomi sirkular. Dalam satu tahun, acara IGPA dapat diselenggarakan hingga dua kali. Hingga saat ini, terdapat 74 sekolah Muhammadiyah dari jenjang Sekolah Dasar (SD/SDIT/MIM) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA) yang telah mengikuti IGPA. (Kinta Herawan)

Comments