Tahun 2026 akhirnya datang juga. Kalender ganti, status ganti, target baru pun mulai kita tulis. Ada yang pasang resolusi finansial, karier, pendidikan bahkan liburan. Semua sah-sah saja. Tapi, ada satu pertanyaan yang kerap luput ditanyakan kepada diri kita sendiri, yaitu “Apakah iman kita ikut diperbarui atau hanya angka tahunnya saja yang berganti?”.

Sebagai seorang muslim, waktu bukan hanya sebatas barisan hari yang lewat begitu saja. Waktu merupakan potongan umur kita di dunia. Setiap detik yang berlalu, jatah hidup kita di dunia berkurang, dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karena itu, pergantian tahun seharusnya tidak hanya berhenti pada euforia atau rutinitas tahunan, tapi menjadi momen untuk muhasabah atau mengevaluasi diri dan memperbaiki arah hidup.

Allah SWT sudah mengingatkan kepada para hamba-Nya bahwa bekal terbaik dalam hidup itu bukan harta, popularitas, atau pencapaian dunia, tapi ketakwaan. Dengan takwa itulah yang akan menolong seorang hamba, bukan hanya saat hidup di dunia saja tapi juga Ketika Kembali menghadap Allah SWT.

Resolusi Orang Mukmin Selalu Terhubung dengan Akhirat

Seorang mukmin memiliki cara pandang hidup yang berbeda. Orang mukmin boleh bekerja keras, mengejar mimpi dan membangun masa depan dunianya. Tapi semua itu tidak akan pernah lepas dari tujuan akhirnya yaitu keselamatan akhirat. Karena itu, resolusi seorang mukmin tidak pernah murni hanya urusan dunia. Target hidupnya selalu bertaut dengan iman dan amal. Bukan berarti orang mukmin itu anti dunia, tapi menjadikan dunia sebagai jalan bukan tujuan.

Lalu di antara sekian banyak resolusi yang bisa kita buat, apa yang sebaiknya paling kita dahulukan pada awal tahun 2026 ini? Ada dua hal besar yang layak menjadi prioritas utama kita.

Pertama, Berlomba-lomba Dalam Kebaikan, Jangan Cuma Niat

Kebaikan bagi seorang mukmin bukan hanya sebatas kegiatan tambahan yang ada pada waktu luang. Kebaikan menjadi kebutuhan hidup seorang mukmin. Ia sadar bahwa kesempatan untuk beramal tidak selalu datang dua kali. Waktu yang terlewat tidak akan pernah kembali.

Sering kali kita menunda dengan perkataan, “Nanti kalau sudah longgar”, “Nanti kalau sudah siap”, “Nanti kalau sudah lebih baik”. Padahal, tidak ada jaminan usia kita akan sampai pada kata nanti. Bisa jadi setelah berkata demikian Allah SWT mencabut nyawa kita.

Karena itu, seharusnya kita memandangi tahun 2026 sebagai bentuk kesempatan baru untuk melakukan kebaikan. Apa yang dulu belum kita lakukan, maka tahun ini kita bisa mulai. Apa yang dulu setengah-setengah dalam melakukan kebaikan, sekarang kita perbaiki niat dan kesungguhan kita dalam melakukan kebaikan. Tidak perlu menunggu apalagi menunggu diri kita sempurna, karena yang terpenting adalah kita mulai melangkah dulu. Allah SWT berfirman dalam potongan Q.S. Al-Baqarah ayat 148 yaitu Fastabiqul Khairat yang artinya maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.

Ayat ini juga menarik untuk kita kaji, karena Allah tidak hanya memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik, tapi juga berlomba-lomba. Artinya, kebaikan itu perlu untuk kita prioritaskan, segerakan dan tidak kita tunda-tunda lagi. Seorang mukmin tidak akan merasa cukup dengan amal kebaikan yang ia lakukan. Orang mukmin selalu ingin memperbaiki kualitas dan kuantitasnya, meskipun sedikit demi sedikit. Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini juga mengajarkan kita tentang satu prinsip penting pada kehidupan kita, yaitu bahwa konsistensi mengalahkan sensasi. Amalan kecil tap rutin yang kita lakukan sering kali lebih Allah cintai dibanding amalan yang besar tapi hanya muncul sekali saja.

Maka, tahun ini kita tidak perlu memaksakan diri kita untuk menargetkan sesuatu yang besar. Mulailah dari yang terkecil dan mampu kita lakukan seperti menjaga salat dengan tepat waktu, membaca Al-Qur’an meskipun sedikit tapi rutin, memperbaiki akhlak, atau menjaga satu amal baik sepanjang tahun.

Kedua, Jika Berat Menambah Amal Kebaikan, Mulailah dengan Meninggalkan Kemaksiatan

Di antara kita, tidak semuanya bisa langsung mampu memperbanyak amal saleh. Ada yang masih tertatih-tatih ketika menambah amal kebaikan. Ada juga yang masih berjuang melawan kebiasaan buruknya. Tapi, Islam tidak akan menutup pintu kebaikan kepada siapa pun. Jika kita terasa berat dalam melakukan amal kebaikan, jangan remehkan satu pesan yaitu meninggalkan maksiat.

Kadang-kadang, pahala besar yang kita peroleh bukan hanya dari banyaknya amal yang kita lakukan, tapi juga kesungguhan kita dalam berhenti dari dosa yang selama ini kita anggap biasa saja. Meninggalkan maksiat bukan perkara ringan. Perbuatan itu akan menuntut kejujuran pada diri kita sendiri, kesabaran kita dalam menahan hawa nafsu, dan keberanian kita untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Dan justru itulah nilai yang sangat besar.

Menjaga lisan dari dosa, menahan pandangan yang tidak selayaknya kita lihat, menghentikan kebiasaan buruk lalu menjauh dari lingkungan yang menyeret pada kemaksiatan, semua itu adalah perjuangan iman yang nyata. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT”. (HR. Bukhari)

Dan hadis tersebut menegaskan kepada kita bahwa hijrah itu tidak selalu soal berpindahnya kita dari satu tempat ke tempat yang lain. Melainkan hijrah yang paling nyata itu adalah perpindahan sikap atau perilaku kita dari maksiat menuju ketaatan atau dari kebiasaan buruk menuju hidup yang baik dan diridhai oleh Allah SWT.

Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi bahkan berkata, “Allah tidak pernah disembah dengan suatu amalan apapun yang lebih Dia cintai daripada meninggalkan perbuatan maksiat.” Maksudnya bahwa berhenti berbuat dosa bukan hanya sebatas tidak berbuah apa-apa, tapi justru itu sebuah ibadah yang besar. Imam Ibnu Al-Jauzi juga mengingatkan kepada kita, “Seandainya seseorang meninggalkan satu perbuatan maksiat karena Allah SWT maka ia akan melihat buah (dampak kebaikan) dari perbuatan itu”.

Berkurangnya maksiat kita menjadi tanda iman yang masih ada dalam diri kita. Sedangkan putusnya kebiasaan buruk seringkali menjadi pintu datangnya taufik dan pertolongan Allah SWT.

Resolusi Tahun 2026 Sebagai Titik Balik

Mari kita jadikan awal tahun 2026 tidak hanya sebatas pergantian hari tetapi juga untuk menata ulang niat kita. Memperbaiki arah hidup kita dan meneguhkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Kita tidak perlu menunggu sampai sempurna, tidak perlu langsung besar untuk melakukan amalan kebaikan. Semoga Allah menjadikan tahun ini sebagai tahun bertambahnya amal salih, berkurangnya dosa, dan meningkatnya kualitas iman kita, dan setiap langkah yang kita tempuh tahun 2026 penuh dengan keberkahan dan berada dalam rida-Nya. Karena sejatinya tahun yang baik bukan yang penuh dengan pencapaian dunia tapi yang mendekatkan kita kepada surga-Nya.

Editor: Hafidz

Foto: Pinterest