Mata Najwa memang mangkus betul dalam mengeksekusi setiap tamu yang dihadirkannya. Telah mencapai usia satu dekadenya, Mata Najwa mengawali episode spesialnya dengan tiga gubernur andalan. Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, juga Ridwan Kamil dengan kocak menjadi sajian pembuka menggantikan tatapan tajam Najwa Shihab.

Dengan topik masa dulu versus masa kini yang dialami oleh ketiga gubernur, pejabat nomor satu daerah tersebut tampak gayeng menyapa pemirsa. Tampak betul Pak Ridwan Kamil yang begitu lawak dan anti jaim-jaim club menguar gombalan rayu masa mudanya. Pak Ganjar yang bertampilan necis ala milenial pun tak kalah asik mencipta gelak tawa. Sedangkan Gubernur ibukota Anies Baswedan yang tetap bergaya cool turut menimpali.

Setelah Najwa Shihab hadir di atas panggung, ketiga gubernur tak bisa mengelak untuk dimintanya melakukan tren anak muda yakni bermain Tik Tok. Setelah diberi video contoh, para gubernur harus menunjukkan gerakan tari sesuai lagu Anysong karya Zico yang popular di Tik Tok tersebut. Tanpa malu, tanpa ragu, seolah sudah menghapal lebih dulu, Pak Ridwan memperagakan gerakan Tik Tok dengan lancar. Pak Ganjar Pranowo yang dikenal dengan ciri gaulnya pun tak kalah membuktikan julukannya. Pak Anies juga tidak mau kaku dong. Aksi ketiga gubernur kekinian itu berhasil mencipta riuh gembira penontonnya.

Terhitung sejak 20 Februari 2020 di mana video tayangan Mata Najwa itu pertama kali diunggah di kanal Youtube Mata Najwa, tak kurang dari 4.5 juta pasang mata telah menontonnya. Tanggapan datang beragam. Ada yang mengapresiasi ketiganya karena menunjukkan sisi kepemimpinan yang tidak sok elit karena berjabatan tinggi. Ada juga yang merasa terhibur dengan aksi gubernur primadona ini. Namun tak dapat dipungkiri adanya komentar negatif yang justru menyorot sisi elektabilitas kepemimpinan.

Komentar senada pun beredar di twitter bagi para pejabat pemerintahan yang mencoba mengikuti tren Tik-tokan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Gubernur Ridwan Kamil dan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal bersama Cinta Laura. Sebagian netizen menilai bahwa aksi tersebut justru menurunkan marwah kepemimpinannya. Seolah jabatan tinggi yang hendak gayeng mengikuti tren haha-hihi malah menjatuhkan harga diri. Bukankah semestinya beliau-beliau ini yang duduk dan berpusing ria mengurusi masalah-masalah di masyarakat? Bukan malah joget-joget unjuk bakat.

Memang apa yang salah dari bermain Tik Tok? Toh selama ini banyak orang melakukannya. Mulai dari kalangan anak SD, selebriti, hingga club bola Barcelona pun punya akunnya. Lalu mengapa ketika pejabat yang melakukannya menjadi hal yang dipermasalahkan? Jawabannya adalah karena mereka pemimpin. Pemimpin adalah sorotan publik yang menjadi figur bersih berwibawa. Dalam kasus sederhana, ini juga terjadi dengan pemimpin di lingkup kecil. Sebagai contoh, seorang guru memberikan judgement buruk yang lebih kepada ketua OSIS ketika nilainya menurun bahkan harus remidial. Sedangkan pada murid lainnya, nilai yang menurun tak begitu disorot. Akan muncul judgement, “Ketua OSIS kok remidi, kamu mestinya menjadi teladan.” Sebagaimana komentar “Gubernur kok tik-tokan, urusin tuh banjir.”

 

Ironisnya, aksi gubernur Tik Tok-an ini memang trending di saat yang sama dengan bencana banjir jadi topik di wilayah Pak Gubernur. Anies Baswedan dan Ridwan Kamil menjadi bahan cercaan bertubi dengan masalah ini. Seolah waktu yang kurang dari lima menit untuk Tik Tok-an itu adalah cerminan waktu yang mereka habiskan dalam menjalankan periode kepemimpinan selama ini.

Marak sekali perbincangan banjir ibukota dengan menyalah-nyalahkan Anies. Ridwan Kamil pun tak lepas dengan kritik pedas korban banjir Jawa Barat. Memang perlu banyak hal yang mesti dievaluasi kembali mengenai penanganan musibah rutinan musim hujan ini. Pemerintah perlu menata betul opsi-opsi mulai dari pencegahan hingga penanganan musibah banjir. Pasalnya masalah ini seolah telah dibiarkan menjadi peristiwa lalu yang boleh saja datang tanpa dipertamu. Kalau musim hujan ya biasanya juga banjir, nikmati saja. Duh jangan hanya nikmati yang biasanya ya, Pak! Kita perlu buat yang luar biasa.

Tidak perlu larut-larut persoal perlu menyalahkan aksi Tik Tok dengan banjir dan macet. Masalah banjir dan macet bukan perkara bagi satu orang saja. Tidak perlu banyak fafifu mengkritik. Pemimpin daerah (semoga) sedang memikirkannya. Tinggal kita lihat diri sendiri, sudahkah kita tidak buang sampah sembarangan untuk mencegah banjir?

Penulis: Hanifah Maghfira

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kredit