Mayoritas penduduk bumi sudah mengenal media sosial sejak internet menyentuh kehidupan kita. Hampir semua orang bersinggungan dengan media sosial melalui akun-akun pribadi mereka.

Fungsi utama media sosial ini sebenarnya sih? Untuk memudahkan komunikasi dan interaksi? Iya. Untuk menambah jaringan pertemanan dan bisnis? Iya. Untuk mengakses informasi, tentu. Untuk pamer? Ya jelas dong.

Lalu kenapa banyak sekali anjuran yang menyatakan bahwa sebaiknya kita sebagai pengguna aktif tidak perlu sering-sering memamerkan sesuatu di akun media sosial kita?

Kenapa sih melarang pamer di media sosial?

Mari kita coba lihat secara perlahan. 

Satu, saat kita pertama kali mendaftarkan diri untuk sebuah akun di media sosial, data apa saja yang diminta? Selain identitas yang lengkap, sudah tentu kita diminta menampilkan foto diri. Apa mungkin kita akan memasang foto yang kurang bagus, blur, berbayang atau malah sudah usang? Pastinya yang akan kita pajang adalah foto diri paling ciamik sepanjang hayat. Entah itu foto dengan latar belakang pemandangan, swafoto atau juga foto bersama pasangan dan keluarga besar. 

Apa namanya kalau bukan pamer? 

Dua, selain identitas yang basic dan foto kita juga akan diminta mengisi riwayat pendidikan (seperti di Facebook atau LinkedIn). Gunanya ya untuk memudahkan mencari komunitas yang tepat untuk kita, siapa tahu ada teman lama yang ketemu lagi di media sosial, siapa tahu jadi saling sapa dengan mantan pacar zaman SMP. Bila daftar pendidikan yang sedang atau sudah kita lalui ini memang panjang, apalagi sempat sekolah di tempat yang keren dan beken tentu namanya juga pamer kan?

Kita bisa beralibi ini untuk kepentingan data diri atau mungkin untuk mencari pekerjaan, tapi kan sama saja. Curriculum Vitae yang kita lampirkan sebagai syarat melamar pekerjaan juga konsepnya pamer kok. 

Tiga, saat aktif bermedia sosial, pastinya kita akan terpancing untuk memberi tahu pada dunia apa yang sedang kita rasakan, apa yang lagi kita kerjakan, kita sedang ada di mana. Iya kan? Ngaku! Lagi makan sama pacar, diunggah di media sosial. Lagi jalan-jalan sama keluarga, diceritakan di media sosial. Lamaran, menikah, lahiran, ulang tahun pasangan, ulang tahun anak, semuanya kita beber di media sosial. 

Bukan pamer?

.

Pada dasarnya, kita harus paham dan menerima dengan legowo dulu bahwa media sosial itu ya memang tempatnya pamer. Wis toh manuto, ojo ngeyel sek. Setelah bisa paham dan menerima, barulah kita saring satu per satu mana hal yang bisa setiap saat kita pamerkan, mana yang tidak. 

Sudah banyak tulisan-tulisan di media lain yang membahas apa-apa saja yang tidak boleh kita pamerkan secara terus menerus di media sosial. Saya tidak akan mengulanginya, hanya akan mengambil contohnya sedikit. Antara lain; unggahan yang isinya tangis-tangisan karena ditinggal selingkuh atau baru saja bubaran sama pacar. Halah, halah. Ini pamer yang nggak ketje! Serius! Sedih boleh, tapi jangan jadi bodoh.

Terus yang boleh pamer apaan dong? 

Pamer prestasi boleh. Kamu diterima kerja di perusahaan besar, kamu baru saja menerbitkan buku, tulisanmu bisa tayang di kolom esai Mojok, baru diwisuda, launching usaha offline/online milikmu sendiri. Semuanya ini prestasi. Sampaikan dengan caption yang baik, siapa tahu bisa jadi inspirasi dan penyemangat bagi orang lain yang melihatnya. 

Pamer senyuman boleh. Senyum itu ibadah, begitu kan? Nah, kalau mau pajang swafoto usahakan yang sedang senyum. Kamu nggak akan pernah tahu siapa saja yang bisa merasa ikut bahagia melihat senyummu.  

Pamer kebahagiaan bersama pasangan atau keluarga juga boleh. Asal tidak berlebihan ya. Sekali lagi, sampaikan dengan kata-kata yang baik. Jangan lebay tapi tidak perlu humble bragging juga. Yang wajar-wajar saja.

Saya pribadi sih suka kalau melihat ada teman yang pasang foto mesra dengan pasangan atau terlihat rukun dengan keluarganya karena secara tidak langsung itu juga membuat saya merasa mampu mesra dan rukun dengan keluarga saya. Good vibes. 

Selamanya perihal pamer-pameran ini akan membawa pro dan kontra. Dan selamanya juga pasti akan ada pihak yang merasa kurang suka atau berkomentar nyinyir pada unggahan media soaial kita. Take it easy, haters gonna hate. 

Asalkan kita menyampaikannya dengan baik juga tidak mudah besar kepala bila ada yang memuji. Karena pada dasarnya manusia kan ingin selalu diakui eksistensinya, dan memang itulah yang ditawarkan oleh media sosial pada kita setiap harinya. 

Tenang saja, media sosial itu memang tempatnya pamer kok. Kalau masih ada yang protes juga, bilangin aja “Sombhoong amhaaat!” terus tinggalin.