Kota malang, dahulu ketika mendengar namanya yang selalu terlintas dalam pikiran kita pasti Malang sebagai Kota Apel, Malang sebagai Kota Pelajar, hingga Malang kota yang dingin. Julukan itu barangkali masih bisa kita pakai, sebagian.

Tentu bukan Malang Kota Apel, karena keberadaan Apel justru banyak di Poncokusumo Kabupaten Malang dan di Kota Batu. Kota yang dingin juga tidak lagi dengan mutlak dapat disematkan untuk Kota Malang, sebab beberapa tahun terakhir ini Kota Malang sudah tidak sedingin dulu, barangkali masih dingin ketika musim Maba seperti bulan-bulan Juli, Agustus, September. Malang Kota Pelajar, barangkali ini adalah julukan yang masih kuat bisa kita sematkan untuk Kota Malang saat ini.  Setiap tahunnya pelajar berdatangan ke Kota Malang dari berbagai daerah.

Hal ini tentu didukung dengan adanya perguruan tinggi yang cukup banyak di Kota Malang, baik perguruan tinggi negri maupun swasta, dari yang besar hingga yang kecil. Sebagai sebuah kota terbesar kedua di Jawa Timur, Malang memang memiliki cukup banyak julukan yang tersemat untuknya. Salah satu julukan yang saat ini sering disematkan oleh kaum milenial terutama para mahasiswa kepada Kota Malang sendiri yaitu ‘Malang Kota Seribu Cafe’.

Julukan Malang sebagai Kota Seribu Cafe ini merujuk pada fenomena yang saat ini marak terjadi di Kota Malang ini sendiri, yaitu melimpahnya keberadaan cafe di kota malang. Bahkan, saking banyaknya sehingga sulit untuk dapat dihitung secara pasti berapa cafe yang berdiri di Kota Malang saat ini. Hampir-hampir tiap minggu, bahkan tiap hari ada saja grand opening cafe  di Kota Malang, dari yang bergaya vintage, klasik, hingga industrialis. Bergaya khas Jawa hingga bergaya Bali, semuanya ada di Kota Malang.

Beberapa cafe di Malang juga berada di area sentra perkopian seperti, daerah Jl Sudimoro, perkopian Dermo, Dau, dan lokasi belakang UIN yang dari masing-masing sentra itu ada begitu banyak cafe yang dapat kita pilih. Keberadaan cafe yang tersebar di luar lokasi sentra tersebut juga masih banyak dengan segmen dan variasi harga serta menu dan tingkat kenyamanannya masing-masing. Cafe-cafe di malang juga memiliki varian yang mampu dinikmati oleh masing-masing kelas sosial. Seperti cafe untuk kelas menengah keatas, hingga kelas menengah kebawah semuanya ada.

Kegiatan ngafe memang sudah menjadi habits atau kebiasaan yang melekat pada masyarakat urban di Kota Malang, terutama  kaum-kaum milenial baik pelajar maupun mahasiswa. Terbukti dengan pengunjung yang tak surut mendatangi cafe-cafe di  Kota Malang, yang meskipun terdapat banyak sekali cafe di kota ini masing-masing cafe tersebut selalu saja dikunjungi oleh pelanggan.

Seperti pengalaman saya dalam sebulan ini yang berkunjung di beberapa cafe di Kota Malang, setiap dari cafe tersebut memiliki pengunjung yang terus berdatangan, seolah bisnis kafe ini tidak ada matinya di Kota Malang. Bahkan, kondisi pandemi seperti saat ini kafe tetap banyak dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa, serta elemen masyarakat lainnya. Tentu dengan pembatasan yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat, seperti waktu PPKM dahulu, dimana jam buka dibatasi dan sebagainya. Namun, tetap setiap hari cafe tersebut akan senantiasa didatangi oleh pelanggan dan pengunjungnya.

Fenomena banyaknya cafe di Kota Malang yang satu dengan lainnya seolah mampu bersaing dan tidak ada matinya merupakan perwujudan dari gaya hidup masyarakat pos modern saat ini, dimana masyarakat dalam hal pembelian sebagai seorang konsumen bukan lagi sekedar berpikir membeli barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan untuk memenuhi keinginannya.

Teori masyarakat pos modern juga dapat diartikan bahwa masyarakat sebagai konsumen telah mengalami pergeseran perhatian dari produksi menjadi konsumsi, atau penggabungan antara produksi dan konsumsi sekaligus, dimana dalam hal ini konsumen akan memiliki dorongan untuk mengkonsumsi segala sesuatu lebih tinggi dan lebih bervariasi. Berdasarkan dengan penjabaran ini, maka adanya banyak cafe dan konsumen cafe di Kota Malang tentu tidak terlepas dari bagaimana masyarakat Malang sebagai masyarakat pos modern memiliki gaya hidup.

Gaya hidup tersebut dapat dimaksudkan dengan bagaimana konsumen dalam hal berkunjung ke cafe bukan hanya sekedar karena ingin  meneguk secangkir, beberapa sloki, atau segelas kopi atau minuman lainnya. Melainkan, untuk memperoleh kepuasan diri. Keberadaan cafe di Kota Malang juga selayaknya keberadaan cafe di beberapa kota besar lainnya, yaitu untuk melepas penat atau sebagai tempat pelarian dari rutinitas perkuliahan atau perkantoran yang membosankan, juga sebagai bentuk healing, atau sebagai eksistensi pencapaian diri.

Apapun itu gaya hidup masyarakat saat ini yang menjadikan cafe-cafe sebagai tempat berkumpul, ngobrol sesama anggota organisasi, komunitas, atau teman satu circle atau sekedar melakukan deep talk antara beberapa orang saja, selain untuk membeli atau mengkonsumsi makanan minuman. Kemudian juga anggapan bahwa mengerjakan tugas di cafe dengan fasilitas wifi dan tempat yang nyaman. Memang, sudah jelas mampu menjadi alasan untuk cafe-cafe di kota malang terus bertambah, berkembang, dan tetap dinikmati. Seolah tidak ada matinya.