Kebetulan saya mengikuti organisasi perempuan sejak kecil. Tahun 2010, ketika berumur sekitar 10 tahun, saya sudah mulai ikut Nasyiatul ‘Aisiyah berkat bulek saya. Saya yang dilahirkan dari keluarga besar Muhammadiyah yang tidak muhammadiyah-muhamadiyah banget, dicekoki doktrin ideologi muhammadiyah lewat mars-marsnya. Katanya sih, demi perkaderan muhammadiyah yang benar kemuhammadiyahannya.

Konon katanya untuk merawat perkaderan harus sering diadakan perkaderan kultural. Nasyiatul ‘Aisiyah di desa saya mewajibkan agenda kajian setiap satu minggu sekali. Isi kajiannya pun bermancam-macam. Mulai dari cara bersuci, menutup aurat hingga perihal peribadahan.

Ceramah Tentang Surga untuk Laki-laki

Selama kurang lebih 6 tahun mengikuti NA, sedikit banyak saya mulai menelan mentah-mentah isi ceramah-ceramah ustadz yang sering mengisi kajian. Materi kekeluargaan dengan performa perspektif laki-laki sangat langgeng dalam pengajian ini. Hingga suatu waktu, seseorang ustadz pernah menyampaikan demikian “Laki-laki yang taat dan baik, akan mendapatkan sejumlah bidadari yang bening-bening, masih perawan, umurnya sebaya, hingga mayoritas penghuni neraka adalah perempuan dan kalaupun perempuan masuk surga akan menjadi ketua dari bidadari-bidadari suaminya”.

Tidak beda jauh, salah satu dosen di kampus saya pun begitu. Materi kuliahnya tentang haji, tapi pembahasannya soal poligami. Tentu dengan iming-iming perempuan yang mau dipoligami masuk surga dan laki-laki akan dikepung oleh bidadari-bidadari surga. Beliau juga bekerjasama dengan NA daerah mengadakan seminar pra nikah yang tentu isinya seputar bidadari-bidadari surga dan penjelasan fiqih munakahat dari sudut pandang laki-laki.

Apa yang disampaikan oleh ustadz dan dosen tadi membuat saya sedikit jengkel dan merenung. Bagaimana caranya untuk menjadi perempuan yang baik, agar kelak bisa sama-sama mendapatkan surga. Ada penyesalan ketika ceramah-ceramah seolah membuat surga yang didapatkan perempuan hanya akan menjadi ketua dari bidadari-bidadari di surga yang melayani suami. Ini tentu bukan nikmat seperti yang dibayangkan laki-laki, melainkan laknat bagi kaum perempuan. Di dunia jadi pelayan, di akhirat pun bernasib sama.

Rasa-rasanya setelah pengajian, rekan-rekan NA tidak langsung mempraktekkan ceramah yang disampaikan. Malah semakin geram dan kepekso nrimo ing pandum. Tidak sedikit rekan-rekan yang  protes kepada sang ustadz saat kajian berlangsung. Rekan-rekan NA desa saya memang terbilang kewanen dan nyeleneh. Sehingga ketika ada ustadz yang matur sering dibenyoli dan diprotes dengan sedikit guyonan.

Penjelasan ustadz dan dosen di atas, sangatlah tidak peka, tidak adil, tidak merasa, tidak imbang, dan malah membuat  minder para perempuan. Suatu penafsiran yang laki-laki banget. Yang menguntungkan keinginan laki-laki, harapan sekaligus tujuan.

Bagaimana dengan Perempuan?

Persis 15 abad yang lalu, pada masa Nabi SAW masih hidup, ketika ayat-ayat al-Qur’an masih diturunkan, kegelisahan serupa pernah disuarakan para Sahabat perempuan. Seperti Ummu Salamah, Nusaibah binti Ka’ab,  Asma’ binti Umais dalam Fath Al Qadir yang datang mengadu kepada Nabi SAW. “Wahai rasul, mengapa kiprah kami (para perempuan) tidak diapresiasi al-Qur’an sebagaimana laki-laki? Sepertinya segala sesuatu hanya untuk laki-laki, saya tidak melihat sama sekali perempuan disinggung di dalam al-Qur’an”.

Kisah ini didokumentasikan dalam kitab-kitab tafsir sebagai asbabun nuzul dari ayat-ayat apresiatif kerja-kerja perempuan,  seperti dalam surah An-Nisaa’ ayat 124 yang artinya:

Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki dan perempuan, dan dia beriman, maka mereka semua akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun”.

Di dalam surah lain seperti dalam surah Mu’min ayat 40 juga dijelaskan,

“Dan barangsiapa berbuat keburukan, maka ia tidak akan dibalas kecuali yang sebanding dengannya. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki atau perempuan dan dia beriman, maka mereka semua akan masuk surga dan mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa ada perhitungan.

Dalam Qira’ah Mubadalah, kalimat baik laki-laki maupun perempuan atau min dzakarin aw untsa, dalam surah Ali-Imran ayat 195 juga merupakan salah satu penegasan secara eksplisit yang sangat jelas dari al-Qur’an dalam memberikan kesempatan untuk perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa surga bukan milik laki-laki ataupun milik perempuan saja. Namun surga milik mereka yang amal perbuatannya baik, tanpa memandang status sosial dan jenis kelamin. Dalam redaksi surah Ali-Imran 195, disebutkan bahwa keimanan, hijrah, jihad seseorang akan diapresiasi Allah swt., tanpa memandang jenis kelamin.

Dengan demikian, kegelisahan perempuan pada masa Nabi SAW. terjawab oleh adanya al-Qur’an. Sejumlah ayat menjelaskan bahwa subjek laki-laki dan perempuan adalah setara. Lalu bagaimana dengan kegelisahan perempuan saat ini? Apakah saat ini surga masih dikapling oleh laki-laki saja?

Tentu tidak demikian. Bahwasannya dengan penjelasan ayat al-Qur’an di atas memberikan pencerahan bagi saya dan Anda, tentang surga adalah milik bersama. Milik orang-orang yang amal perbuatannya baik, yang mau berkiprah untuk umat dalam bidang apapun. Bukan hanya laki-laki saja yang berhak menempati kerajaan dunia lagi kerajaan akhirat.

Wallahu a’lam

Penulis: Ageni Trifi Kasih

Editor: Halimah