Beberapa hari yang lalu, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan pemberitaan yang untuk kesekian kalinya datang dari dalam istana. Tetapi kali ini bukan lagi soal buzzer istana yang pastinya sudah terbukti tidak cerdas alih-alih elegan. Pemberitaan kali ini datang dari orang nomor satu di Indonesia. Ya, tepat sekali. Ialah presiden kita, Joko Widodo.

Ledakan Amarah Jokowi

Informasi mengenai ini awalnya didapatkan dari video berjudul Arahan Tegas Presiden Jokowi pada Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara, 18 Juni 2020”. Video ini diunggah oleh akun Sekretariat Presiden di kanal Youtube, yang berdurasi 10 menit lewat 20 detik.

 Secara garis besar isi video ini menggambarkan bagaimana Presiden Joko Widodo dengan raut marah dilengkapi ekspresi gusarnya sambil mengerutkan dahi, sedang mengucap kalimat-kalimat yang saya yakin membuat kaki para Menteri yang dengar ingin cepat-cepat beranjak keluar istana. Mungkin sembari berharap bisa mendengarkan ledakan Pak Jokowi lewat youtube saja.

Beberapa kalimat Pakde Jokowi berbunyi seperti ini:

“Kita harus ngerti ini, jangan biasa-biasa saja, jangan linier, jangan mengganggap ini normal. Bahaya sekali kita, saya melihat masih banyak dari kita mengganggap ini normal.”

“Kerja masih biasa-biasa saja, ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extraordinary,”

Beberapa kalimat ini tentunya merujuk ke pembantu-pembantu Presiden Jokowi yang masih bersikap biasa saja di tengah krisis kesehatan dan krisis ekonomi yang dialami oleh Indonesia. Banyak netizen meyakini bahwa yang paling disinggung oleh pesan Presiden Jokowi adalah Menteri Kesehatan, Terawan Agus Petranto.

Bagaimana tidak, salah satu isi pesan yang dikatakan Presiden Jokowi langsung merujuk ke bidang tempat Terawan bertugas yakni bidang kesehatan. Jokowi dengan tegas memberikan contoh kebijakan yang ‘biasa-biasa saja’ khususnya belanja kementrian kesehatan.

Presiden Jokowi mengatakan, kalau anggaran pemerintah di bidang kesehatan berjumlah total 75 triliun, tetapi baru keluar sekitar 1, 53% . Ini membuat Presiden Jokowi menginginkan dana selain dari 1,53% tersebut diperuntukan masyarakat. Misalnya, pemberian tunjangan dokter, tenaga medis rumah sakit, dan pembelian peralatan-peralatan.

Ditujukan untuk Diri Sendiri

Saya pribadi tidak sepakat jika masyarakat menyimpulkan bahwa isi arahan presiden Jokowi itu ditujukan untuk para pembantunya. Apalagi jika hanya dikhususkan ke Menteri Kesehatan Terawan. Saya tidak sepakat bukan karena persoalan uang senilai 75 Triliun itu tidak sepenuhnya dikelola oleh Kementerian Kesehatan seperti pembelaan dari anggota Komisi X DPR RI Felly Estelit. Tetapi di luar dari itu, asumsi subjektif saya mengatakan bahwa kemarahan Presiden Jokowi saat rapat kabinet sebenarnya ditujukan hanya untuk “dirinya sendiri”.

Begini alasan sederhananya, kan saat penunjukkan pemilihan para Menteri, Presiden Joko Widodo mendapatkan haknya untuk memilih pembantunya nanti. Walaupun mungkin saja saat pemilihan para menteri banyak intervensi yang dilakukan para elit partai yang menginginkan kadernya menjadi menteri, tetapi di balik itu tetap saja Presiden Jokowi-lah yang punya hak penuh untuk memilih.

Dan mungkin saja saat Presiden Jokowi memberikan arahan di rapat kabinet sambil marah-marah tersebut, dalam hati Pakde Jokowi terbesit kalimat seperti ini,

“Lah nyesel banget pilih menteri A, walaupun pendidikannya sangat tinggi apalagi lulusan luar negeri kebijakannya biasa-biasa saja” , atau “Buset males banget gue dulu dengerin katanya si B untuk ngangkat dia jadi menteri, katanya kaum milenial, dan punya beragam inovatif, tapi tau-taunya kebijakannya masih dalam corak sistem kapitalisme” atau yang lain “Waduh si mentri C ini kok banyak pernyataannya di depan publik yang rada-rada seksis yah”. Bisa jadi malah, “Ini si Mentri C, ngomongin investasi melulu mikirin kelas pekerja kapan?”

Meski semua kalimat tersebut hanyalah asumsi subjektif saya ketika membayangkan bagaimana rasanya memakai sepatu presiden kita, sepertinya sangat masuk akal kalau Pakde Jokowi memang sedang marah-marah sama dirinya sendiri. Kan dia yang memilih dan bertanggungjawab dengan pilihannya sendiri? Tapi hati ya mana tau….

Yang terpenting, akhirnya rakyat ndonesia tahu kalau Presiden mereka sangat pintar memilih kata-kata bak seorang penyair papan atas. Seperti kata beliau:

“Perasaan ini harus sama, perasaan ini tolong sama, kita harus sama perasaannya, kalau ada yang berbeda satu saja sudah berbahaya.”

Joko Widodo