Jika ada biskuit yang cocok digelari biskuit paling populer, maka Oreo harus berada di peringkat pertama. Minimal ya lima besar.

Gimana nggak, biskuit legendaris ini telah membuktikan eksistensinya selama bertahun-tahun di seluruh dunia dan sukses besar, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia sendiri Oreo termasuk biskuit yang digemari. Bahkan beberapa tahun lalu iklan Oreo juga sukses mendominasi layar televisi.

Salah satu hal yang paling ikonik dari Oreo di Indonesia adalah slogannya. Yaitu diputar, dijilat, dicelupin!

Dulu kita tahunya slogan itu mengarah kepada cara makan Oreo. Biskuit coklatnya diputar, krim vanilla dijilat, terus celupkan ke susu.

Tapi setelah 19 tahun hidup, saya menemukan sebuah hal lain dari slogan ini. Kayak ada filosofi yang Oreo coba sampaikan ke kita semua melalui slogan mereka. Berikut penjelasannya.

Hidup dan Waktu itu Gak Bisa Diputar

Kalau seandainya diberi satu permintaan untuk dikabulkan, maka saya akan memilih kekuatan menjelajahi hidup.

Pergi ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan saya dan berangkat ke masa depan untuk melihat hal-hal apa saja yang harus dilakukan kedepannya.

Tapi ya bagaimana, tidak mungkin hal itu terjadi. Kecuali kalau saya hidup di isekai. Sebagaimana slogan bait pertama, diputar.

Sepertinya kita semua pasti memiliki penyesalan di masa lalu. Mungkin pernah memilih jalan yang salah, menyakiti seseorang, merugikan banyak orang, atau bahkan saja berbuat tindak yang tidak pantas.

Karena itulah hidup kita sekarang terasa tidak nyaman. Bolehkah kita marah? Silahkan. Tapi ada satu hal yang harus kita terima, yaitu hidup dan waktu tak dapat diputar.

Kita tak bisa melompati waktu atau berharap sekuat-kuatnya akan kembali ke masa lalu. Nggak akan bisa! Sekalipun kita berdoa dengan kencang kepada Tuhan.

Lalu kita harus apa? Ya tidak ada. Sesuatu yang menjadi penyesalan di masa lalu, harus kita terima.

Kita harus belajar untuk menerima kenyataan yang telah terjadi sekarang. Lalu, marilah kita berfokus kepada masa depan dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

Tidak Semua Hal Bisa Kita Jilat Sesuka Hati

Eh tunggu, biar saya jelaskan dulu biar nggak ada miskomunikasi. Makna jilat disini itu bukan berarti benar-benar menjilat dengan lidah ya, melainkan lebih merujuk ke sesuatu yang kita rasakan dan inginkan.

Artinya, tidak semua hal di dunia bisa kita raih dan kita inginkan untuk terjadi. Kok kedengarannya seperti ungkapan yang pesimis ya?

Bukan! Justru inilah salah satu fakta hidup yang harus kita terima.

Mungkin kamu suka:   Mengenal Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)
-->

Saya yakin yang membaca pasti ingin menjadi sosok yang serba bisa. Sosok yang bisa mengecap seluruh bidang kehidupan.

Tapi bagaimanapun juga kita adalah manusia. Bukan wujud yang sempurna sebagaimana Nabi dan Rasul. Tuhan memberikan kita kelebihan, namun di sisi lain juga memberikan kekurangan.

Meskipun kata-kata ini terdengar simpel, tetapi masih banyak lho orang-orang yang enggan menerima kekurangannya dan tetap memaksakan diri untuk melakukannya.

Wahai sobat, kita hanyalah manusia. Ada kelebihan, ada kekurangan. Terimalah bahwa tidak semua hal yang kita ingin bisa kita dapatkan, namun bukan berarti kita menyerah.

Terus berjuang dan berusaha lalu persiapkan diri ketika menemukan kegagalan.

Dicelupin di Beberapa Kondisi itu Memang Tidak Menyenangkan

Mengulang dari bagian filosofi slogan kedua, sekali lagi tidak semual hal yang kita inginkan bisa terwujud.

Akan ada saat-saat dimana kita harus berada di kondisi yang tidak menyenangkan atau mudahnya dicelupin ke dalam hal yang tak kita inginkan.

Misalnya begini, Anda ingin lanjut kuliah S2 setelah tamat pendidikan sarjana. Namun karena masalah ekonomi, Anda terpaksa harus kerja serabutan dulu.

Itu pun belum tentu langsung dapat kerja. Pasti ada penolakan disana-disini. Menyenangkan? Tentu saja tidak. Lebih ke arah tersiksa.

Namun, ya begitulah hidup. Kita harus menjalaninya sesuai takaran kemampuan kita. Boleh kita memaksa diri, namun jangan sampai menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Kitalah yang bertanggungjawab kepada diri sendiri. Bahkan sampai saat di titik telah berkeluarga pun, kita tetap mengarahkan diri sendiri.

Kalau dipikir-pikir filosofi yang saya tuliskan disini kayaknya lebih mengarah ke ikhlas ya. Tapi tidak apa-apa. Memang ikhlas itu adalah salah satu hal yang sulit dan tak semua orang bisa melakukannya.

Harapannya dengan tulisan ini, pikiranmu bisa terbuka lebih luas dan belajar lagi untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sekarang, mari kita beli Oreo, eh.

Editor: Lail

Gambar: Pexels