“Kepada Laut, aku kabarkan, bahwa perjuanganmu telah usai. Beristirahatlah di antara air laut dan mata air kerinduan, Di antara air laut dan mata air kerinduan, sebuah negara demokrasi telah berdiri melalui perjuangan pergerakan mahasiswa, serupa denganmu. Dan kini, bangsa kita telah tanggal oleh kepalsuan pergerakan mahasiswa.”

Sebuah pesan kepada Biru Laut dan para rekannya yang tak pernah usang kisah perjuanganmu saat melawan kediktatoran Orde Baru. Meski kalian harus menukar hidupmu dengan derita.

Penderitaan yang terbentuk oleh rezim Orde Baru memang berat. Meski aku tak pernah hidup di masa kelam Orde Baru, namun saat membaca novel Laut Bercerita, aku bisa ikut merasakan penderitaan masyarakat marginal dan mahasiswa kritis saat menghadapi Orde Baru.

Betapa susahnya mahasiswa untuk membaca buku-buku kiri, apalagi buku karangan Pramoedya. Entah, seberapa takut pemerintah Orde Baru ketika masyarakatnya memiliki wawasan luas dan pemikiran kritis?

Hingga Laut dan para rekannya, harus bersembunyi untuk mendapatkan buku-buku karangan Pramoedya. Saking sulitnya, Laut dan rekannya harus menggandakannya dengan memakai mesin cetak, lalu membungkusnya dengan koran agar tidak terlihat oleh aparat.

Belum lagi perihal sulitnya melakukan diskusi.  Kisah tentang Winatra dan Wirasena yang harus bersembunyi saat diskusi, hingga harus memilih rumah di tempat terdalam, agar diskusi tidak bisa dipantau oleh para intel. Meski para mahasiswa mengalami kesulitan, tidak menyurutkan mahasiswa, seperti Laut dan para rekannya untuk tetap berdiskusi.

Mereka berdiskusi untuk menajamkan pikiran dengan saling bertukar pengetahuan dari hasil bacaan buku. Kemudian, mendiskusikan tentang pergerakan melawan rezim Orde Baru. Keringat akibat ruang pengap, bukan menjadi alasan bagi anggota Winatra dan Wirasena terus berdiskusi untuk menghasilkan gagasan ciamik. Gagasan yang nantinya berguna saat melakukan pergerakan menuntut kediktatoran dan kekejaman rezim Orde Baru.

Dan kepada Biru Laut, mengapa kawan-kawan kalian bisa begitu solid bergerak untuk membawa perubahan, meski terus dihantui oleh para aparat? Sungguh gerakan aksi Tanam Jagung di Belangguan, sebuah aksi heroik dan menawan. Para mahasiswa bergerak secara mantap, tanpa rasa gentar, meski para “lalat” terus membuntuti aksi kalian.

Namun, kebengisan para lalat, tidak ada apa-apanya dengan ketulusan kalian mendukung kaum tertindas. Hati masyarakat Belangguan sudah terluka, melihat tanahnya mengalami perebutan paksa oleh rezim Orde Baru. Meski ketulusan kalian untuk melakukan aksi protes dengan Tanam Jagung mengalami kegagalan.

Tetapi solidaritas masyarakat Belangguan melindungi kalian dari kejaran aparat, menjadi cermin jika mereka merasa bahagia. Bahagia karena di tengah masa kediktatoran, masih ada orang tulus yang melindungi kaum tertindas.

Kendat aksi Tanam Jagung mengalami kegagalan, tetapi Laut dan para rekannya, tetap melakukan aksi protes dengan mendatangi DPR. Meski mereka paham, menggugat ke DPR sama saja dengan perbuatan tidak berarti. Namun setidaknya, aksi Laut dan para rekannya di DPR, sebagai upaya menyambung kepedihan masyarakat Belangguan.

Sebuah aksi yang harus dibayar dengan mahal. Karena setelahnya, beberapa rekan, termasuk Laut harus mengalami penyiksaan oleh aparat setelah tertangkap di Terminal Bungurasih. Sebuah penyiksaan yang tidak sebanding, dengan penangkapan serta penyiksaan di markas Pasukan Elang. Sebuah markas yang menjadi saksi bisu, Laut dan beberapa rekannya, tertidur selamanya.

***

Jika Laut dan rekannya tertidur selamanya, tak mengapa. Perjuanganmu memang harus berakhir. Sudah banyak engkau mengorbankan air mata, darah, dan perasaan, hanya untuk membawa Indonesia lebih baik lagi. Dan semenjak kalian telah memejamkan mata, Indonesia sudah bisa berbenah menjadi lebih baik lagi.

Namun, tidak dengan mahasiswa sekarang. Di bawah rezim kuasa yang tidak terlalu diktator, justru mahasiswa mengalami krisis malas membaca. Di balik kebebasan untuk membaca semua jenis buku, baik buku kiri atau karya-karya Pramoedya, justru mahasiswa mengalami penurunan membaca.

Akibatnya, diskusi-diskusi menjadi tidak lagi hidup. Kampus sebagai ruang pemikiran dan gagasan, menjelma sebagai ruang pamer kekayaan dan gaya hidup. Diskusi mengalami kekeringan.

Sekalipun ada diskusi, para mahasiswa hanya membisu dengan mulut terbungkam. Keterbungkaman terjadi akibat ketiadaan pengetahuan dari bacaan. Meski ada yang berargumen, tetapi argumennya tidak lebih dari omong kosong. Sebab, berargumen hanya untuk pamer dengan berbicara ngalor ngidul.

Kepada Laut dan para rekannya yang berada di dalam laut, apakah kalian merasa miris menyaksikan intelektualitas mahasiswa sekarang?

Tunggu sebentar. Ada yang lebih miris lagi. Saat ini, gerakan mahasiswa tidak lebih sebagai panggung untuk mencari popularitas. Tidak jarang mahasiswa turun ke jalan, hanya untuk berfoto dengan menenteng tulisan-tulisan orasi di kertas karton. Setelah berfoto, mereka mengunggahnya di media sosial.

Belum lagi, mahasiswa yang menjadikan pergerakan sebagai panggung untuk mendapatkan suara di pentas politik kampus atau pemira. Ketika mereka memiliki kemampuan memimpin pergerakan, justru menjadi medium agar meningkatkan kredibilitas di kampusnya. Saya menjadi bertanya, sebenarnya pergerakan mahasiswa bertujuan untuk mengubah realitas sosial atau sebagai mobilitas status sosial?

Kepada Laut dan para rekannya yang berada di dalam laut, apakah kalian menjadi bertambah miris menyaksikan sikap mahasiswa sekarang?

Sebentar. Ada lagi yang lebih mengiris hati. Saat ini, sesama mahasiswa saling adu jotos. Semuanya terjadi akibat ada perbedaan pandangan saat pelaksanaan politik kampus. Jika kalian dijotos oleh aparat, saat ini justru sesama mahasiswa saling jotos. Tidak peduli lagi bahwa sebenarnya mereka juga rekan mahasiswa di kampusnya.

Kepada Laut dan para rekannya yang berada di dalam laut, apakah kalian semakin miris menyaksikan keberingasan mahasiswa sekarang?

Karenanya, beristirahatlah bersama laut biru dan ketulusan ikan-ikan menemani kalian. Sikap mahasiswa sekarang, akan membuat kalian yang terbunuh, lebih pedih daripada menyaksikan pengkhianatan Gusti. Sikap mahasiswa sekarang, tak seindah biru laut; rumah kalian beristirahat dari kebengisan dunia.

***

Dan kepada Leila S. Chudori selaku penulis Laut Bercerita, saya berterimakasih telah menyajikan novel luar biasa. Sebuah novel yang menguras emosi dengan bahasa dan adegan yang membuat emosional. Meski engkau menuliskannya dengan cara yang tidak memberikan keterkejutan. Sebab, sejak awal, akhir cerita sudah bisa terprediksi.

Meski demikian, tulisanmu akan menjadi secercah cahaya di bawah kelamnya sikap mahasiswa saat ini. Sebuah cahaya yang mungkin bisa melahirkan mahasiswa seperti Laut dan para rekannya berkali-kali. Semoga.

Buku: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Terbitan: KPG, 2021

#LombaResensiMilenialis.id

Editor: Ciqa

Gambar: Google