Kegiatan ospek mahasiswa seringkali menjadi momok bagi para mahasiswa baru dimana cerita turun-temurun yang tersebar di luar sana lebih banyak memberikan gambaran negatif daripada gambaran positif untuk maba yang polos ini. Bayang-bayang bentuk kegiatan lawas yang lebih mengarah ke perpeloncoan menjadi hal yang ditakuti.

Sebenarnya di zaman modern seperti ini, sudah banyak kampus yang melarang kegiatan semacam itu dan lebih menitik beratkan untuk membuat kegiatan yang lebih memberikan kebermanfaatan kepada para mahasiswa baru. Namun, tetap saja masih ada juga “oknum” mahasiswa senior yang mungkin masih terbawa dendam kesumat terhadap apa yang dilakukan kepada mereka dan menganggap hal seperti ini masih perlu diturunkan ke adik tingkat mereka.

Tentu saja pikiran semacam itu hanyalah lingkaran setan yang tidak akan ada ujungnya jika diteruskan. Oleh karena itu, rasa dendam dan kegiatan perpeloncoan seperti ini memang perlu dihentikan dan kalau bukan dari kita, mau nunggu siapa lagi? Seiring berkembanganya zaman, kebutuhan skill yang harus dimiliki agar bisa tetap survive di dunia kerja pun semakin beragam. Nah, daripada memperpanjang siklus kebencian yang tak kunjung usai, ada baiknya kita mengisi kegiatan ospek dengan materi yang lebih relevan di era sekarang. Iya, kan?~

Plagiarisme dan Hak Cipta

Isu mengenai plagiarisme dan hak cipta sepertinya masih belum terlalu dianggap penting di Indonesia. Padahal, di era digital seperti sekarang kita perlu lebih aware terhadap isu ini, terlebih sekarang banyak pekerjaan yang bersingunggan langsung dengan hal semacam ini. Jangan sampai kita dengan entengnya menggunakan atau memanfaatkan hasil jeripayah orang lain untuk kepentingan kita sendiri.

Nggak usah jauh-jauh deh, simpang siur mengenai konten cover lagu saja sampai saat ini masih menjadi tanda tanya di berbagai kalangan. Padahal, sudah sewajarnya sang pembuat lagu melindungi hasil karya miliknya agar tidak digunakan orang lain secara cuma-cuma, apalagi sampai dimonetisasi. Yang capek bikin siapa, yang untung siapa~

Untuk itu, isu semacam ini perlu ditanamkan ke para mahasiswa agar nantinya kita lebih menghargai hak milik orang lain termasuk kutipan secuil apapun juga harus disertakan sitasinya sebagai bentuk penghargaan terhadap buah pikiran orang tersebut.

Personal Branding

Frasa ini sepertinya sudah sering bersliweran di luar sana. Ya, memang kenyataannya saat ini personal branding menjadi hal yang cukup esensial. Kita perlu melakukan setting bagaimana kita menginginkan orang lain saat melihat kita. Tentunya branding yang kita lakukan harus sesuai dengan apa yang ingin kita tuju.

Misalnya kita pengin menjadi seorang pembuat web di masa depan, maka kita perlu memilah dan memilih apa saja hal yang sekiranya relevan dan menunjang kita untuk meraih tujuan tersebut. Bisa dengan rutin mengikuti kelas pemrograman dan membagikan pengalaman tersebut, atau bisa juga dengan aktif di komunitas yang memiliki koneksi terhadap hal-hal semacam itu. Jangan sampai dengan tujuan seperti itu, kita malah membagikan cerita atau melakukan setting terhadap diri kita ke arah yang semakin menjauhi tujuan tersebut.

Oleh karena itu, pelajaran seperti menyusun personal branding sangat dibutuhkan di era sekarang bisa melalui aplikasi LinkedIn atau menyusun CV dasar. Pengetahuan semacam inilah yang tidak diajarkan secara langsung di perkuliahan, namun sebenarnya cukup penting untuk dipelajari. Terlebih lagi, mahasiswa seringkali sudah dicekoki untuk mengikuti banyak organisasi mahasiswa, kegiatan di luar kuliah, proyek dosen, dll. Nah, untuk itu kita perlu lebih bijak dalam memilih kegiatan di luar perkuliahan agar setidaknya bisa membantu kita dalam hal track record. Ha nek pengin dadi arsitektur handal, tapi isi CV hanya dipenuhi UKM yang kurang relevan yo jadinya agak piye ngono. Bisa sih, cuma kurang mashok aja~

Pelatihan Media

Kembali harus saya sebut berkali-kali, saat ini kita telah memasuki era digital. Bukan era yang mengharuskan kita ditempa secara mental dan membanding-bandingkan dengan kerasnya zaman dulu. Memang mental menjadi salah satu aspek penting, tetapi saat ini cara lawas sudah kurang relevan lagi mas dan mbak senior sekalian, apalagi kemajuan teknologi sudah semakin ke depan. Masak masih mau stuck disitu-situ aja?~

Salah satu contohnya ya editing dan desain yang di era sekarang sudah menjadi skill wajib yang harus dimiliki. Kita nggak harus berada di taraf jago dalam memberikan efek atau transisi ini itu, tetapi paling nggak kita bisa menyusun presentasi yang menarik, membuat animasi ringan, hingga membuat desain grafis dasar pun sudah sangat lumayan. Paling nggak, jangan kopong-kopong banget, lah!

Pelatihan media secara dasar sepertinya sangat diperlukan oleh para mahasiswa baru agar nantinya kita sudah memiliki sedikit bekal untuk menunjang perkuliahan. Terlebih lagi, sekarang sudah banyak juga mahasiswa kreatif yang berkuliah sambil membuat konten-konten ringan. Siapa tahu, kita pun bisa ikut mencoba dan mengimplementasikan personal branding tadi melalui media yang berbeda. Ilmu dapet, koneksi dapet, dan kita pun berkesempatan untuk dikenal banyak. Tentunya hal tersebut menjadi privilege yang cukup berharga.

Bagaimanapun, jalannya ospek dan materi apa yang ingin disampaikan menjadi hak dari panitia penyelenggara. Tapi, paling tidak beberapa alternatif yang sudah saya sebutkan tadi bisa menjadi referensi. Toh, sekarang sudah banyak kok kampus yang mengusung tema-tema tersebut termasuk kampus saya, hehe. Saya pikir, mater-materi tersebut juga lebih bermanfaat dan berguna bagi para maba ketimbang harus membuat berbagai macam atribut yang kurang relevan lagi. Bisa sih melatih mental, tapi bisa menumbuhkan perasaan dendam juga~

Editor: Nawa

Gambar: google.com