Sejak pembangunan sekolah besar-besaran di masa Soeharto, kini kita melihat rutinitas orang-orang pergi untuk belajar di bangku sekolah. Ya, walau hari-hari ini dunia pendidikan sedang bimbang, entah kapan pembelajaran secara normal dimulai.

Tidak Semua Orang Mampu dan Mau Sekolah

Banyak teman-teman yang tidak sanggup membayar kuliah karena masalah ekonomi. Sekalipun pemerintah menyediakan beasiswa berprestasi bagi yang tidak mampu, masalahnya banyak yang kemampuan akademiknya pas-pasan. Alhasil, motivasi kuliah juga turun. Mending kerja lalu menikah, simpel. Lagian, buat apa kuliah?

Beda Motivasi

Saya ingat ketika minggu pertama kami ospek, ketika diadakan acara seremonial di Graha kampus, banyak orang yang ditanya mengenai motivasi kenapa ingin kuliah.

“Apa sih motivasi kalian masuk kuliah?” tanya kakak tingkat;

“Siapa yang kuliah karena disuruh orang tua?” lanjutnya tanya dengan lantang;

“Siapa yang kuliah karena ingin mendapat kerja?”

“Siapa yang ingin kuliah karena mencari Ilmu?”

Tiga pertanyaan mendasar, meski sebenarnya ini hanya semacam basa-basi dari kakak tingkat untuk mengulur waktu. Namun yang mereka tanyakan sebenarnya menetukan perilaku selama kuliah empat tahun ke depan.

Pertnyaan pertama, ada saja yang menunjukkan jari. Motivasi kuliah sangat rendah. Orang yang hanya disuruh tanpa tau alasan cenderung tidak memiliki pendirian. Orang yang mudah larut dalam suasana, ini motiviasi yang rendah. Meski saya berharap seiring berjalannya perkuliahan motivasinya berubah.

Pertanyaan kedua, semakin banyak lagi. Memang tidak ada salahnya kuliah untuk kerja, namun motivasi ini masih dirasa kurang. Meski jika dibanding dengan yang pertama, motivasi semacam ini lebih baik dan cukup realistis.

Pertanyaan ketiga, tentu saya memilih yang satu ini. Ternyata memang ini yang paling banyak. Apalagi jika bukan ilmu yang dicari selama kuliah? Motivasi ini lebih ideal jika dibanding dua lainnya. Balai perkuliahan sudah sewajarnya menyediakan lautan ilmu, hingga membuat kenyang mahasiswanya. Saya bertekat untuk memegang motivasi ini.

Selama tiga tahun ternyata ekspetasi yang ada di benak tidak sejalan dengan realita. Nyatanya, kuliah cenderung pragmatis. Semester awal cukup menikmati dengan sajian teori yang menarik. Mata kuliah teologi, filsafat, logika, sampai ‘ulumul Quran menstimulasi otak saya. Mata kuliah yang baru dan tidak pernah ditemui semasa SMA.

Menjelang semester akhir, mata kuliah semakin berorientasi pada pekerjaan. Tidak ada salahnya, toh juga butuh karena memang saya juga akan bekerja. Orientasi pragmatis semacam ini membuat mahasiswa juga terbawa suasana. Yang ada di benak mereka kerja! kerja! kerja!. Sekali lagi ini tidak salah, namun perlu dikoreksi.

Buat Apa Kuliah?

Mahasiswa lama-lama melupakan tujuan mencari ilmu, lalu beralih ke arah yang lebih pragmatis, mecari pekerjaan. Akbitanya, nilai lebih menjanjikan untuk dikejar ketimbang ilmu, toh, katanya syarat adminstrasi untuk mecari pekerjaan adalah Indek Prestasi (IP) yang tinggi. Konon, semakin tinggi nilainya semakin mudah lolos seleksi administrasi.

Namun mental tidak cukup kuat, semua ingin serba instan. Mengidam-idamkan nilai tinggi namun tidak mau susah. Dosen dengan nilai yang longgar menjadi idola. Kalau perlu tulis saja di kertas mau nilai berapa, nanti dikasih sesuai perintaan.

Emang ada? Ada. Lha wong saya mengalami. Selama perkuliahan dosen jarang masuk. Hanya selang-seling, hari ini masuk besok tidak. Materi tidak ada. Alasanya; “ini teori sudah lama, tahun 90-an, kalau aku kasih ke kalian mana bisa diterapkan?”

Saat itu mata kuliah kewirausahaan. Mata kuliah yang cenderung banyak praktik ketimbang teori. Toh, apa salahnya juga menyampaikan, minimal untuk sekedar wawasan. Bukankah wirausaha dituntut punya wawasan yang luas. Lagian, kalau memang teori dirasa terlalu using, kenapa tidak dibuat saja diskursus, menelaah berbagi teori, mahasiswa disuruh saja cari teori terbaru atau paling tidak cari pendapat para praktisi, lalu didiskusikan. Itu cara yang mudah, dosen tinggal mendengarkan saja kalau memang tidak mau repot ngajar. Simpel.

Apalagi dosen tidak pernah masuk, sekali masuk menyodorkan buku absensi yang masih kosong, lalu mahsiswa disuruhnya mengisi kolom tanda tangan sampai habis, padahal perkuliahan tidak pernah ada. Sebut saja ini perkuliahan gaib, dosennya pun juga gaib, mahasiswanya hantu.

Itu sedikit dari banyak keresahan saya. Sampai di semester tiga membuat saya berfikir untuk cuti, lalu pindah ke kampus yang iklim akademisnya lebih baik. Tekanan semacam ini membuat saya sempat stres kuliah, sekali lagi, membuat saya pingin berhenti. Sebab saya pikir sia-sia. Toh saya tidak banyak mendapat ilmu di sini. Masa-masa itu mungkin disebut quarter life crisis.

***

Sekarang saya sudah kuliah delapan semester. Empat tahun berlalu, saya sudah mengalami banyak kekecewaan di lingkungan akademis saya. Walau di akhir perkuliahan ini baru mendapat tempat untuk berkembang. Sedikit terlambat, tapi bukan itu poinnya.

Saya hanya ingin menyampaikan ke adik-adik yang mau kuliah. Tanyakan niat awal kuliah kalian untuk apa? Membahagiakan orang tua? Itu mulia. Mendapat pekerjaan? Itu realistis. Namun ada yang lebih penting dari dua itu; mendapat ilmu, ilmu, dan ilmu.

Apa guna nilai tinggi-tinggi tanpa sebuah proses, perjuangan dan pengorbanan. Nilia hanya akan menjadi angka di rapor, yang tanpa dibarengi ilmu menjadi sebuah kesia-siaan. Mungkin ini juga yang dimaksud oleh Widji Thukul dalam sajaknya:

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, kalau hanya untuk mengibuli”

Widji Thukul

Bukan siapa-siapa yang dikibuli melainkan diri sendiri. Terkibuli oleh buaian sederat nilai A di rapor namun luput akan esensinya, ilmu. 

Lalu setelah lulus gila hormat, gila uang, dan yang paling parah mengibuli orang sekitar; berlaku tidak adil. Apa itu mahasiswa yang diinginkan orang tua?

***

Ahhh ini hanya nasihat dari mahasiswa lanjut usia hehehe

Penulis: Dhima Wahyu Sejati

Penyunting: Aunillah Ahmad