Kita mungkin senang, 1 Mei ini ada tanggal merah. Lumayan, libur sebentar. Hari buruh judulnya.

Tapi agak heran nggak, sih, mengapa hari buruh sampai dijadikan hari libur? Bahkan banyak negara di dunia juga menjadikan hari buruh sebagai hari libur.

1 Mei 1886 jadi momen bersejarah di Amerika Serikat. 400 ribu buruh menuntut pengurangan jam kerja, dari 12 jam jadi 8 jam per hari. Betul, 8 jam kerja yang kita kenal sekarang itu berawal dari peristiwa tersebut.

Jangan salah, tuntutan di negeri Paman Sam itu berjalan empat hari, sampai tanggal 4 Mei 1886. Di akhir peristiwa bahkan polisi yang bertindak represif menembaki pengunjuk rasa secara membabi-buta. Membunuh ratusan orang, seram, kan?

Tetapi efeknya nggak main-main. Pada tahun 1889, tuntutan 8 jam kerja per hari jadi seruan internasional. Seruan ini diinisiasi oleh Konferensi Sosialis Internasional di Paris, Prancis sekaligus menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.

Setelahnya, perusahaan otomotif Ford jadi yang pertama memenuhi tuntutan ini. Terbukti, produktivitas kerja justru meningkat dengan pengurangan jam kerja. Jadi, nggak hanya memanusiakan manusia, tapi pengurangan jam kerja juga membawa keuntungan buat penyedia kerja.

Perlahan-lahan perusahaan lain menyusul menerapkan kebijakan 8 jam kerja, deh. Amerika Serikat sendiri menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional pada tahun 1894.

Di Indonesia sendiri, 1 Mei 1918 jadi momen pertama menuntut kenaikan gaji buruh. Namun aksi besar untuk tuntutan kenaikan gaji baru dilakukan pada 1 Mei 1923 ketika buruh kereta api melakukan pemogokan.

Pemogokan ini berjalan lebih dari 20 hari. Walaupun nggak berhasil, tapi terus jadi aksi yang konsisten setelahnya untuk menentang kolonialisme keadilan bagi buruh. Sampai pada tahun 2014 ditetapkan bahwa 1 Mei adalah hari libur nasional. Hasil penerapan UU No. 14 tahun 1948 yang dilarang selama orde baru.

Hari buruh ternyata bukan sekadar hari libur. Hari ini penuh dengan sejarah perjuangan memanusiakan manusia, lewat perjuangan keadilan untuk buruh. Kelas pekerja di seantero dunia.

Penulis: Nabhan Mudrik