Aku punya kebiasaan yang mungkin kurang umum dilakukan orang lain, yaitu mengunyah es batu. Setiap aku selesai minum, sisa es batu nggak luput  aku kunyah hingga habis. Bahkan saking sukanya, aku punya guide tersendiri tentang es batu yang menurut aku enak; mulai dari bentuknya yang mudah dikunyah, teksturnya yang renyah, hingga seberapa kuat rasa ‘es’ yang es batu itu miliki. Buatku, sensasi mengunyah es itu menagihkan dan entah kenapa jadi semacam hiburan kecil setiap kali ada es tersisa di gelas.

Sekilas, kebiasaan ini terlihat sepele banget, “apa sih salahnya ngunyah es?” pikirku. Akan tetapi ternyata sesuatu yang kelihatan nggak berbahaya bisa juga jadi bumerang. Di situlah aku belajar, kadang hal-hal kecil yang kita abaikan justru diam-diam menyiapkan konsekuensi besar.

Suatu ketika, aku iseng pergi ke dokter gigi untuk cek rutin. Tentu sebenarnya aku tau kalau mengunyah es bukanlah kebiasaan baik. Tapi entah kenapa, aku tetap datang dengan pikiran yang santai, “kayaknya gigiku masih aman-aman aja, toh sejauh ini nggak ada keluhan yang serius.”

Bagai pahlawan yang datang di akhir, kesadaranku juga begitu. Dokter bilang ada beberapa bagian gigi yang harus mulai diperhatikan. Belum sampai tahap harus ditambal atau dirawat khusus, tapi sudah di posisi “lampu kuning” yang kalau nggak hati-hati bisa jadi masalah. Mendengarnya, aku cuma bisa nyengir kecut. Rasanya kayak ketahuan lagi menyimpan kebiasaan buruk yang sudah jelas-jelas punya risiko, tapi selama ini aku cuekin.

Belajar Mundur, Belajar Mindful

Momen itu jadi refleksi besar buatku. Bukan karena hasil pemeriksaannya, tapi karena untuk pertama kalinya aku membayar semuanya dengan gajiku sendiri atas konsekuensi dari kebiasaanku sendiri. Nggak lagi ada orang tua yang menanggung, nggak bisa lagi sembarangan minta tolong.

Ternyata kayak gini, rasa “nggak ada safety net” itu bikin semuanya terasa lebih serius. Kalau sekadar kebiasaan kecil bisa bikin aku keluar biaya sendiri, gimana dengan pilihan-pilihan hidup yang lebih besar nanti? Pilihan terkait pasangan, karier, bahkan tentang prinsip hidup hingga kelak nanti.

Sejak pengalaman itu, aku jadi selalu berpikir lebih jauh. Kalau kebiasaan sekecil mengunyah es aja bisa membawa konsekuensi nyata, berarti ada banyak hal lain dalam hidup sehari-hari yang efeknya sama, cuma aku belum ngeh saja.

Aku mulai merasa setiap keputusan yang terlihat sepele sekalipun, butuh pertimbangan yang lebih matang. Untuk seseorang yang santai dan cenderung “let it flow”, hal ini jelas nggak mudah. Rasanya seperti harus mundur dulu, menata ulang cara pandang terhadap hidup. 

Sejak saat itu banyak pertanyaan yang lalu lalang di kepala: sebenarnya apa sih yang disebut pilihan hidup? Mana yang benar-benar perlu dijalani, mana yang sebaiknya dihindari? Dan yang sering bikin overthinking: gimana kalau pilihan yang aku jalani ternyata salah atau nggak cocok untukku?

Contoh paling sederhana adalah kebiasaan begadang karena membaca buku, yang efeknya nggak langsung kelihatan tapi bisa berujung panjang; badan capek, konsentrasi turun, pekerjaan jadi keteteran. Dari hal-hal kecil itu aku belajar, setiap keputusan ternyata seperti domino; sekali dijatuhkan, bisa merembet ke banyak hal lain. Di titik ini, aku merasa jadi dewasa itu bukan cuma soal “punya kebebasan memilih,” tapi juga soal siap menanggung akibat dari setiap pilihan.

Safety Net dan Merdeka

Ternyata inilah bagian paling nyata dari yang disebut adulting: hidup tanpa safety net. Waktu duduk di bangku sekolah sampai kuliah, ada perasaan aman karena selalu ada orang tua yang jadi penopang. Kalau tiba-tiba jatuh sakit, masih ada yang bantu bayar. Kalau uang bulanan habis, masih bisa minta tambahan.

Saat ini, situasinya berubah total. Semua keputusan, sekecil apapun, konsekuensinya balik ke diri sendiri. Itu yang bikin setiap pilihan terasa lebih berat.Mau beli barang lucu tapi nggak terlalu penting, harus dipikir dua kali. Mau nongkrong atau pesan makanan online terus-terusan, langsung ingat biaya listrik, biaya transportasi, atau tabungan darurat yang harus dipersiapkan.

Ada semacam rasa takut. Gimana kalau salah ambil langkah? Gimana kalau ternyata pilihanku bikin terjebak di situasi sulit, sementara nggak ada lagi yang bisa langsung menyelamatkan? Tapi di sisi lain, justru dari ketidaknyamanan itu aku belajar bahwa dewasa berarti punya kendali penuh atas hidupku sendiri, dan kendali itu datang berbarengan dengan tanggung jawab. Ternyata, nggak adanya safety net bisa jadi hal yang menakutkan sekaligus memerdekakan.

Es Batu sebagai Pengingat

Sejak itu aku mulai melihat kebiasaan sehari-hari dengan cara berbeda. Bukan cuma soal mengunyah es, tapi juga pola tidur, makanan, waktu senggang, sampai belanja kecil-kecilan. Dulu semua terasa rutinitas biasa, sekarang aku sadar tiap kebiasaan kecil bisa menumpuk jadi dampak besar.

Adulting ternyata bukan sekadar kerja dan bayar tagihan, tapi juga belajar mindful. Sadar pada tubuh, pikiran, dan pilihan sendiri. Dari hal-hal sepele itulah fondasi masa depan terbentuk.Sekarang aku jadi sering bertanya ketika dihadapkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sering aku lakukan; apakah kebiasaan ini bikin hidupku lebih baik atau justru sebaliknya?

Pertanyaan sederhana yang lahir dari es batu, tapi justru membuka jalan untuk memahami arti hidup dewasa untuk memperhatikan detail kecil yang diam-diam menentukan arah kita nanti. Siapa sangka, dari kebiasaan sederhana ngunyah es, aku belajar banyak hal tentang jadi dewasa. Es yang kelihatannya sepele ternyata bisa jadi pengingat bahwa nggak ada pilihan yang benar-benar tanpa konsekuensi. Sekarang setiap kali melihat es batu di gelas minum, aku jadi sedikit tersenyum, ingat bagaimana hal kecil bisa membawa pelajaran besar.

Mungkin beginilah hidup dewasa. Kadang pahit, kadang bikin ngilu, tapi selalu mengajarkan kita untuk lebih hati-hati menjaga diri. Dan kalau memang semua pilihan hidup kini ada di tanganku, aku ingin memastikan bahwa bahkan dari kebiasaan terkecil pun, aku sedang membangun arah yang lebih baik untuk masa depan.

Editor: Pratama

Gambar:  Canva by Esther Galván